Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D: 10 Doktor dan 30 Magister

Setelah melewati pesta perak dan memasuki usianya yang ke-31, untuk pertama kalinya Universitas Flores memiliki rektor seorang profesor

Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D: 10 Doktor dan 30  Magister
Ist
Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D

Dialah Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D, guru besar UGM Yogyakarta yang   saat ini juga sedang  menjalani tugasnya sebagai promotor untuk 12 orang calon doktor dan anggota komisi riset di UGM.

Jelas, Profesor Steph tidak datang ke Ende untuk mencari pekerjaan, tetapi datang untuk  mengabdi semata-mata, karena menurutnya cita-citanya hanya menjadi guru, dan guru tidak pernah menjadi tua. Bagaimana profesor yang matang dengan pengalaman pendidikan, penelitian,  dan pengabdian masyarakat ini melanjutkan  rencana  masa depan Universitas Flores (Uniflor)?

Sebagai guru besar bahasa dan kebudayaan, bagaimana visi misinya dalam membawa Uniflor? Benarkah dalam masa kepemimpinannya akan berupaya mengajukan pendidikan 10 orang doktor dan 30 magister untuk Uniflor?   

Wartawati Pos Kupang, Maria Matildis Banda mewawancarai ayah dua putra yang biasa disapa Pak Steph di ruang kerja Rektor Universitas Flores Ende, Selasa, 27 Maret 2012.  

Apa alasan Pak Steph pulang ke Flores dan menjadi Rektor Uniflor?
Amat pribadi. Saya merasa sudah bekerja dan menyumbang sedikit keahlian saya selama 40 tahun  di UGM. Saya tidak pernah memberi apa-apa di Flores.  Dulu,  waktu kuliah, saya  mendapat bantuan dari SVD untuk biaya penulisan skripsi. Saya merasa belum pernah memberi sesuatu di

Flores, terutama untuk SVD   Ende. Setelah selesai di Yogya tahun 1970 waktu lulus S1 saya berniat pulang. Saya menulis  surat untuk pemberi beasiswa. Tetapi waktu itu jawabannya
tenaga bahasa Inggris sudah ada bahkan lebih.  Saya juga bertanya kepada pemberi beasiswa,  apakah saya boleh bekerja di UGM sebelum pulang Ende? Jawabannya positif, boleh.

Saya sempat mengajar di UNDIP Semarang, tetapi kemudian kembali ke UGM dan menetap di sana. Sampai sekarang masih selalu kembali ke UGM untuk membimbing para kandidat doktor bidang linguistik kebudayaan dan pengkajian Amerika.

Cukup nyamankah kedudukan Pak Steph sekarang? Selama ini rektor selalu orang dalam dan orang Ende-Lio pula. Pak Steph bukan orang dalam, bukan orang Ende-Lio. Modal apa yang Pak Steph bawa ke Uniflor?   
Modal saya, pertama, pemahaman cukup baik soal budaya; kedua, pemahaman cukup baik  soal  multikultur; ketiga, memiliki kombinasi pengetahuan cukup baik; keempat mengetahui  perkembangan ilmu pengatahuan modern. Ini empat modal yang sangat baik untuk bisa mulai. Saya sudah dua tahun di sini. Saya datang ke sini tidak untuk menjadi rektor, tetapi menjadi staf ahli saja.

Memberi masukan kepada ketua yayasan dan rektor. Pada masa awal cukup sulit. Saya berkantor di perpustakaan  karena saya tidak suka melangkahi teritori orang lain. Saya harap dosen-dosen boleh datang pada saya dan kita bahas sama-sama hal-hal yang perlu. Sekarang baik, jauh lebih baik.

Dari aspek multikultur soal positif apa yang Pak Steph amati dari situasi sekarang yang jauh lebih baik dibandingkan ketika baru datang dua tahun lalu?  
Bagus sekali  mereka belajar untuk menerima orang dari luar untuk memimpin, itu poin plus bagi mereka.  Multikutural itu artinya benar-benar menghargai perbedaan  sebagai sesuatu yang bernilai.  Mereka  menerima, they have created a space in their counsiousness untuk  orang bukan Ende-Lio. Ini ekologi berpikir yang sangat bagus. Menciptakan kesadaran baru
dalam ruang berpikir dan ruang kesadaran.  Ekologi berpikir itu intinya multikultur dan kesadaran humanis. Perguruan tinggi harus seperti  itu.   Karena keberagaman menuntut genetic pool yang sehat. Kalau kita bisa melihat keberagaman, kita akan menjadi kaya sekali.

Halaman
1234
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help