Rabu, 10 Juni 2026

Pilkada Kota Kupang

Pengamat: Berpeluang Dua Putaran

Pengamat politik NTT, Drs. Ahmad Atang, dan Drs. Mikael Thomas Susu, M.Si, memprediksikan Pemilu Kada Kota Kupang berpeluang dua putaran.

Tayang:
Editor: Sipri Seko
DUA pengamat politik NTT, Drs. Ahmad Atang, dosen Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK), dan Drs. Mikael Thomas Susu, M.Si, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, memprediksikan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilu Kada) Kota Kupang 2012  berpeluang dua putaran.

Ahmad dan Mikael yang dihubung terpisah hari Rabu (25/4/2012), memprediksikan pula ada dua paket yang berpeluang maju ke putaran kedua. Tetapi  keduanya enggan menyebut dua paket yang akan maju ke putaran kedua Pemilu Kada Kota Kupang yang akan dilaksanakan Selasa (1/5/2012).

Ahmad mengatakan, peluang Pemilu Kada Kota Kupang putaran kedua sangat besar. Dengan sistem perangkingan, ada dua paket (Ahmad  menyebut dua paket) yang berpeluang maju ke putaran kedua. Sebenarnya, demikian Ahmad, yang  namanya bintang hanya muncul sekali, tak bisa muncul dua kali.

"Saya selalu mempunyai keyakinan, semua paket memiliki peluang. Sebab, politik ini menganut teori kemungkinan. Tetapi, kecenderungan yang dilihat pada semua figur memiliki potensi sosial dan finansial. Kalau ini menjadi ukuran, berarti semua paket memiliki kekuatan untuk menang," kata Ahmad.

Saat ini, kata Ahmad, program dari semua paket gaungnya tidak terlalu greget dibandingkan sebelum-sebelumnya. "Apakah ini karena paket lama yang bertarung  atau memang masyarakat tetap akan menggunakan hak pilih, tetapi tidak terlalu masuk pada wilayah yang terlalu heroik dalam proses pilkada ini," Ahmad bertanya.

Ahmad mengatakan, peluang ke putaran kedua karena pertama dari segi  program  enam paket calon walikota Kupang dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017. Selama kampanye kurang lebih dua minggu, antusiasme masyarakat terhadap media kampanye sangat rendah dan tidak bergairah antara satu paket dan paket yang lain.

Mengapa demikian? Pertama, akses informasi terkait program kerja dari masing- masing paket bisa diperoleh dari media dan tanpa mengikuti kampanye lagi. Ini salah satu aspek mengapa  atensi publik terhadap kampanye atau rapat umum tidak seantusias yang diharapkan. Kedua, dinamika masyarakat Kota Kupang lebih banyak pada usaha atau kegiatan produktif (kerja) sehingga perhatian atau keterlibatan mereka sangat rendah.

Sedangkan dari segi program yang ditawarkan secara konseptual sudah pro rakyat karena lebih menyangkut hal-hal dasar seperti  aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.  Itu artinya, persoalan publik sudah diakomodir oleh enam paket. Hanya di antara enam paket, kalau melihat program riil bagaimana menjawab permasalahan publik, mungkin ada satu atau dua paket bisa terlihat dengan jelas programnya. Ini yang bisa ditangkap dari program nyata yang ditawarkan oleh para paket. Program-program yang mereka tawarkan sudah pro rakyat, populis dan seterusnya.

"Dari sini kita bisa melihat bagaimana peluang enam paket. Yang jelas kalah itu pasti, dan menang belum tentu. Dari pilkada ini akan menghadirkan kepemimpinan  dan akan ada satu paket yang terpilih untuk memimpin Kota Kupang. Untuk itu, kapabilitas, kapasitas dan popularitas masing-masing paket relatif sama, karena mereka membangun kekuatan paket berdasarkan basis etnis dan agama. Kalau isu ini menjadi rujukan, sesungguhnya di antara enam paket ini memiliki peluang yang sama besar. Oleh karena itu, kalau membuat semacam rata-rata hasil dari LSI (Lembaga Survai Indonesia) misalnya, sebenarnya belum ada paket yang mencapai target. Dari hasil survai, semua paket rata-rata naik turun, naik turun dukungannya. Tidak ada paket yang melonjak sampai 30 persen. Posisi aman minimal di atas 35 persen. Tapi kalau masih di bawah 35 persen, ini masalah. Oleh karena itu, saya cenderung melihat kalau pilkada hanya dalam satu putaran, maka  semua paket harus bekerja ekstra," kata Ahmad.

Menurut dia, jumlah pemilih di Kota Kupang  233.000 jiwa. Dan, partisipasi pemilih hanya mencapai 186.000 pemilih yang memiliki hak pilih. Maka  minimal paket-paket ini harus  memiliki 57.000 suara untuk menang. Angka ini memang kecil, tapi dengan kompetitor yang banyak akan semakin kecil jumlah pemilihnya.

Sementara itu, Mikael Thomas Susu yang akrab disapa Tommy mengatakan, seharusnya komposisi dukungan parpol di legislatif tercermin representasi dan signifikan terhadap Pemilu Kada Kota Kupang. Bagaimanapun, hal ini menunjukkan stabilitas dari pemerintahan lima tahun ke depan.

Tommy menyatakan, kesadaran politik seperti itu tidak merupakan mindset kolektif masyarakat Kota Kupang, terutama karena persepsi dan preferensi pemilih yang bervariasi yang berdampak pada inkonsistensi pilihan dan perubahan pemetaan  politik dua tahun terakhir didukung oleh kecenderungan pilihan politik lebih ditentukan oleh figur kepada parpol.

"Maka kita tidak bisa hitam putih menentukan mayoritas dukungan untuk mencapai 30 persen tambah satu, pada satu putaran. Latar tersebut mendasari saya menduga, dua paket (Tommy menyebut dua paket, dan dua paket itu sama yang disebutkan Ahmad Atang) akan menuju putaran kedua," kata Tommy.

Menurut dia, ada banyak varian  lain yang menentukan pilihan publik atas paket-paket yang ada. Intinya, lanjut Tommy, harus ada pencerdasan politik kepada rakyat dan kandidat bahwa mereka harus siap kalah,  bukan hanya siap menang. (nia/roy)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved