Pasar Weri Mubazir
Pos Kupang - Kamis, 31 Mei 2012 | 11:11 WITA

POS KUPANG/SARIFAH SIFAH
Pasar Weri
Berita Terkait
Laporan Wartawan Pos Kupang, Sarifah Sifah
POS KUPANG.COM, LARANTUKA -- Pasar tradisional Weri, Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim) yang dibuka setiap Kamis, kini mubazir. Sejumlah kios, termasuk pelataran dibiarkan kosong.
Nampak hanya satu atau dua orang pedagang yang menjajakan barang dagangannya, sementara sebagian besar tidak lagi menjajakan barangnya di pasar yang baru dibuka tahun 2011 lalu. Para pedagang hengkang karena dagangan mereka tidak laku sehingga mereka rugi.
Disaksikan Pos Kupang, Kamis (24/5/2012) saat hari pasar, hanya dua kios yang dibuka. Sementara kios yang dibangun dengan anggaran yang cukup besar oleh pemerintah, termasuk pelataran tidak lagi ditempati para pedagang. Petak-petak yang dibangun para pedagang pada sisi kiri dan kanan jalan sudah rusak bahkan sebagian besar lapuk.
Kondisi ini, nampaknya tidak dihiraukan pemerintah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kabupaten Flotim. Padahal, para pedagang sangat merasa dirugikan dengan bangunan yang mereka bangun di atas tanah pemerintah tersebut.
"Kami sudah rugi bangun petak dalam pasar ini, tapi tidak ada tanggung jawab pemerintah terhadap kerugian kami. Bayangkan, hanya buat tiang berdiri dan bale-bale saja, kami harus keluarkan uang ratusan ribu tapi saat pasar sepi, dagangan kami tidak laku tidak ada yang bertanggung jawab. Mestinya, pemerintah dengan berbagai cara mendatangkan pengunjung bukan hanya melihat kondisi yang ada,"kata Mikel, salah satu pemilik petak yang ada di dalam Pasar Weri.
Mikel berharap, pemerintah dapat mengambil keputusan untuk mengumumkan kepada publik, apakah pasar Weri masih layak atau tidak layak. Karena hanya pemerintah yang bisa mengkaji sebuah pasar itu layak atau tidak melalui studi kelayakan pasar atau kapasitas yang dimiliki pemerintah sehingga pedagang tidak dirugikan.
Ninda Bethan, salah seorang pedagang yang masih bertahan di pasar tersebut mengakui, kurangnya pengunjung ke Pasar Weri karena kurang promosi. "Pedagang sudah banyak yang datang tapi pengunjung kurang akhirnya pedagang memilih kembali jualan di Pasar Inpres Larantuka,"katanya.
Padahal, kata Ninda, sebelumnya pedagang, baik sembako, kelontongan, pakaian, promosi Honda, Suzuki dan sejumlah produk lain di Pasar Weri cukup ramai, namun lambat laun semakin sepi dan saat ini hampir semuanya meninggalkan Pasar Weri.
POS KUPANG.COM, LARANTUKA -- Pasar tradisional Weri, Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim) yang dibuka setiap Kamis, kini mubazir. Sejumlah kios, termasuk pelataran dibiarkan kosong.
Nampak hanya satu atau dua orang pedagang yang menjajakan barang dagangannya, sementara sebagian besar tidak lagi menjajakan barangnya di pasar yang baru dibuka tahun 2011 lalu. Para pedagang hengkang karena dagangan mereka tidak laku sehingga mereka rugi.
Disaksikan Pos Kupang, Kamis (24/5/2012) saat hari pasar, hanya dua kios yang dibuka. Sementara kios yang dibangun dengan anggaran yang cukup besar oleh pemerintah, termasuk pelataran tidak lagi ditempati para pedagang. Petak-petak yang dibangun para pedagang pada sisi kiri dan kanan jalan sudah rusak bahkan sebagian besar lapuk.
Kondisi ini, nampaknya tidak dihiraukan pemerintah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kabupaten Flotim. Padahal, para pedagang sangat merasa dirugikan dengan bangunan yang mereka bangun di atas tanah pemerintah tersebut.
"Kami sudah rugi bangun petak dalam pasar ini, tapi tidak ada tanggung jawab pemerintah terhadap kerugian kami. Bayangkan, hanya buat tiang berdiri dan bale-bale saja, kami harus keluarkan uang ratusan ribu tapi saat pasar sepi, dagangan kami tidak laku tidak ada yang bertanggung jawab. Mestinya, pemerintah dengan berbagai cara mendatangkan pengunjung bukan hanya melihat kondisi yang ada,"kata Mikel, salah satu pemilik petak yang ada di dalam Pasar Weri.
Mikel berharap, pemerintah dapat mengambil keputusan untuk mengumumkan kepada publik, apakah pasar Weri masih layak atau tidak layak. Karena hanya pemerintah yang bisa mengkaji sebuah pasar itu layak atau tidak melalui studi kelayakan pasar atau kapasitas yang dimiliki pemerintah sehingga pedagang tidak dirugikan.
Ninda Bethan, salah seorang pedagang yang masih bertahan di pasar tersebut mengakui, kurangnya pengunjung ke Pasar Weri karena kurang promosi. "Pedagang sudah banyak yang datang tapi pengunjung kurang akhirnya pedagang memilih kembali jualan di Pasar Inpres Larantuka,"katanya.
Padahal, kata Ninda, sebelumnya pedagang, baik sembako, kelontongan, pakaian, promosi Honda, Suzuki dan sejumlah produk lain di Pasar Weri cukup ramai, namun lambat laun semakin sepi dan saat ini hampir semuanya meninggalkan Pasar Weri.
Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang