Matematika dan IPA Sempurna Hasil Kerja Guru
Pos Kupang - Rabu, 30 Mei 2012 | 21:22 WITA
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Nilai hasil ujian nasional (UN) mata pelajaran Matematika dan IPA sempurna dan naiknya predikat NTT dari posisi C ke posisi B merupakan hasil kerja keras guru.
Karena itu, guru mesti diberi penghargaan, bukan program gong belajar yang dipuji.
Demikian Dekan FKIP Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Drs. Alfons Bunga Naen, M.Pd, saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (28/5/2012) siang.
Menurut dia, jika ada siswa yang mendapat nilai sempurna harus diapresiasi, termasuk kepada guru-guru. "Matematika itu mother of science sehingga kalau ada orang yang tidak mengetahui Matematika sama dengan suatu pengkhianatan. Kalau ada siswa yang mendapat nilai sempurna, itu harus diapresiasi karena menunjukkan usaha yang bagus dan terhadap kinerja guru-guru, saya puas," kata Alfons.
Tentang naik peringkat NTT dari C ke B, Alfons mengatakan, hal itu tidak terlepas dari hasil kerja keras para guru. "Penghargaan terhadap guru patut diberikan, bukan gong belajarnya yang dipuji. Perubahan peringkat dari C ke B itu luar biasa karena itu guru yang sudah kerja luar biasa mesti diberi penghargaan. Minimal ucapan terima kasih," ujarnya.
Tentang rendahnya nilai ilmu sosial, Alfons berpendapat bahwa hal itu bisa disebabkan NTT terlalu fokus menggenjot ilmu MIPA. "Fakta bahwa nilai ilmu sosial lebih rendah, itu menunjukkan bahwa sepertinya di NTT merasa bahwa yang perlu didongkrak atau dinaikan hanya Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) saja. MIPA gencar tapi ilmu lain sepertinya dilupakan. Ini juga berarti, guru-guru selain guru MIPA kurang 'disentuh'. Mengapa ada MIPA center, sementara ilmu lainnya tidak ada," katanya.
Menurut dia, saat ini guru-guru sudah mulai proses di kelas dengan baik dan benar. Sudah ada indikasi perubahan ke arah yang lebih baik. "Benar bahwa ada gong belajar, tapi bukan itu yang utama," tandas Alfons. Dia menyarakan ke depan perlu ada sentuhan- sentuhan lebih kepada ilmu lain, selain MIPA. Selain itu, perlu ada center-center ilmu sosial untuk penguatan kapasitas guru. (ira/roy)
Karena itu, guru mesti diberi penghargaan, bukan program gong belajar yang dipuji.
Demikian Dekan FKIP Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Drs. Alfons Bunga Naen, M.Pd, saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (28/5/2012) siang.
Menurut dia, jika ada siswa yang mendapat nilai sempurna harus diapresiasi, termasuk kepada guru-guru. "Matematika itu mother of science sehingga kalau ada orang yang tidak mengetahui Matematika sama dengan suatu pengkhianatan. Kalau ada siswa yang mendapat nilai sempurna, itu harus diapresiasi karena menunjukkan usaha yang bagus dan terhadap kinerja guru-guru, saya puas," kata Alfons.
Tentang naik peringkat NTT dari C ke B, Alfons mengatakan, hal itu tidak terlepas dari hasil kerja keras para guru. "Penghargaan terhadap guru patut diberikan, bukan gong belajarnya yang dipuji. Perubahan peringkat dari C ke B itu luar biasa karena itu guru yang sudah kerja luar biasa mesti diberi penghargaan. Minimal ucapan terima kasih," ujarnya.
Tentang rendahnya nilai ilmu sosial, Alfons berpendapat bahwa hal itu bisa disebabkan NTT terlalu fokus menggenjot ilmu MIPA. "Fakta bahwa nilai ilmu sosial lebih rendah, itu menunjukkan bahwa sepertinya di NTT merasa bahwa yang perlu didongkrak atau dinaikan hanya Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) saja. MIPA gencar tapi ilmu lain sepertinya dilupakan. Ini juga berarti, guru-guru selain guru MIPA kurang 'disentuh'. Mengapa ada MIPA center, sementara ilmu lainnya tidak ada," katanya.
Menurut dia, saat ini guru-guru sudah mulai proses di kelas dengan baik dan benar. Sudah ada indikasi perubahan ke arah yang lebih baik. "Benar bahwa ada gong belajar, tapi bukan itu yang utama," tandas Alfons. Dia menyarakan ke depan perlu ada sentuhan- sentuhan lebih kepada ilmu lain, selain MIPA. Selain itu, perlu ada center-center ilmu sosial untuk penguatan kapasitas guru. (ira/roy)
Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang