Selasa, 9 Juni 2026

Radiogram

TRAVEL ini terlalu cepat untuk jalan berkelok seperti ini.Riel sibuk menahan mual, sudah hampir tiga jam terhimpit di antara....

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Cerpen Armin Bell

TRAVEL ini terlalu cepat untuk jalan berkelok seperti ini. Riel sibuk menahan mual, sudah hampir tiga jam terhimpit di antara seorang bapak yang terlihat santai menikmati perjalanan dan seorang ibu yang sudah tertidur sejak perjalanan ini dimulai. "Masih jauh pak?" tanya Riel.

"Setengah jam lagi sampe," jawab bapak itu sambil menikmati menghembuskan asap rokoknya asal. Pemuda itu terdiam, bukan karena tak punya bahan lagi buat bicara, tapi karena asap rokok itu seperti mengundang isi perutnya keluar.

Satu kata saja berani dia ucapkan lagi detik itu, akan ada yang sibuk menyelamatkan diri dari muntahannya. Di kursi depan samping sopir, seorang gadis sibuk dengan handphonenya, headset terpasang di telinga sejak perjalanan baru dimulai.

                    ***
Beberapa jam sebelumnya, Riel terheran-heran setelah keluar dari pelabuhan Philemon Labuan Bajo. Beberapa mobil berbaris di pinggir jalan. Riel berpikir, siapa gerangan orang kaya yang tadi naik Kapal Tilongkabila bersamanya?  

Bukankah seharusnya mereka datang dengan pesawat? Hanya semenit setelahnya, dia tahu mobil-mobil pribadi yang sebagian besar APV dan Avanza itu bukan untuk menjemput pemiliknya, tetapi dirinya.

Di sini, di Labuan Bajo, di Manggarai pada umumnya, mobil-mobil sejenis itu lebih banyak dijadikan sebagai angkutan travel dadakan daripada untuk kepentingan pemiliknya. Informasi itu diperolehnya dari bapak yang kemudian menumpang di travel yang sama. Namanya Pak Domi.

Dia menyukai tempat ini pada kesempatan pertama. Dia ingat ibunya dan percaya bahwa perempuan bijak itu benar.
"Kau harus ke Manggarai, tempat itu menyenangkan dan ramah," kata ibunya ketika mereka berdua membereskan warung sederhana di ruang tamu rumah kontrakan mereka yang disulap jadi ruang makan pelanggan.

Dan ibunya benar, tempat ini menyenangkan dan ramah. Sikap yang muncul satu paket pada Pak Domi di sampingnya ini. Ramah, banyak bicara dan menjelaskan apapun bahkan tanpa harus ditanyai. Mereka menumpang travel yang sama, Avanza warna silver dengan sopir berwajah keras dan tak banyak bicara.

"Dulu, Labuan Bajo sepi. Tapi sejak Komodo dikenal lebih luas, semakin ramai. Baguslah. Ekonomi lokal berjalan dengan lebih baik," katanya ketika mereka baru dua kilo meninggalkan pelabuhan.

"Banyak bule ya, Pak?," tanya Riel tanpa maksud yang jelas.
"Dari Jawa ya? Pasti dari Malang," Pak Domi tidak menjawab pertanyaan Riel.

"Koq tahu?"
"Baju kamu Aremania. Kan tidak mungkin dari Surabaya," Pak Domi menjawab, mencoba melucu lalu terkekeh panjang. Riel ikut tertawa lalu terbatuk, Pak Domi dengan santainya mengambil rokok sebatang, menyalakannya, menghembuskan asapnya bahkan tanpa harus permisi.

Pak Domi yang ramah, banyak bicara dan menjelaskan apapun bahkan tanpa harus ditanyai, kini mendapat gelar baru: merokok tanpa permisi di dalam travel yang seharusnya tidak boleh karena saya ada di sini dan ibu di samping kanan saya tertidur mungkin pusing.

Gelar yang panjang namun Pak Domi pantas mendapatkannya. Dan di sinilah mereka kini, di sebuah tempat 30 kilometer dari Ruteng. Pak Domi sudah tak lagi bicara. Ibu entah siapa di samping kanan Riel masih belum bangun sejak tadi.

Hanya sesekali bergerak memperbaiki posisi dalam tidurnya, ketika travel mungil itu terlampau bermanuver pada tikungan-tikungan tajam. Mereka berlima dalam perjalanan itu; sopir, gadis headset, Pak Domi, si ibu tidur dan Riel yang tiba-tiba dilanda kebingungan hebat karena tak tahu harus dari mana mulai mencari.

                        ***
Perjalanan ini adalah sebuah misi. Riel mendapat tugas dari ibunya untuk mencari ayah. Riel tak pernah bertemu sejak detik pertama dia lahir di bumi manusia ini. Di masa Riel kecil, ibunya kerap bercerita tentang sosok ayahnya yang berambut keriting, berkulit hitam manis, pemain sepakbola hebat dan punya suara yang bagus.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved