Mengapa DeMAM Baru Diributkan?
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya, mengaku heran karena banyak kalangan baru meributkan program
Mengapa program DeMAM baru diributkan saat ini, sementara awal digulirkan tidak dipermasalahkan. "Pertanyaannya, mengapa baru sekarang ributnya? Padahal masyarakat sangat mendukung, bahkan berdasarkan pengakuan masyarakat, program ini sangat baik tapi dananya terlalu kecil. Apakah karena tahun 2013 mau Pilkada Gubernur (Pilgub) lalu program DeMAM ini diributkan," tanya Gubernur Lebu Raya ketika dialog dengan aparat pemerintah Kabupaten Belu, para camat, kepala desa sasaran Program DeMAM dan PKM di rumah jabatan Bupati Belu, Kamis (19/7/2012) malam.
Hadir saat itu, Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez; Wakil Ketua DPRD NTT, Nelson Matara, S.SoS; Wakil Ketua DPRD Belu, Magdalena Tiwu Samara; Wakil Ketua PN Atambua; Wakapolres Belu; dan sejumlah pejabat dari Pemprop NTT.
Gubernur Lebu Raya menjelaskan, pemerintahannya memiliki komitmen yang kuat untuk membantu masyarakat agar keluar dari masalah kemiskinan.
Terobosan yang dilakukannya adalah dengan program DeMAM dimana setiap desa sasaran dialokasikan dana senilai Rp 250 juta. Dari perkunjungan ke beberapa daerah sasaran program DeMAM, katanya, masyarakat dengan polos mendukung karena manfaatnya dirasakan langsung. Namun yang mengherankan, pada awal program ini diluncurkan, tidak pernah ada yang persoalkan dan baru saat ini diributkan.
"Kami melihat program ini lebih pada keberpihakan kepada rakyat. Idiologi kerakyatan. Pertanyaannya, kenapa sekarang ada yang khawatir dan baru mulai disoroti? Apakah karena mau pilkada gubernur. Bagi FREN, program ini bukan karena kepentingan pilkada tapi bertujuan untuk menurunkan angka kemiskinan, tercipta jiwa kewirausahaan dan rakyat dibuka akses usahanya," tegas Lebu Raya.
Menurutnya, berhasil atau tidaknya program DeMAM tidak bisa diukur dari satu dua ekor ternak mati lalu dianggap gagal. Kalaupun ada ternak yang mati itu sudah menjadi risiko alamiah dan warga akan berusaha untuk membelinya kembali. Untuk itu, katanya, jika ada yang menilai program ini gagal, maka perlu ada parameternya.
"Kami tidak alergi kritik. Justru dengan kritik, kita semakin memperbaiki jika masih ada yang kurang. Coba ditanyakan langsung kepada masyarakat penerima program DeMAM, apa jawaban mereka, apakah senang dengan program ini atau tidak," katanya.
Gubernur Lebu Raya meminta masyarakat penerima program DeMAM untuk tidak terpengaruh dengan kritikan yang disampaikan melalui media massa. Tetap bekerja untuk mewujudkan impian demi kesejahteraan keluarga. Saat ini, katanya, tim pemantau yang melibatkan para pihak, termasuk wartawan, melakukan pemantauan di lapangan sebelum ada tim khusus yang mengevaluasi program dimaksud.
"Kita tentu berharap program DeMAM ini terus berlanjut demi kesejahteraan masyarakat. Jika satu kelompok telah sukses, maka dana itu terus bergulir di desa itu. Masyarakat tentu terbantu karena belum tentu mendapat kredit modal usaha di bank bisa mencapai Rp 70 juta. Tapi melalui Program DeMAM, masyarakat bisa mendapatkan itu untuk membuka usahanya," tambah Gubernur Lebu Raya.
Sementara Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, mengapresiasi positif terhadap keberadaan program DeMAM. Namun, Bupati Lopez menyarankan agar pemerintah propinsi perlu memberikan pemahaman yang benar terhadap program ini agar masyarakat tidak acuh tak acuh.
"Sekarang ini banyak polemik di media massa soal program DeMAM. Hal ini tentu perlu dijelaskan secara baik kepada masyarakat agar program ini berjalan baik. Saya pribadi menilai program ini sangat positif untuk masyarakat dalam mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraannya," kata Bupati Lopez. (yon)