Surat Tengah Hujan
SELALU demikian di bulan Januari ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Ya. Pukul 11 malam lebih. Hujan seperti sedang mengadakan perlombaan
Cerpen Lylaa Ve *
SELALU demikian di bulan Januari ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Ya. Pukul 11 malam lebih. Hujan seperti sedang mengadakan perlombaan, siapa yang menyentuh permukaan bumi terlebih dahulu adalah pemenangnya.
Aku duduk sendirian sambil mendengarkan rinai hujan yang mulai menderas dengan anggunnya diiringi nyanyian kodok yang menambah suasana hujan di malam hari ini.
Aku ingat kamu. Aku suka hujan. Apalagi di malam ini. Memang suhunya sangat dingin tapi dapat memberikan aku inspirasi untuk terus berpikir. Berpikir tentang dirimu. Bahkan juga menulis puisi ataupun surat buatmu dalam suasana hujan. Kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor.
Aku rindu suaramu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, sederhana dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dan bahkan terluka dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam SMS yang kukirimkan tempo itu. Masih sangat teringat jelas saat itu, di mana telah kukabarkan keberhentianku untuk mengejar cintamu itu.
* * *
"Gisel, aku memang mencintaimu. Kau tahu itu. Tetapi, kenapa kamu tak pernah menanggapinya? Oke, baiklah. Kalau begini terus, mulai saat ini aku akan berhenti untuk mengejar cintamu lagi."
"Apa maksud kamu, Verry? Kenapa kamu begini? Kamu aneh, Verry. Aku tak mengerti maksudmu."
"Kamu selalu acuh padaku. Setiap kali kuungkit masalah kita, kamu selalu menghindar."
"Verry, mengapa kamu begini? Please, Verry, jangan tinggalkan aku."
"Percuma saja, Gisel. Mungkin, setelah aku menyerah untuk mendapatkan cintamu, kamu pasti akan tertawa lepas. Karena sudah tidak ada lagi yang mengganggumu."
"Apa?! Tertawa lepas?! Kamu pikir aku tidak punya perasaan?! Please, Verry. Aku sebenarnya masih sayang kamu. Aku mohon jangan tinggalkan aku."
"Gisel, semuanya sudah terlambat. Aku tak mau terus-terus diombang-ambingkan dan digantung terus sama sifat acuhmu."
"Verry, ternyata perjuanganmu selama ini untuk mendapatkan cintaku hanya sampai di sini saja. Kamu harus ingat, bahwa aku masih sangat sayang sama kamu."
"Maaf, Gisel."
"Verry, hari ini kamu telah membuatku menangis kecewa untuk kedua kalinya. Kamu harus ingat itu!"
"Gisel, aku memang telah membuatmu menangis kecewa untuk kedua kalinya. Tetapi asal kamu tahu, apakah kamu berpikir bahwa aku tidak menangis sewatku berpisah denganmu tempo itu? Aku selalu berusaha menghilangkannya. Kamu tahu bahwa aku selalu berusaha untuk mendapatkan cintamu, tetapi kamu selalu acuh. Namun aku bersyukur, walaupun hanya tiga bulan tujuh belas hari enam belas jam tiga puluh menit dan empat pulu lima detik aku pernah memilikimu, semuanya telah berakhir."
"Oke, baiklah. Mulai sekarang akan kuhapus semua kenangan dan rasa sayangku padamu."