Mau Pilih Siapa?
BEBERAPA hari lagi, proses pemilukada Kota Kupang memasuki minggu tenang. Baliho, spanduk dan brosur-brosur akan diturunkan.
BEBERAPA hari lagi, proses pemilukada Kota Kupang memasuki minggu tenang. Baliho, spanduk dan brosur-brosur akan diturunkan. Simbol kemeriahan pesta demokrasi Pancasila diganti dengan masa permenungan-para calon, partai pengusung, dan tim sukses berkesempatan mengkonsolidasikan niatnya-semua ingin menang-sayangnya, hanya satu paket yang akan ditetapkan oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kupang sebagai Walikota dan Wakil Walikota Kupang masa bakti 2012-2017.
Hal terpenting bagi masyarakat dalam minggu tenang adalah menjali-jalin dan memilin-milin mana paket calon terbaik. Sejumlah cara semisal diskusi dengan keluarga atau kerabatnya, dan membaca kembali visi, misi dan program yang dituangkan dalam pelbagai media cetak perlu dilakukan secara cerdas.
Menuju minggu tenang, membangkitkan ingatan kami pada biografi Augustus Caeser si pendiri empirium Romawi yang oleh Hart (halaman 123) dikatakan sebagai as penting dalam perputaran jalannya sejarah, dengan keputusannya mengakhiri perang saudara yang sudah membikin Republik Romawi berantakan di abad pertama sebelum Masehi, dan sesudah itu dia organisir kembali pemerintahan Romawi sehingga keamanan dan perdamaian di dalam negeri terjamin dan kesejahteraan penduduk terawat.
Ada dua hal penting yang dapat kami simpulkan. Pertama, mengakhiri perang saudara; dan kedua, mengorganisir kembali pemerintahan demi terjaminnya keamanan, perdamaian, dan kesejahteraan masyarakat.
Pertanyaan reflektif yang kami tawarkan adalah, apakah masyarakat Kota Kupang membutuhkan figur pemimpin seperti Augustus Caesar? Tentu saja. Sebab, kendati di Kota Kupang tidak ada perang saudara dengan menggunakan bedil, busur dan anak panah, tombak, parang, pedang, dan bambu runcing, namun polarisasi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok berlatar belakang suku, agama, ras dan antargolongan dengan berkedok pemberdayaan perekonomian anggotanya, telah merenggangkan semangat kebersatuan yang dipayungi ideologi Pancasila, dan tiga pilar pemersatu bangsa: Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Secara kasak mata, di Kota Kupang, telah didirikan organisasi bernafaskan SARA, dan aktifitasnya berdekatan dengan pemilukada yang kebetulan ada perayaan natal dan tahun baru; dibikinlah natal dan tahun baru bersama, dan paskah bersama anggota suku-perayaan paskah bersama di luar kelaziman. Berpuluh-puluh tahun lamanya, umat kristen/katolik membuat pawai obor paskah di pagi buta, pawai umat dan kendaraan dihiasi simbol paskah.
Organisasi-organisasi kesukuan tersebut, kepengurusannya didominisasi oknum-oknum pegawai negeri sipil. Maksudnya bisa mencari dana, dan dengan aktivitasnya bisa mendapat promosi jabatan/melanggengkan jabatan. Sedangkan bagi yang telah pensiun, tujuannya adalah mendapat proyek, mengelola badan-badan usaha milik daerah. Ini berarti, SARA yang dipandang oleh bangsa dan negara Indonesia sebagai ancaman disintegrasi, ditumbuhsuburkan dalam kemasan baru: religi dan culture.
Perihal kedua menurut Augustus Caeser adalah jalannya kepemerintahan. Bukan rahasia lagi bahwa tiga tahun terakhir ini kepemerintahan Kota Kupang menghadapi banyak sorotan. Buruknya etos kerja menyebabkan Kota Kupang pernah dipermalukan sebagai kota terkorup di Indonesia-tidak diabaikan adanya sejumlah penghargaan hebat yang diperoleh Walikota Kupang.
Tidak dikesampingkan juga "perang dingin" antara Veki Lerik, SE sebagai Ketua DPRD Kota Kupang dengan Drs. Dan Adoe sebagai Walikota Kupang. Buntutnya, Veki Lerik, SE dilengser dari Ketua DPD II Golkar Kota Kupang, Ketua DPRD Kota Kupang, dan terakhir sebagai Anggota DPRD Kota Kupang.
Suka atau tidak suka, konsekuensi logis dari "perang dingin" tersebut adalah terusiknya keamanan, perdamaian, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, berputarnya roda kepemerintahan tidak sebagaimana layaknya.
Pengalaman adalah guru terbaik; kata orang bijak. Ini berarti, gunakanlah waktu minggu tenang dengan sebaik-baiknya untuk melihat kembali program-program yang ditawarkan para kandidat, integritasnya dalam banyak hal (kriteria versi sebuah partai: Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tak Tercelah/PDLT), bagaimana relasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan.
Mau pilih siapa? Bukan urusan kami. Tapi yang pasti, pesan kami adalah: Pertama, jangan lalaikan waktu pencontrengan pada tanggal 1 Mei 2012. Kedua, berdoalah sebelum mencontreng agar tidak tergoda tawaran money politic dan intrik-intrik SARA. Ketiga, jangan Golput. Keempat, jaga keamanan dan ketertiban masyarakat demi semakin terciptanya stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Kelima, terimalah hasil keputusan Ketua KPU Kota Kupang. Keenam, dukunglah kepala daerah terpilih demi masa depan yang gilang-gemilang. Selamat mencontreng. Salam sejahtera! *