FCRT, Bercanda di Udara Bersua di Delta
Kesamaan terhadap acara-acara dalam siaran radio secara tidak langsung telah membangun emosi antara penyiar dengan pendengar
Dan, interaksi yang dibangun penyiar secara tidak sengaja juga ikut mendorong hubungan yang humanis antara sesama pendengar yang menjadi pendengar sebuah siaran radio. Inilah pula yang dilakukan para pendengar Radio Tirilolok FM.
Hampir 25 tahun mereka sering bercanda di udara dan saling mengirimi lagu, namun selama itu pula mereka tidak saling mengenal satu dengan lainnya. Mereka hanya mengenal suara dan nama-nama yang terkadang juga nama samaran untuk mengidentifikasi diri dan orang yang sama-sama pendengar.
Selama puluhan tahun sejak berdirinya stasiun radio ini, selama itu pula para pendengar setianya selalu rindu ingin bertemu satu dengan lainnya. Rasa rindu itu pula mendorong para penggemar radio ini bertemu dan membentuk komunitas pecinta Siaran Radio Tirilolok yang diberi nama Fans Club Radio Tirilolok.
Fr. Gusty Richano yang juga menjadi sekretaris komunitas ini mengatakan komunitas penggemar radio sudah ada sejak radio ini berdiri beberapa puluh tahun lalu. Namun, para penggemar ini hanya sebatas bertemu saat siaran. Seiring bertambahnya usia radio ini, semakin banyak pula penggemar. Dan, di antara para penggemar memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu. Dan, keinginan itu kini terwujud.
Kini mereka bisa saling canda di udara dan bersua di delta.
"Mereka hanya mendengar suara saja, tapi sebenarnya mereka bertemu sehingga dalam suatu acara, mereka bertemu dan dalam pertemuan itu mereka sepakat untuk membentuk komunitas. Jadi, ini di luar keinginan lembaga, semua merupakan inisiatif pedengar," jelas Frater yang dikenal dengan Frater Kiki ini.
Ia menjelaskan, komunitas ini resmi terbentuk pada 16 September 2011.
Saling Kunjung
Meski baru terbentuk, komunitas ini sudah memilih agenda tetap untuk menjalin persatuan dan persaudaraan sesama penggemar radio yang berada di kawasan Oepoi-Kupang ini. Dan, menurut rencana, para anggota komunitas dalam waktu dekat akan menggelar bakti sosial di masjid jelang perayaan Idul Fitri bagi kaum muslim di Kota Kupang.
"Komunitas ini pernah menggelar bakti sosoial penghijauan dan dan kegiatan lainnya. Dan, kini setiap bulan, para anggota ini telah sepakat membentuk kelompok arisan. "Jadi, pertemuan bisa tiap hari tapi di udara, dan pertemuan tatap muka sebulan sekali dalam bentuk arisan," jelas Fr. Kiki.
Jumlah anggota komunitas ini mencapai ratusan orang, namun yang tercatat dan aktif dalam kelompok arisan ada sekitar 56 orang. "Yang belum terdaftar juga akan mendaftar pada putaran arisan berikut," jelasnya.
Setelah komunitas ini terbentuk, sesama anggota mulai saling peduli. Tak heran bila mereka saling mengunjungi satu dengan lainnya. "Kalau ada yang sakit, pasti anggota lain mengunjungi. Jadi mereka sudah seperti saudara," jelasnya.
Fr. Kiki menjelaskan, meski secara kelembagaan, radio ini berada dalam Keuskupan Agung Kupang, namun para anggota komunitas tidak semua beragama katolik. Hampir semua agama diterima dan menyatu dalam komunitas ini yaitu Katolik, Protestan, Islam dan lainnya. Dan, keanggotaan ini juga tidak sebatas pada etnis tertentu. Semuanya bisa bergabung.
"Kita tidak mengenal batasan-batasan. Jadi, yang menyukai siaran Tirilolok bisa bergabung dalam komunitas ini. Semua anggota sama, baik itu orangtua maupun anak muda, kita bersatu. Di sini semua kita adalah keluarga besar. Dan, semua sekat-sekat perbedaan itu ditinggalkan," jelasnya. (alf)