Selasa, 9 Juni 2026

Guru Sepanjang Hidup

Maklum, tidak ada seorang pun yang berhasil meyakinkannya bahwa itu bukan urusannya, dan sebagai rakyat kecil tidak bisa buat apa-apa

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Parodi Situasi Oleh Maria Mathild Banda

HANYA gara-gara pusing nonton berita kekerasan UN di televisi, dia putuskan untuk puasa nonton sebulan penuh. Akibatnya seluruh penghuni rumah pun terpaksa nonton tivi di rumah tetangga atau di balai desa, atau juga di pos kamling ujung jalan dekat dengan pos polisi.

Maklum, tidak ada seorang pun yang berhasil meyakinkannya bahwa itu bukan urusannya, dan sebagai rakyat kecil tidak bisa buat apa-apa. UN tidak bisa digoyang lagi. Ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu, demikianlah UN jalan terus.
                                  ***
"Bayangkan, siswa nyontek diamankan polisi, di bawah ke kantor polisi, dan diinterogasi di sana. Hatiku jadi sakit tidak karuan.  Maunya aku, siswa nyontek dinasehati guru. Itu jauh lebih mendidik. Anak akan dibawa ke mana? Mentalnya amblas waktu naik mobil tahanan. Belum lagi sejumlah polisi ada di sekolah untuk menjaga soal UN menggawangi hasil UN. Apalagi sejumlah pejabat negara dengan pakaian kebesaran mereka masuk sekolah, lakukan inspeksi saat UN berlangsung. Mereka tunjuk gara-gara di sekolah biar kelihatan ada perhatian begitu," Nona Mia kesal setengah mati.

"Ya baguslah!" jawab Rara
"Bagaimana kalau kita para guru demo saja?"
"Supaya tidak ada kecurangan, supaya hasil UN bersih, supaya kelulusan benar-benar murni."


"Kalau mau hasil bersih dan lulus semua, perhatian pada anak
sudah dilakukan sejak awal, bersamaan dengan proses pendidikan berjalan dari waktu ke waktu. Urusannya pada kebijakan, manajemen sekolah, KBM, kualitas guru, sarana prasarana, semuanya. Jangan datang inspeksi pada saat telur di ujung tanduk, pada hari H. Apalagi bawa-bawa polisi ke sekolah, itu sungguh-sungguh tidak benar kalau kita mau dapat out put yang berkualitas luar dalam."

"Terus sebagai guru kamu bisa bilang apa?" tantang Jaki.
"Tidak bisa bilang apa-apa. Kami tidak berdaya melihat polisi datang, melihat pejabat-pejabat datang, melihat ketegangan di sekolah begitu terasa. Bahkan sebagai guru kami tidak berdaya karena enam bulan sebelum UN urusan kami hanya ke materi UN. Belum lagi melayani para pembesar desa, pembesar kecamatan, pembesar kabupaten, pembesar propinsi yang datang ke sekolah untuk beri perintah, harus lulus sekian persen. Pasang target demi nama baik wajah-wajah penguasa desa sampai propinsi. Kepalaku jadi pusing tujuh keliling."

                                      ***
"Kenapa kamu tidak berani lawan?" tanya Jaki.
"Kita demo saja supaya suara guru-guru didengar!" sambung Rara.

"Tiga tahun belajar di SMA hubungan murid guru berjalan baik. Setiap murid dikenal baik oleh guru-gurunya. Suka duka saat proses KBM berlangsung. Manajemen sekolah dirancang secara terbuka. Berbagai kebijakan yang datang dari atas berusaha dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh sekolah dan guru-gurunya. Namun suasana keakraban di sekolah berubah total saat UN. Wajah-wajah baru muncul di sekolah. Polisi muncul si sekolah. Suasana terasa mencekam. UN menjadi momok yang sungguh-sungguh menakutkan.

Ngeri rasanya. Apa yang harus didemokan? Siapa yang mau dengar?"

"Ya baguslah!" Rara tidak menangkap maksud Nona Mia. "Supaya menjaga kecurangan yang sering dibuat sekolah-sekolah supaya anak-anaknya lulus semua. Baguslah, supaya guru, kepala sekolah, kepala dinas, bupati, dan gubernurnya dipuji karena persentasi lulus UN meningkat."

"Prestasi dan persentasi kelulusan meningkat itu bagus sekali. Itulah harapan kami para guru. Itulah yang kami perjuangkan selama ini. Tetapi kami para guru berjuang bukan untuk makan puji! Tahu kamu!"

"Jangan marah Nona Mia, bukankah kenyataannya kamu sebagai guru tidak sanggup berbuat apa-apa? Bisamu hanya puasa nonton televisi! Diajak demo tidak mau!"
                               ***

Begitulah! Benza setuju tindakan Nona Mia untuk matikan  tivi satu bulan penuh. Untung tivi mati jadi dia tidak perlu nonton bagaimana soal bocor, anak nyontek ditangkap, kecurangan sana-sini, debat soal perlu tidaknya ada UN, anak pingsan, sakit akibat stres UN, bahkan tawuran usai UN, ditambah lagi berbagai berita lain seputar nusantara soal UN yang mengenaskannya. Rasanya tidak sebanding miliaran dana yang dikeluarkan untuk UN dan pembentukan karakter anak-anak bangsa ini.

"Hai Nona Mia, jadi demo?" tanya Jaki dan Rara dengan spanduk anti UN yang sudah disiapkannya.
"Mau ajak Nona Mia demo?" tanya Benza. "Apakah tidak salah sambung?"

"Aku mau pergi dengan Benza! Aku mau pergi makan nasi kuning ulang tahun. Hari ini 22 April mama tercintaku ulang tahun. Besok 23 April adik bungsu mamaku, paman yang paling kusayangi, ulang tahun. Jadi aku mau pulang rayakan ulang tahun mereka!"
                                  ***
"Kami boleh ikut, Nona Mia?"
"Tentu saja! Daripada demo dan hasilnya hanya tabrak tembok tidak bertelinga, lebih baik makan nasi kuning bukan? Apalagi pamanku itu seorang guru yang benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa! Kita bisa diskusi bagaimana menjadi guru sepertinya yang punya hati seluas samudra, punya pikiran yang selalu terisi, dan selalu dikenang murid-muridnya. Aku adalah salah satu muridnya yang percaya padanya."

"Bukankah pamanmu sudah pensiun?"
"Seorang guru tidak pernah pensiun. Sepanjang hidupnya dia tetap seorang guru. Sekalipun negara ini runtuh, guru tetaplah guru. Seribu kali kebijakan pendidikan berubah, seribu kali UN mengkhianati hatiku, guru tetaplah guru." *

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved