67 Tahun Indonesia Merdeka
Selalejo Masih Terpenjara (1)
Tak terasa kemerdekaan Indonesia sudah memasuki usia yang ke- 67 tahun. Tapi kemerdekaan itu sepertinya hanya dirasakan oleh masyarakat
TATKALA bangsa ini sedang bersukacita menyambut ulang tahun kemerdekaan yang ke-67, sekelompok orang di sebuah desa terpencil nun jauh di Selatan Nagekeo sedang meratap karena terpenjara dan terisolasi di antara bukit dan lembah. Padahal mereka mempunyai cengkeh, mereka mempunyai kemiri, pala, pisang dan kakao.
Daerah nan subur itu tertinggal karena keterbatasan akses mereka terhadap dunia luar. Tak ada jalan yang membuka akses langsung daerah itu ke pusat desa dan pusat kecamatan. Jaringan telekomunikasi apalagi. Padahal mereka tinggal di negeri yang sudah merdeka 67 tahun lalu.
Menuju pusat desa saja di Pusu mereka harus berjalan kaki sembilan kilometer melalui jalan tikus. Sementara dari pusat desa ke pusat kecamatan di Mauponggo, mereka harus melintasi wilayah dua kecamatan, yaitu Kecamatan Nangaroro dan Kecamatan Boawae dengan jarak tempuh sekitar 40 kilometer. Padahal kalau ada jalan yang membuka akses langsung Pusu-Maupunggo, jarak yang ditempuh hanya 17 kilometer.
"Kami mau ke pusat desa di Pusu harus berjalan kaki sembilan kilometer karena belum ada jalan. Yang ada hanya jalan tikus. Mau ke Mauponggo juga sulit karena jalan sangat buruk," kata Mateus Mite, salah satu tokoh masyarakat di Selalejo, Sabtu (4/8/2012) lalu.
Mateus mengatakan, dengan keterbatasan akses ke pusat ekonomi dan pusat informasi, Selalejo seperti belum merdeka. Selalejo sebenarnya tidak sendiri. Masih ada Alorawe di Kecamatan Boawae dan Desa Wajomara di Kecamatan Keo Tengah yang juga mengalami nasib sama dengan Selalejo. Terisolir dan terpinggirkan.
Bahkan dua bulan lalu seorang ibu harus kehilangan bayi kembarnya hanya karena terlambat mendapat pertolongan dari tenaga medis.
Fransiskus Wasa, warga di desa tersebut mengungkapkan, keterbatasan infrastruktur jalan memaksa masyarakat harus menggotong ibu yang hendak melahirkan itu dengan berjalan kaki sekitar tiga kilometer ke desa tetangga dan menempuh perjalanan dengan ojek sekitar enam kilometer ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) terdekat.
Akibatnya, sampai di puskesmas, petugas medis hanya mampu menyelamatkan sang ibu. Menurut warga setempat, kondisi seperti itu sudah berlangsung puluhan tahun. Namun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Bernadus Riwu, pamong Desa Selalejo mengungkapkan, warga Selalejo dan Selalejo Timur sudah terlalu lama menderita dan terkungkung dalam keterbatasan. Padahal kedua desa tersebut menyimpan potensi di bidang perkebunan dan pertanian. Sayang, komoditi unggulan seperti cengkeh, kemiri, kopi yang dihasilkan masyarakat di wilayah itu sulit dipasarkan keluar karena keterbatasan akses jalan.
***
KEPALA Desa Selalejo, Kristianus Muwa, mengatakan, ada beberapa kampung yang kondisinya sangat memrihatinkan seperti Maa, Reko, Mabhasele. Untuk mencapai pusat desa di Pusu mereka harus melewati Mauponggo, Raja di Kecamatan Boawae, Kota Keo di Kecamatan Nangaroro dengan biaya transportasi yang cukup mahal. Dari Kampung ke pusat desa, warga di kampung-kampung tersebut merogoh kocek sekitar Rp 75.000,00/orang. Padahal baru ke pusat desa. Akibatnya, banyak warga yang memilih tidak bepergian meskipun untuk urusan penting seperti raskin dan dokumen-dokumen penting lainnya.
Warga setempat mengaku selama raskin ada, hanya beberapa kali mereka mengambil raskin karena tidak mempunyai uang untuk biaya transportasi. Kalau ada uang, mereka enggan mengambil raskin karena biaya transportasi lebih mahal dari biaya untuk menebus raskin.
Pemerintah Kabupaten Nagekeo, pada tahun ini memang mulai menunjukkan perhatian terhadap daerah itu dengan meningkatkan kapasitas jalan berupa pemasangan rabat sepanjang satu kilometer dari Kali Lowo Ki, perbatasan Desa Kotagana menuju Mabhasele dan pembukaan jalan baru sepanjang delapan kilometer dari Mabhasele menuju pusat desa di Pusu dengan biaya dari program percepatan pembangunan pedesaan (P3D) senilai Rp 300 juta.
Namun Kristianus mengatakan, pembukaan jalan baru tersebut akan mubazir bila tidak diikuti dengan peningkatan jalan di Selalejo dan dan Selalejo Timur.
Wakil Bupati Nagekeo, Paulus Kadju, yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, persoalan jalan bukan hanya di Desa Selalejo tapi hampir terjadi di desa-desa lainnya di Nagekeo sehingga perbaikan dilakukan secara bertahap. (adiana ahmad/bersambung)