Selasa, 9 Juni 2026

Mister Buntut Kuda

ni baru berita. Meskipun NTT menempati posisi juru kunci untuk hasil UN SMA, MA, dan SMK

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

"HALO Mister Buntut Kuda, apa khabar?" Ini baru berita. Meskipun NTT menempati posisi juru kunci untuk hasil UN SMA, MA, dan SMK, dirinya tetap bangga bukan main. Rambut gondrongnya kini diikat buntut kuda.

Gaya jalannya pun diombeng-ombengkan sehingga buntut kudanya bergoyang kian-kemari. Ada apa gerangan? Sampai si gondrong yang sudah sekian lama anti potong rambut ini, tampil rapi jali.

"Fine, fine saja!" jawabnya sambil melepaskan buntut kudanya, sampai rambutnya berkibar kembali. Mirip benar dengan Yoda idol, kribo abis. Bahkan jauh lebih panjang dari kribonya Yoda. Si Yoda pun mulai buat gaya berjingkrak-jingkrak sambil melagukan Sorak-Sorak Bergembira dengan suara serak-serak basah yang dirock-rockkan.

"Wah cakep amat! Senang ya Yoda tidak tereliminasi semalam?"
"Jelas dong! Yoda idolaku, jadi aku harus mati-matian bela dia," Rara mengambil tatapan Yoda, dengan garis mata bagian bawah dihitamkan. Beberapa saat kemudian kribonya pun kembali dibuntut kuda. "Sorak-sorak bergembira, bergembira semua. Indonesia merdeka."
"Senang amat! Ada apa sih!"

"Aku bangga UN SMA kita tahun ini juru kunci," Rara menepuk dada. "Tapi, meskipun juru kunci, tingkat kelulusannya jauh lebih baik. Dari  36.228 peserta, lulus  34.304 siswa-siswi atau 95,50 persen, sedangkan tidak lulus 1.994 siswa-siswi. Hebat 'kan?"
                                                         ***
 "Apa? Hebat katamu. Jadi kamu anggap yang seribu sembilan ratus sembilan puluh empat orang itu sedikit ya? Jadi juru kunci itu bagus ya? Rara, Rara kamu ini penampilan Yoda, gaya Yoda, tapi buntut kuda. Bangga ya dengan nomor buntut," tanya Jaki.

"Biar buntut tetapi tetap hebat!" Rara berjingkrak-jingkrak lagi. "Makanya rambutku kubuntut kuda, sebagai kenang-kenangan terhadap nomor buntut, buntut lagi. Asyiiiik sik asyik."

Rupanya Rara punya alasan sendiri. Soalnya ada ujian ulang, ada paket C, ada macam-macam alasan untuk membanggakan diri. Soal nilai tertinggi berapa, soal yang lulus jalur undangan berapa, soal mata pelajaran apa, soal guru, manajemen sekolah, kebijakan-kebijakan pendidikan, Rara tak mau peduli. Yang penting lulus. Rupanya Jaki pun kena pengaruh, ikut-ikutan buat buntut, tetapi buntutnya buntut kambing. Soalnya rambutnya gimbal seperti ekor kambing dengan warna rambut jagung. Bangga juga akhirnya biar buntut tetapi hebat.

Ya, ternyata Benza juga ikut-ikutan buntut kuda. Apa yang telah terjadi? Bukankah biasanya Benza potong rambut model Afgan si penyanyi? Benza melenggang bersama Nona Mia di sampingnya.
                                                                 ***
"Halo Nona Mia, penampilanmu kian hari kian Regina ya. Apalagi rambutnya dibuntut kuda. Regina abis. Mau jadi idol ya? Boleh juga. Suaramu sama kualitasnya dengan Regina.Tetapi kalau bodimu Rosa, wah biar sudah tereliminasi semalam, kamu pasti jadi benar-benar aduhai!"

"Kamu kalao ngomong jangan asal bunyi ya!" Nona Mia menggulung lengan bajunya. "Mau kukarate? Aku adalah aku, jangan coba-coba kamu bandingkan aku dengan Regina atau Rosa atau Sean, atau Melly, Krisdayanti, Titi Dj. Awas kamu ya! Kepalaku lagi pusing, tahu!"
"Pasti mikirin hasil UN ya? Sedih karena NTT jadi juru kunci? Mengapa sedih? Bukankah hanya 1.994 orang yang tidak lulus?" tanya Rara.

"Bukankah demikian Benza? Sedih juga kah kamu? Mengapa kamu pakai rambut palsu begitu rupa? Mau rayakan UN atau mau berduka untuk UN, pakai buntut kuda segala. Mentang-mentang NTT ambil posisi juru kunci, jadi ikut-ikutan pakai buntut!" sambung Jaki.
                                                         ***
Memang menjadi juru kunci selalu tidak enak perasaan. Tetapi rupanya Benza pakai rambut palsu dan dibuntut kuda  ada alasannya. Bagaimanapun guru-guru sudah berusaha mati-matian membimbing anak-anak didiknya biar bisa lulus UN. Cukup membanggakan tingkat kelulusan tahun ini. Meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini. Angka 1.994 orang itu tidaklah kecil. Kalau 1.994 itu hanya barang bukan orang, mungkin lain ceritanya. Apalagi NTT anjlok gara-gara bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),  Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Bahasa Indonesia yang  anjlok habis.
Nilai terendah  antara 1,70 - 4,00. Anjlok nilai ditiga bidang studi menyebabkan sebanyak 1.994 siswa peserta UN tidak lulus ujian nasional.

"Aku pakai buntut kuda karena sedih dengan nilai bahasa Indonesia," kata Nona Mia terus terang.
"Ah, tidak mungkin! Itu pasti salah hitung. Kita orang NTT ini paling pintar omong bukan? Pintar bukan main kalau soal omong. Itu hanya soal putar-putar bahasa. Apa kekurangan kita? Coba kamu jawab! Jadi menurutku kita cek langsung ke Jakarta. Kita pintar semua kok, masak sih nilai bindo anjlok. He he he, kasian benar!"

"Aku pakai buntut kuda karena sarana prasara pendukung peningkatan mutu pendidikan kurang memadai.  Laboratorium, perpustakaan sekolah, dan terutama   klasifikasi guru.   Dari  82 ribu guru di NTT, ada 54 ribu belum sarjana. Apakah benar ini alasannya?"
                                                         ***
"Itu semua bukan salahmu Benza. Bukan salahmu Nona Mia! Buat apa susah. Kita patut bangga. Pasti intervensi anggaran pendidikan jadi lebih tinggi untuk kita. Sekian miliyard pasti menampakan diri segera untuk atasi nomor buntut ini. Jadi santai saja lagi. Bagaimana menurutmu Regina eh Nona Mia?"
"Pintar benar kamu lempar batu sembunyi tangan ya. Buntut kambingmu itu benar-benar luar biasa. Kamu juga Rara, buntut kudamu benar-benar cocok dengan intervensi anggaran lebih tinggi. Bonding saja biar lurus."

"Memang! Aku akan piara kumis, jambang, biar tampak ganteng seperti Dion Idol.    Kalau anggaran sudah datang untuk bonding pasti aku tak perlu buntut kuda lagi, bukan?"
"Ya, Mister Buntut Kuda!" Jaki yang menjawab.*
             
 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved