Pos Kupang
Potensi Oke, Transportasi Merana (4)
Pos Kupang - Sabtu, 18 Agustus 2012 | 15:57 WITA
Share |
Kirbarkan-Bendera.jpg
POS KUPANG/MUHLIS AL ALAWI
KIBARKAN BENDERA--Pasukan pengibar bendera mengibarkan sang saka Merah Putih pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-67 di Lapangan Penfui, Jumat (17/8/2012) pagi.
POS KUPANG.COM -- HARI Jumat (10/8/2012) pukul 11.00 Wita, saya memacu sepeda motor menuju arah timur Kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur (Flotim). Lokasi tujuan saya adalah Koten, desa terpencil di ujung timur Pulau Flores, Tanjung Bunga. Desa itu sama sekali belum tersentuh sarana dan prasarana transportasi.

Untuk sampai ke desa itu harus berjalan kaki puluhan kilometer atau melalui jalur laut Flores. Begitu memasuki wilayah Waimana I, saya harus melintasi jalan yang penuh lubang. Aspal di jalan itu banyak yang terkelupas. Belum lagi abrasi laut yang mengikis badan jalan sehingga menimbulkan lubang yang menganga. Jika kurang hati-hati, kita bisa celaka. Untung saya ditemani Rebon, wartawan Tabloid Vista Nusa yang berpengalaman ke wilayah itu.

Teman saya ini menghafal betul lubang-lubang di sepanjang jalan itu. Namun terkadang kami terperosok masuk lubang karena lubangnya cukup banyak atau lubang baru yang belum diingat.

Tak terasa, Waimana I terlewati dan kami memasuki wilayah Desa Waimana II. Kondisi jalannya masih sama, bahkan lebih parah. Sepeda motor yang kami tumpangi terus melaju. Sepanjang jalan terlihat rimbunan pohon jambu mete, kakao, kelapa dan tanaman perkebunan lainnya. Terlihat ibu-ibu memetik buah jambu mete, memisahkan buah dan bijinya. Bijinya  (mentah) djual dengan harga Rp 10.000/kg, setengah kering Rp 20.000/kg dan kering total Rp 30.000/kg. Ada sejumlah tengkulak menumpang truk membeli langsung ke kebun-kebun. Tengkulak itu datang dari Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, kabupaten tetangga Flores Timur.

Di Waimana II juga memiliki potensi ikan yang luar biasa sehingga PT Primo Indo Ikan mendirikan pabrik pembekuan ikan tuna dan cakalang untuk diekspor ke Amerika, Thailand dan negara lainnya. Namun jalan ke wilayah ini memrihatinkan sehingga perlu perhatian khusus pemerintah.

Sambil mengamati potensi di pinggir kiri dan kanan jalan, tibalah kami di Waiklibang, Ibukota Kecamatan Tanjung Bunga. Di sini kami terobati dengan jalan hotmix sekitar 2 km. Di sini pemukiman tertata rapi, air bersih melimpah, ada sebuah SMAN, kantor camat dan puskesmas. Signal handphone cukup bagus karena menerima pancaran dari Maumere dan Makassar. Peluang itu dimanfaatkan warga untuk membuka kios-kios penjualan pulsa.

Kami mengambil haluan kiri menuju Danau Asmara. Jalan menuju wilayah itu masih perkerasan sehingga kendaraan yang saya tumpangi oleng kiri dan kanan. Untuk menuju Koten saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 20 km melintasi jalan yang masih berserakan kerikil-kerikil tajam.

Saat itu jam di HP saya menunjukkan pukul 16.30 Wita. Hati saya dig dag dug, apakah niat ke Koten kesampaian? Dengan penuh percaya diri saya dan teman itu terus melaju. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 17.30 Wita, saya belum juga menemukan Koten. Warga yang ditemui menyampaikan kalau ke Koten masih sekitar 10 km.

Kendaraan terus dilajukan dengan harapan bisa menemui desa terisolir yang belum tersentuh pembangunan hingga 67 tahun Indonesia merdeka. Namun, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Matahari sudah tenggelam, Koten belum kelihatan juga.

Akhirnya saya hanya bisa memasuki wilayah Desa Bahungga. Saya lalu mengamati Kampung Tobiwolong. Di kampung ini sedikit lebih maju dari Koten yang belum ada kendaraan. Namun sentuhan pembangunan belum merata. SD jauh, puskesmas jauh, transportasi masih merana. Sehari sekali truk kayu mengangkut penumpang dan barang ke Kota Larantuka.

Tarifnya lumayan Rp 30.000 sampai Rp 50.000/penumpang jika membawa barang. Maka petani wilayah itu yang menjual pisang, ubi kayu, kelapa dan kayu bakar harus berhari-hari berada di Pasar Baru Larantuka seperti Mama Yosefina.

Di desa ini potensi jambu mete luar biasa tapi tidak diimbangi SDM sehingga mudah  dipermainkan tengkulak. Masih banyak warga tinggal di gubuk reot dan masih banyak anak yang tidak tamat SD. (gerardus manyella/bersambung)

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang