• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Pos Kupang

Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D: 10 Doktor dan 30 Magister

Minggu, 15 April 2012 23:33 WITA
Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D: 10 Doktor dan 30  Magister
Ist
Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D
SEPULUH doktor dan tiga puluh magister. Setelah melewati pesta perak dan memasuki usianya yang ke-31, untuk pertama kalinya Universitas Flores memiliki rektor seorang profesor. Untuk pertama kalinya juga universitas  di Kota Pancasila Ende ini memiliki seorang rektor yang bukan orang Ende-Lio.

Dialah Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D, guru besar UGM Yogyakarta yang   saat ini juga sedang  menjalani tugasnya sebagai promotor untuk 12 orang calon doktor dan anggota komisi riset di UGM.

Jelas, Profesor Steph tidak datang ke Ende untuk mencari pekerjaan, tetapi datang untuk  mengabdi semata-mata, karena menurutnya cita-citanya hanya menjadi guru, dan guru tidak pernah menjadi tua. Bagaimana profesor yang matang dengan pengalaman pendidikan, penelitian,  dan pengabdian masyarakat ini melanjutkan  rencana  masa depan Universitas Flores (Uniflor)?

Sebagai guru besar bahasa dan kebudayaan, bagaimana visi misinya dalam membawa Uniflor? Benarkah dalam masa kepemimpinannya akan berupaya mengajukan pendidikan 10 orang doktor dan 30 magister untuk Uniflor?   

Wartawati Pos Kupang, Maria Matildis Banda mewawancarai ayah dua putra yang biasa disapa Pak Steph di ruang kerja Rektor Universitas Flores Ende, Selasa, 27 Maret 2012.  

Apa alasan Pak Steph pulang ke Flores dan menjadi Rektor Uniflor?
Amat pribadi. Saya merasa sudah bekerja dan menyumbang sedikit keahlian saya selama 40 tahun  di UGM. Saya tidak pernah memberi apa-apa di Flores.  Dulu,  waktu kuliah, saya  mendapat bantuan dari SVD untuk biaya penulisan skripsi. Saya merasa belum pernah memberi sesuatu di

Flores, terutama untuk SVD   Ende. Setelah selesai di Yogya tahun 1970 waktu lulus S1 saya berniat pulang. Saya menulis  surat untuk pemberi beasiswa. Tetapi waktu itu jawabannya
tenaga bahasa Inggris sudah ada bahkan lebih.  Saya juga bertanya kepada pemberi beasiswa,  apakah saya boleh bekerja di UGM sebelum pulang Ende? Jawabannya positif, boleh.

Saya sempat mengajar di UNDIP Semarang, tetapi kemudian kembali ke UGM dan menetap di sana. Sampai sekarang masih selalu kembali ke UGM untuk membimbing para kandidat doktor bidang linguistik kebudayaan dan pengkajian Amerika.

Cukup nyamankah kedudukan Pak Steph sekarang? Selama ini rektor selalu orang dalam dan orang Ende-Lio pula. Pak Steph bukan orang dalam, bukan orang Ende-Lio. Modal apa yang Pak Steph bawa ke Uniflor?   
Modal saya, pertama, pemahaman cukup baik soal budaya; kedua, pemahaman cukup baik  soal  multikultur; ketiga, memiliki kombinasi pengetahuan cukup baik; keempat mengetahui  perkembangan ilmu pengatahuan modern. Ini empat modal yang sangat baik untuk bisa mulai. Saya sudah dua tahun di sini. Saya datang ke sini tidak untuk menjadi rektor, tetapi menjadi staf ahli saja.

Memberi masukan kepada ketua yayasan dan rektor. Pada masa awal cukup sulit. Saya berkantor di perpustakaan  karena saya tidak suka melangkahi teritori orang lain. Saya harap dosen-dosen boleh datang pada saya dan kita bahas sama-sama hal-hal yang perlu. Sekarang baik, jauh lebih baik.

Dari aspek multikultur soal positif apa yang Pak Steph amati dari situasi sekarang yang jauh lebih baik dibandingkan ketika baru datang dua tahun lalu?  
Bagus sekali  mereka belajar untuk menerima orang dari luar untuk memimpin, itu poin plus bagi mereka.  Multikutural itu artinya benar-benar menghargai perbedaan  sebagai sesuatu yang bernilai.  Mereka  menerima, they have created a space in their counsiousness untuk  orang bukan Ende-Lio. Ini ekologi berpikir yang sangat bagus. Menciptakan kesadaran baru
dalam ruang berpikir dan ruang kesadaran.  Ekologi berpikir itu intinya multikultur dan kesadaran humanis. Perguruan tinggi harus seperti  itu.   Karena keberagaman menuntut genetic pool yang sehat. Kalau kita bisa melihat keberagaman, kita akan menjadi kaya sekali.
 
Bukankah selama ini SDM di Uniflor cukup memberi warna pluralitas, baik dosen, pegawai maupun mahasiswanya?
Betul! Sama seperti NTT. Namun  pluralitas saja tidak cukup. Pluralitas hanya berpikir bahwa ada banyak keragamanan. Tetapi pluralitas juga melihat ada yang lebih kuat, ada yang lemah. Ada yang diutamakan, ada yang terpinggirkan. Ada yang lebih tinggi dan lebih penting dari yang lain. Sangat berbeda dengan multikultur. Multikultur itu saling menghargai satu sama
lain. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih penting dari yang lain. Semua pihak sama berartinya, tidak ada yang terpinggirkan. Yang paling kecil dan rendah pun mesti mendapat tempat. Itulah multikultural. Multikultural lebih terbuka dan diterima.

Jadi sekarang ini senang di Ende, senang di Uniflor?
Pada waktu pencalonan saya tolak karena  khawatir apakah saya benar-benar bisa diterima. Sekarang sudah merasa lebih baik. Sudah ada  pertemuan beberapa kali, ceramah umum, saya senang dan mulai merasa diterima karena menjadi bagian dari keseharian Uniflor. Perasaan ini sangat mahal. Perasaan nyaman, kenyamaaan yang saya buat secara semiotika.

Semiotika yang saya buat supaya orang yang datang merasa akrab.  Rektor dengan Pembantu Rektor dan senat silakan bicara terbuka. Lihat ruang rektor ini sekaligus menjadi ruang rapat. Hal yang sangat tidak biasa di Uniflor. Bahkan ada yang sudah sepuluh tahun tidak pernah masuk ruang rektor. Ruang rektor sekarang nyaman untuk keterbukaan. Kami ada di tiwu nitu. Dalam adat Bajawa tiwu nitu tempat orang bertemu, pengetahuan bertemu dan komunikasi bertemu.

Ada yang terus terang tanya kenapa sudah pensiun di tanah orang baru mau pulang? Bagaimana Pak Steph menyikapi ini?
Ada yang terang-terangan bilang kok sudah pensiun baru ke sini. Apa pun yang dipikirkan, diungkapkan secara terbuka, itu bagus.    Itu pertanyaan yang jujur. Itu jauh lebih bagus. Saya adalah seorang guru. Bagi guru tidak ada waktu untuk pensiun dan menjadi tua. Tidak ada waktu tua  untuk memperjuangkan pendidikan.  Guru tidak pernah menjadi tua, pengalamannya
membuatnya menjadi lebih muda. Filsafat pendidikan pribadi saya: pendidik yang baik harus mulai dengan cinta kasih.

Cinta pada orang yang akan terlibat dengan kita dan cinta pada orang yang akan kita didik, baru setelah itu ada disiplin dan tertib dan ajar ketertiban. Hal ini dapat dilakukan sepanjang hidup.

Saya dengar, setelah Pak Steph datang ke Uniflor sudah dua kali dilaksanakan studium generale. Mulai 2011 dan lebih maju lagi pada 2012. Apa reaksi para dosen dengan program ini?
Betul. Studium generale atau kuliah umum sudah berjalan dua kali dimulai 2011 lalu. Mereka terkejut. Ada dosen senior yang bertanya, mengapa  dari dulu tidak melaksanakan studium generale ini. Yang pertama 2011, itu kita ambil tema umum, lalu lima orang doktor di Unflor masing-masing bicara sesuai bidang ilmu dia, audiensnya semua dosen, wajib hadir.  

Semua kegiatan harus diarahkan kepada kemampuan menulis dan meneliti, termasuk kerangka pembelajaran, untuk menjadi dosen yang lebih baik. Stadium generale yang kedua, lebih ramai karena dalam studium generale kedua, para dekan pun bicara sehingga pelan-pelan muncul persoalan mereka yang selama ini tidak dibicarakan, muncul dengan sendirinya. Melaui studium generale, ada semangat baru, untuk mengeritik diri sendiri.  

Mengenai strategi belajar mengajar, kritik diktat yang harus dibayar mahasiswa, kritik diri sendiri bagaimana mahasiswa bayar ujian proposal, mengkritik diri sendiri dengan diktat-diktat yang sudah sangat tua usianya tanpa penambahan sesuai perkembangan ilmu.

Sebagai guru besar bidang bahasa dan kebudayaan, apa yang akan dilakukan bagi Uniflor?
Bahasa dan budaya adalah two sides of the same coin, dua sisi mata uang yang sama.  Saya ingin agar kita sebagai dosen, sebagai mahasiswa dan lulusan Uniflor menjadi mediator budaya yang paham ilmu, teknologi dan pengetahuan modern. Jangan lupa dengan kearifan lokal dan kearifan tradisional.

Skripsi harus berbicara tentang filsafat orang kita. Filsafat yang menggerakkan mereka sebagai orang Flores yang seutuhnya. Perguruan tinggi tempat orang membina ilmu pengetahuan modern, tetapi jangan lupa pada kearifan lokal yang dapat dibaca melalui bahasanya.

Orang bicara mengenai sastra itu adalah sejarah intelektualnya orang kita.  Kehancuran kita terjadi karena lupa pada kearifan lokal. Kalau ahli fisika cerita tentang big bang alam semesta kita bisa bicara tentang big bang budaya. Budaya lokal harus dibicarakan benar-benar, sebab ketika satu budaya mati, kita kehilangan ensiklopedi besar dari manusia.

Apa pentingnya mediator budaya bagi pembangunan masyarakat?
Persoalannya banyak sarjana yang tidak terlalu tertarik dengan kebudayaan lokal, bahasa, apalagi belajar dari kearifan lokal masyarakatnya sendiri. Universitas ini ke depannya harus menciptakan sarjana apapun sebagai mediator budaya. Kalau tidak bisa jadi mediator budaya percuma lulus perguruan tinggi.

Soalnya kalau sudah ke tengah masyarakat, kita bisa buat apa dengan masyarakat kalau tidak memahami budaya lokal dengan baik. Kita tidak boleh lupa bigbang budaya. Saya mau buka pusat studi tradisi lisan di Uniflor.

Uniflor harus menjadi magnit di timur untuk menarik orang kepada studi yang betul mengenai kombinasi antara pengetahuan ilmu modern dan pengetahuan alamiah yang sifatnya kearifan lokal.

Menurut Pak Steph apa yang paling urgen untuk diperbaiki di Uniflor?
Tadinya, saya berpikir ingin memberbaiki sistem dan model, kemudian setelah saya timbang-timbang bukan di situ jawabannya, jawabannya pada SDM. Menurut saya dari sisi SDM  ada harapan besar untuk maju. Konkretnya saya minta yayasan dana untuk meneliti dan ini sudah mulai. Yayasan membiaya penelitian untuk peneliti muda.  

Dalam masa kepemimpinan saya, kalau bisa, dosen yang kuliah S3   setidak-tidaknya 10 orang, dan S2    30-an orang terutama untuk menolong FKIP. Apalagi tahun 2015 sudah berlaku aturan yang boleh mengajar S1 hanya S2. Kami juga berusaha membangun kerja sama  penelitian dengan Pemda Ende dan Pemda lainnya

di Flores dan Propinsi.   Sekarang ada 8 orang peneliti yang bekerja sama dengan Pemda Ende. Penelitian bidang  hukum khususnya hukum adat lebih khusus lagi tentang pertanahan,
penelitian pertanian dan ketahanan pangan, sertta bahasa bahasa dan budaya. Kita mesti belajar pengetahuan tradisional yang terungkap melalui bahasa dan budaya.

Ada rencana lainnya tentang Pengembangan SDM dan Uniflor berbasis budaya lokal?
Membangun jaringan kerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia yang sejak Desember 2010 lalu  sudah diakreditasi UNESCO. Kerja sama ini diharapkan dapat melahirkan Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tradisi Lisan Flores. Kerja sama ini bentuknya disesuaikan dalam  bentuk   kuliah S2 dan S3, penelitian, dan magang di beberapa perguruan tinggi yang studi budayanya sudah kuat. Bidang garapannya bisa teknik dan arsitektur tradisional, bahasa, sastra, ekonomi, sejarah lokal, pertanian, hukum adat, religi asli, dan bentuk-bentuk kearifan lokal lainnya. Intinya kita harus bisa menjadikan Unflor sebagai magnit ke timur. (*)

Magnet Indonesia Bagian Timur

REKTOR Universitas Flores (Uniflor) Prof. Stephanus Djawanai, Ph.D adalah putra asli Bajawa  kelahiran 10 Oktober 1943. Sulung dari tiga belas bersaudara ini menyadari betul bahwa keberhasilan mengemban tugas ke depan sangat bergantung pada dukungan dari semua anggota  pengurus Yapertif dan semua sivitas akademika dan karyawan Universitas Flores.

Oleh sebab itu suami dari Katarina Maria Retno Saraswati dan  ayah dua putra Endra Djawanai dan Wisnu Djawanai ini memohon dukungan dan kerja sama,  saran, dan kritik demi membangun institusi Uniflor menjadi lebih baik, unggul, inovatif, dan mampu bersaing.

Dengan segudang pengalaman pendidikan yang sudah dijalani, tampaknya keberadaannya di Uniflor cukup menjanjikan, dan dirinya sendirilah adalah orang pertama magnet itu. Mengikuti
pendidikan SD di Ende dan Bajawa, SMA di Seminari Mataloko dan SMAK Syuradikara Ende, Sarjana Muda dan Sarjana bahasa Inggris di UGM Yogyakarta, Master of Arts, Linguistics  dan Philosophical Doctor, Linguistics, di Univ of Michigan Ann Arbor, MI, USA.

Integritas  keilmuan dan pengabdiannya pada studi pengembangan bahasa dan budaya memudahkan jalannya mendapat berbagai bea siswa dan hibah terseleksi. The Rockefeller Foundation untuk studi  master dan Ph.D bidang Linguistics pada University of Michigan, Ann Arbor, Michigan USA (1975-1980), Fullbright untuk menghadiri American Studies di Kyoto Jepang (1983), University  of California System Grants untuk program pengajaran Bahasa Indonesia di Santa Barbara, San Fransisco, santa Cruz, Berkeley, San Diego, Los Angeles, dan university of Washington, Seattle (1988 dan 1990),  Fullbright grant untuk mengikuti One Month Moving Seminar, Internasional Visitor's Program di Washington DC, University of Utah, University   of Illinois, University of Lousiana, dan New York City (1993), Australia-Indonesia Institute grant untuk Seminar Bahasa Indonesia di ANU, Canberra, an mengunjungi University of Sydney, Monash University, University of Adelleide, University of Nothern Territory (1995).

Kematangan pendidikan, penelitian, dan pelayanan yang membentuk dirinya, sangat meyakinkan  ketika Profesor Steph menawarkan visi   untuk melengkapi rumusan yang telah ada di Uniflor.

Visinya adalah Uniflor diproyeksikan menjadi institusi yang merupakan magnet di Indonesia  Bagian Timur, terutama wilayah kepulauan pada perbatasan tanah air, berdasarkan ciri pendidikan yang humanis dan multikultural. Ketika ditanya apa yang dimaksudkannya dengan magnet?

Dengan jelas Pak Steph katakan: "Saya berani mengatakan kita harus menjadi magnet di timur. Ini sebuah visi ke depan agar Uniflor menjadi pusat perhatian orang. Magnet yang saya maksudkan daya tarik dari keyakinan, harga diri, martabat, karakter Flores yang  diterima dengan mudah karena ada ragi dan terang di dalamnya.   Karena magnet itu akan menjadi sumber daya ke depan. Uniflor harus menjadi benteng yang khas Flores dengan segenap kearifan yang dimilikinya.  

Kita yang  mesti berjuang untuk mempertahankan Flores sebagai benteng yang berkarakter dengan tidak pernah menutup mata dengan dunia luar. Uniflor menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pelayanan masyarakat. Untuk itu harus dikondisikan dengan start with love, discipline, teach,   train, and educate (mulai  dengan cinta, disiplin, pengetahuan, ketrampilan, dan pendidikan, red)." Bagaimana Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D menjalani tugas beratnya memimpin Unflor? Waktu yang akan menjawabnya.

Bahwa universitas adalah suatu organisasi pembelajaran (learning organization) yang keberlanjutannya tergantung dari kuatnya ekologi pikir dan ekologi sosial  manusianya.
Untuk mencapai apa yang dikemukakan di atas bagi Universitas Flores dan bagi bangsa Indonesia yang amat dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang unggul.

Oleh  karena itu pendidikan harus diarahkan kepada ekologi manusia yang menonjolkan kecerdasan atau  inteligensi, dan integritas pribadi, hubungan sosial yang berbela rasa dan bersetiakawan,  dan  spiritualitas yang baik sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Sebagaimana dijelaskan Pak Steph   kecerdasan adalah kombinasi dari semua proses mental yang diarahkan kepada adaptasi efektif dengan lingkungan fisik, sosial dan spiritual atau kejiwaan. Selamat  bertugas Profesor. Sukses. Tuhan memberkati. (dis)
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
75227 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas