Pos Kupang
Tahanan Imigran Gelap Bebani Polres Sumba Barat
Pos Kupang - Sabtu, 2 Juni 2012 | 23:16 WITA
Share |
POS KUPANG.COM, WAIKABUBAK --   Polres Sumba Barat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, semakin terbebani karena sudah seminggu harus mengurus penampungan serta pengamanan 51 orang imigran gelap asal Afganistan dan Iran.

Selain itu masih ditambah kerepotan mengurus pemulangan satu jenazah dari kelompok sama, yang hingga kini belum ada titik temunya.

Polres Sumba Barat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, semakin terbebani karena sudah seminggu harus mengurus penampungan serta pengamanan 51 orang imigran gelap asal Afganistan dan Iran

Kepala Polres Sumba Barat, Ajun Komisaris Besar Lilik Apriyanto di Waikabubak melalui telepon genggamnya, Jumat (1/6/2012) malam mejelaskan, 51 warga asing itu seharusnya sudah dievakuasi ke Kupang satu dua hari setelah ditampung atau diamankan sementara di Polres Sumba Barat. Namun hingga kini puluhan imigran gelap itu masih bertahan di Polres Sumba Barat.

Kendalanya karena masih harus menunggu ketersediaan  sarana transportasi berupa kapal laut atau pesawat terbang yang difasilitasi IOM  (badan pengungsi dunia).  

"Kalau urusan pengamanan nggak masalah. Sementara pemenuhan kebutuhan makan bagi pulugan imigran itu, sejauh ini dari bantuan Pemda bersama Polres setempat," jelasnya.

Puluhan warga  itu - yang diduga sedang berupaya menyeberang secara ilegal dengan kapal kayu ke Australia - Minggu (27/5/2012) ditemukan terdampar di sekitar Pantai Hahuru Wei, Desa Waimangoma, Kecamatan Wanokaka, sekitar 40 kilometer arah selatan Waikabubak, kota Kabupaten Sumba Barat. Sejak hari itu juga mereka diamankan di Polres setempat.          

Jumlah mereka sebenarnya 52 orang, semuanya lelaki dewasa. Satu di antaranya bernama Muhammad Ali Amiri (43) asal Afganistan dinyatakan tenggelam dan ditemukan telah meninggal, hari beikutnya. Sesuai permintaan keluarganya, jeazah korban supaya dikembalikan ke negara asalnya.          

Menurut Lilik, ketika permintaan keluarga korban itu disampaikan kepada IOM, lembaga internasional keberatan memfasilitasinya. "IOM keberatan memfasilitasinya karena lembaga itu katanya tidak mengurus imigran yang telah meninggal," jelas Lilik.          

Sambil menunggu solusi dari Keduaan Afganistan, para imigran dilaporkan urunan mengumpulkan biaya agar sesepatnya menerbangkan jenazah Amiri ke Kupang. Alasannya karena di RSUD Waikabubak atau RSUD Waingapu di Sumba Timur belum dilengkapi gasilitas lemari pendingin. Sejauh ini pengawetan jenazah hanya mengandalkan formalin.     

Editor : alfred_dama
Sumber : Kompas.com