Surat Tengah Hujan
Pos Kupang - Minggu, 29 Juli 2012 | 21:01 WITA

Net
Cerpen Lylaa Ve *
SELALU demikian di bulan Januari ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Ya. Pukul 11 malam lebih. Hujan seperti sedang mengadakan perlombaan, siapa yang menyentuh permukaan bumi terlebih dahulu adalah pemenangnya.
Aku duduk sendirian sambil mendengarkan rinai hujan yang mulai menderas dengan anggunnya diiringi nyanyian kodok yang menambah suasana hujan di malam hari ini.
Aku ingat kamu. Aku suka hujan. Apalagi di malam ini. Memang suhunya sangat dingin tapi dapat memberikan aku inspirasi untuk terus berpikir. Berpikir tentang dirimu. Bahkan juga menulis puisi ataupun surat buatmu dalam suasana hujan. Kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor.
Aku rindu suaramu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, sederhana dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dan bahkan terluka dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam SMS yang kukirimkan tempo itu. Masih sangat teringat jelas saat itu, di mana telah kukabarkan keberhentianku untuk mengejar cintamu itu.
* * *
"Gisel, aku memang mencintaimu. Kau tahu itu. Tetapi, kenapa kamu tak pernah menanggapinya? Oke, baiklah. Kalau begini terus, mulai saat ini aku akan berhenti untuk mengejar cintamu lagi."
"Apa maksud kamu, Verry? Kenapa kamu begini? Kamu aneh, Verry. Aku tak mengerti maksudmu."
"Kamu selalu acuh padaku. Setiap kali kuungkit masalah kita, kamu selalu menghindar."
"Verry, mengapa kamu begini? Please, Verry, jangan tinggalkan aku."
"Percuma saja, Gisel. Mungkin, setelah aku menyerah untuk mendapatkan cintamu, kamu pasti akan tertawa lepas. Karena sudah tidak ada lagi yang mengganggumu."
"Apa?! Tertawa lepas?! Kamu pikir aku tidak punya perasaan?! Please, Verry. Aku sebenarnya masih sayang kamu. Aku mohon jangan tinggalkan aku."
"Gisel, semuanya sudah terlambat. Aku tak mau terus-terus diombang-ambingkan dan digantung terus sama sifat acuhmu."
"Verry, ternyata perjuanganmu selama ini untuk mendapatkan cintaku hanya sampai di sini saja. Kamu harus ingat, bahwa aku masih sangat sayang sama kamu."
"Maaf, Gisel."
"Verry, hari ini kamu telah membuatku menangis kecewa untuk kedua kalinya. Kamu harus ingat itu!"
"Gisel, aku memang telah membuatmu menangis kecewa untuk kedua kalinya. Tetapi asal kamu tahu, apakah kamu berpikir bahwa aku tidak menangis sewatku berpisah denganmu tempo itu? Aku selalu berusaha menghilangkannya. Kamu tahu bahwa aku selalu berusaha untuk mendapatkan cintamu, tetapi kamu selalu acuh. Namun aku bersyukur, walaupun hanya tiga bulan tujuh belas hari enam belas jam tiga puluh menit dan empat pulu lima detik aku pernah memilikimu, semuanya telah berakhir."
"Oke, baiklah. Mulai sekarang akan kuhapus semua kenangan dan rasa sayangku padamu."
"Maaf, Gisel."
***
Aku tahu, kamu mungkin sangat kecewa dengan keputusanku, namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima kenyataan dalam hidup yang penuh ketakterdugaan.
Namun apakah kamu juga tahu bahwa aku sangat menyayangkan kejujuran tentang perasaanku padamu saat keputusanku untuk berhenti mengejar dan menggapai cintamu? Tapi tak apalah, aku memang sudah berpikir matang-matang dan siap menghadapi resikonya walaupun perih. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun karena kamu adalah cinta pertamaku.
Aku kesepian. Apa yang harus kulakukan untuk mengusir sepi ini? Oh ya. Aku membayangkanmu. Sosok yang baru lima kali kutemui. Dalam genggamanku ada foto yang kamu berikan kepadaku saat hari Valentine tahun lalu yang melengkapi imajinasiku. Seorang wanita berparas cantik dan menarik. Berambut panjang. Bermata indah.
Senyum menggetarkan. Sedang duduk manis di kursi plastik dengan anggunnya. Saat itu aku merasa bahwa diri kita ini bagaikan intan, perasaan kita adalah ikatan yang menonjolkan dan menyemarakkan warna sisa-sisa intan itu.
Hujan masih terus pada aktivitasnya. Kini aku kedinginan. Apakah di tempatmu juga sedang hujan? Kamu sedang apa? Duduk membungkus badang dengan jaket dan kain tebal? Ataukah sedang menulis puisi, cerpen atau surat?
Apakah kamu sedang membaca novel horor kesukaanmu? Ataukah kamu sedang melihat foto berukuran kecil yang kuberikan padamu tempo itu sambil mendengar lagu cinta dari handphone-mu? Atau jangan-jangan kamu sedang tertidur pulas? Hmm... ya. Kurasa kamu sedang tertidur pulas. Aku bisa merasakan dengusan nafasmu yang perlahan menyapa rasaku yang sedang sepi ini.
***
Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih terus menghantam ruang hati yang terdalam. Aku butuh kawan. Aku butuh cinta yang sanggup mengobati luka hatiku. Kamukah orangnya? Tidak. Kamu mungkin sudah berharap agar aku tidak hadir lagi di kehidupanmu. Semudah itukah hatimu tertutup rapat untukku?
Atau, kamu hanya ingin menguji ketangguhan hatiku? Apakah perkataanku dulu akan kutepati? Tidak, aku tak ingin berharap apa-apa darimu. Aku memang ingin kau, dan aku akan kembali seperti dulu. Namun kini aku hanya ingin menjadi sahabatmu. Sahabat biasa, bukan pacar. Tapi, jika takdir menginginkan agar kita kembali menyatu, aku pasti tak akan menolaknya. Aku percaya, orang yang kita cintai selalu mempunyai tempat khusus di hati kita. dan kamu punya tempat khusus di hatiku, walaupun sekarang telah kosong.
Aku berjanji. Tak akan ada yang mampu mengisi tempat ini. Meski aku ingin punya pacar, sebagaimana pria kebanyakan. Seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta sungguh-sungguh. Seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan ada apanya. Seseorang di mana aku bisa berbagi dunia dengannya. Naifkah?
***
Hujan telah berhenti. Namun kodok-kodok yang berderet di kolam ikan masih terus bernyanyi riang gembira. Indah sekali malam ini. Tanpa terasa sudah tengah malam. Aku sudah menghabiskan banyak waktuku bersama hujan dan imajinasiku tentang kamu. Aku mesti istirahat, banyak hal yang harus kulakukan di awal hariku esok.
Sebelum beristirahat, aku berdoa,
"Tuhan, jagalah selalu orang yang paling aku cintai dalam hidupku ini. Amin."
Sepoi Kupang, 1 Februari 2011, 01.00
*) San Juan Community, SMASSTRA
SELALU demikian di bulan Januari ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Ya. Pukul 11 malam lebih. Hujan seperti sedang mengadakan perlombaan, siapa yang menyentuh permukaan bumi terlebih dahulu adalah pemenangnya.
Aku duduk sendirian sambil mendengarkan rinai hujan yang mulai menderas dengan anggunnya diiringi nyanyian kodok yang menambah suasana hujan di malam hari ini.
Aku ingat kamu. Aku suka hujan. Apalagi di malam ini. Memang suhunya sangat dingin tapi dapat memberikan aku inspirasi untuk terus berpikir. Berpikir tentang dirimu. Bahkan juga menulis puisi ataupun surat buatmu dalam suasana hujan. Kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor.
Aku rindu suaramu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, sederhana dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dan bahkan terluka dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam SMS yang kukirimkan tempo itu. Masih sangat teringat jelas saat itu, di mana telah kukabarkan keberhentianku untuk mengejar cintamu itu.
* * *
"Gisel, aku memang mencintaimu. Kau tahu itu. Tetapi, kenapa kamu tak pernah menanggapinya? Oke, baiklah. Kalau begini terus, mulai saat ini aku akan berhenti untuk mengejar cintamu lagi."
"Apa maksud kamu, Verry? Kenapa kamu begini? Kamu aneh, Verry. Aku tak mengerti maksudmu."
"Kamu selalu acuh padaku. Setiap kali kuungkit masalah kita, kamu selalu menghindar."
"Verry, mengapa kamu begini? Please, Verry, jangan tinggalkan aku."
"Percuma saja, Gisel. Mungkin, setelah aku menyerah untuk mendapatkan cintamu, kamu pasti akan tertawa lepas. Karena sudah tidak ada lagi yang mengganggumu."
"Apa?! Tertawa lepas?! Kamu pikir aku tidak punya perasaan?! Please, Verry. Aku sebenarnya masih sayang kamu. Aku mohon jangan tinggalkan aku."
"Gisel, semuanya sudah terlambat. Aku tak mau terus-terus diombang-ambingkan dan digantung terus sama sifat acuhmu."
"Verry, ternyata perjuanganmu selama ini untuk mendapatkan cintaku hanya sampai di sini saja. Kamu harus ingat, bahwa aku masih sangat sayang sama kamu."
"Maaf, Gisel."
"Verry, hari ini kamu telah membuatku menangis kecewa untuk kedua kalinya. Kamu harus ingat itu!"
"Gisel, aku memang telah membuatmu menangis kecewa untuk kedua kalinya. Tetapi asal kamu tahu, apakah kamu berpikir bahwa aku tidak menangis sewatku berpisah denganmu tempo itu? Aku selalu berusaha menghilangkannya. Kamu tahu bahwa aku selalu berusaha untuk mendapatkan cintamu, tetapi kamu selalu acuh. Namun aku bersyukur, walaupun hanya tiga bulan tujuh belas hari enam belas jam tiga puluh menit dan empat pulu lima detik aku pernah memilikimu, semuanya telah berakhir."
"Oke, baiklah. Mulai sekarang akan kuhapus semua kenangan dan rasa sayangku padamu."
"Maaf, Gisel."
***
Aku tahu, kamu mungkin sangat kecewa dengan keputusanku, namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima kenyataan dalam hidup yang penuh ketakterdugaan.
Namun apakah kamu juga tahu bahwa aku sangat menyayangkan kejujuran tentang perasaanku padamu saat keputusanku untuk berhenti mengejar dan menggapai cintamu? Tapi tak apalah, aku memang sudah berpikir matang-matang dan siap menghadapi resikonya walaupun perih. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun karena kamu adalah cinta pertamaku.
Aku kesepian. Apa yang harus kulakukan untuk mengusir sepi ini? Oh ya. Aku membayangkanmu. Sosok yang baru lima kali kutemui. Dalam genggamanku ada foto yang kamu berikan kepadaku saat hari Valentine tahun lalu yang melengkapi imajinasiku. Seorang wanita berparas cantik dan menarik. Berambut panjang. Bermata indah.
Senyum menggetarkan. Sedang duduk manis di kursi plastik dengan anggunnya. Saat itu aku merasa bahwa diri kita ini bagaikan intan, perasaan kita adalah ikatan yang menonjolkan dan menyemarakkan warna sisa-sisa intan itu.
Hujan masih terus pada aktivitasnya. Kini aku kedinginan. Apakah di tempatmu juga sedang hujan? Kamu sedang apa? Duduk membungkus badang dengan jaket dan kain tebal? Ataukah sedang menulis puisi, cerpen atau surat?
Apakah kamu sedang membaca novel horor kesukaanmu? Ataukah kamu sedang melihat foto berukuran kecil yang kuberikan padamu tempo itu sambil mendengar lagu cinta dari handphone-mu? Atau jangan-jangan kamu sedang tertidur pulas? Hmm... ya. Kurasa kamu sedang tertidur pulas. Aku bisa merasakan dengusan nafasmu yang perlahan menyapa rasaku yang sedang sepi ini.
***
Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih terus menghantam ruang hati yang terdalam. Aku butuh kawan. Aku butuh cinta yang sanggup mengobati luka hatiku. Kamukah orangnya? Tidak. Kamu mungkin sudah berharap agar aku tidak hadir lagi di kehidupanmu. Semudah itukah hatimu tertutup rapat untukku?
Atau, kamu hanya ingin menguji ketangguhan hatiku? Apakah perkataanku dulu akan kutepati? Tidak, aku tak ingin berharap apa-apa darimu. Aku memang ingin kau, dan aku akan kembali seperti dulu. Namun kini aku hanya ingin menjadi sahabatmu. Sahabat biasa, bukan pacar. Tapi, jika takdir menginginkan agar kita kembali menyatu, aku pasti tak akan menolaknya. Aku percaya, orang yang kita cintai selalu mempunyai tempat khusus di hati kita. dan kamu punya tempat khusus di hatiku, walaupun sekarang telah kosong.
Aku berjanji. Tak akan ada yang mampu mengisi tempat ini. Meski aku ingin punya pacar, sebagaimana pria kebanyakan. Seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta sungguh-sungguh. Seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan ada apanya. Seseorang di mana aku bisa berbagi dunia dengannya. Naifkah?
***
Hujan telah berhenti. Namun kodok-kodok yang berderet di kolam ikan masih terus bernyanyi riang gembira. Indah sekali malam ini. Tanpa terasa sudah tengah malam. Aku sudah menghabiskan banyak waktuku bersama hujan dan imajinasiku tentang kamu. Aku mesti istirahat, banyak hal yang harus kulakukan di awal hariku esok.
Sebelum beristirahat, aku berdoa,
"Tuhan, jagalah selalu orang yang paling aku cintai dalam hidupku ini. Amin."
Sepoi Kupang, 1 Februari 2011, 01.00
*) San Juan Community, SMASSTRA
Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang