Rabu, 10 Juni 2026

Sonia Nubatonis, Warnai Dunia Anak

Dunia anak itu ibarat lembaran kosong yang harus dituangkan dengan cairan tinta berwarna-warni.

Tayang:
Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM -- Dunia anak itu ibarat lembaran kosong yang harus dituangkan dengan cairan tinta berwarna-warni. Bila dituangkan dengan warna yang tepat atau cocok, akan menghasilkan sebuah karya yang mengagumkan.

Sebaliknya, bila dituangkan dengan tinta warna seadanya, ataupun variasi warna yang tidak tepat, bisa membuat lembaran itu berakhir di tempat sampah.

Dunia anak itu, dunia yang penuh warna-warni, maka tuangkan tinta yang tepat untuk mengindahkannya. Itulah salah satu pandangan yang turut berpengaruh dengan minat dan niat seorang gadis manis ini. Sonia Magdalena Debora Nubatonis (22), itulah nama lengkapnya.

Dalam menyelesaikan tugas akhirnya di Undana Kupang  saat ini yaitu penelitian untuk skripsi, gadis yang biasa disapa Nia, ini memilih untuk melakukan penelitian berkaitan dengan studi analisis tentang makian dalam Bahasa Kupang dan efek negativ terhadap anak di bawah umur.

Mengapa, Nia meneliti dan menulis tentang itu. "Pada dasarnya karena saya sangat suka dengan anak-anak. Mungkin juga karena saya tidak punya adik dan sempat pingin punya adik, makanya saya suka dengan anak-anak.

Anak-anak itu jujur dan tanpa beban. Dunia anak itu dunia untuk bersenang-senang, sehingga kita harus bisa memberikan rasa senang  kepada mereka. Anak-anak itu ibarat kertas kosong dan orang tuanya harus memberikan warna. Kalau warnanya bagus anaknya akan menjadi baik, begitu pun sebaliknya.

Mau ke mana pun dan bagai mana pun arah hidup seseorang, dasarnya adalah saat dia masih menjadi seorang anak-anak," tutur anak kedua dari pasangan Carolus Nubatonis, dengan Ludgardis Koten, saat ditemui di Oesapa-Kupang, Senin
(16/7/2012).

Dengan demikian kata gadis kelahiran Kupang 30 Mei 1990 ini, dunia anak-anak itu harus dihargai oleh siapapun. Caranya adalah membuat anak-anak bisa betah, nyaman dan jadikan mereka sebagai sahabat.

Dari penelitiannya yang dilakukannya sejak Bulan Maret 2012 lalu,  dan baru berakhir Agustus 2012, banyak persoalan yang terjadi pada dunia anak saat ini.

"Banyak anak-anak yang di keluarganya tidak pernah terbiasa atau mendengar makian, tetapi akhirnya dia tahu dan terbiasa untuk maki. Salah satu penyebabnya adalah karena dia mendengarkan itu dari orang dewasa di lingkungannya yang kadang terbiasa dengan makian. Bukan hanya makian, perilaku anak-anak saat ini juga banyak yang meniru perilaku orang dewasa yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Itu
karena lingkungan pergaulan orang dewasa tidak pernah mempertimbangkan penghargaan terhadap dunia anak-anak. Dunia anak-anak sudah dipengaruhi oleh dunia orang dewasa," tutur mahasiswi semester 8 Jurusan Bahasa Inggris FKIP ini.

Menurut dia, sudah saatnya semua orang harus menghargai secara sungguh-sungguh tentang dunia anak-anak. Tamatan SD Bertingkat Naikoten tahun 2002 ini, bercita-cita ingin
mendirikan yayasan atau LSM yang merangkum anak-anak demi mendukung dunia mereka seindah mungkin.

"Kalau Tuhan memberkati, setelah ini saya ambil pendidikan S2 lalu nantinya bisa membuat play group, yang bisa mengarahkan anak-anak ke dunianya. Cita-cita saya seperti itu, saya tidak bermimpi jadi guru walaupun sekarang saya ambil jurusan keguruan," kata gadis yang suka masak ini.

Nia merupakan tamatan SMPN 1 Kupang tahun 2005 dan SMAN 1 Kupang tahun 2008. Sejak SMA dia sangat suka dengan dunia tulis menulis. Di waktu senggang, dia selalu memanfaatkannya untuk coba memasak berbagai menu baru yang dia dapatkan.

Tetapi sesekali dia menghabiskan waktu kosongnya di pantai bersama kekasih atau sahabat-sahabatnya.  Pemilik warna favorit ungu ini, juga cukup aktif di organisasi kepemudaan gereja. Di bidang musik, dia sangat suka dengan lagu-lagu pop barat  dan klasik.(servatinus Mammilianus)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved