Kabut di Tengah Bukit
HAMPARAN rumput hijau sore itu bak sebuah permadani. Dengan malas aku merebahkan tubuhku dan memanjakannya di atas permadani alami itu.
Cerpen Ira Gantir
HAMPARAN rumput hijau sore itu bak sebuah permadani. Dengan malas aku merebahkan tubuhku dan memanjakannya di atas permadani alami itu. Sungguh indah dan nyaman. Sejuknya semilir angin pegunungan mengisi setiap rongga dadaku dan memompa setiap energi negatifnya di dalamnya keluar melalui tenggorokan dan terhembus melalui napas yang lembut.
Kaki bukit ini ternyata begitu indah. Apalagi kala sore hari dibawah terpaan cahaya mentari. Tak heran setiap muda - mudi yang lagi kasmaran penasaran ingin menikmati romantisme di sini. Aku tersenyum geli.
Ketika pikiranku tentang sepasang kekasih ada dikepalaku saat itu pula melintas sepasang muda - mudi mengendarai sepeda motor kemudian mengambil tempat yang cukup jauh dariku. Tentunya mereka tak ingin terganggu dengan kehadiranku. Aku tak peduli. Yang aku inginkan sore ini aku mendapatkan ketenangan setelah jenuh melalui hari - hariku.
"Hai," suara lembut mirip desahan mendarat di telingaku. Aku terkejut dan mataku membelalak ketika di depanku ada seorang gadis cantik umur belasan tahun. Jangan - jangan setan, pikirku.
Gadis itu tersenyum menyambar tanganku ketika aku berusaha bangun dan hendak berlari.
" Hai," katanya lagi. Aku melihat sekelilingku. Sepi. Aku terlalu jauh dalam lamunanku sehingga tak menyadari kalau senja itu sekarang cuma ada aku dan gadis cantik itu. Tangannya hangat dan lembut. Aku kini sadar dia bukan hantu.
"Hai juga" jawabku setelah lama terdiam. " Jangan suka menyendiri apalagi di daerah pegunungan seperti ini, Rina " katanya sambil mengulurkan tangannya. " Anastasia" sambutku. Tangan gadis itu memang sangat lembut dan semilir angin menghantarkan aroma tubuhnya yang sangat harum.
Belum pernah aku melihat gadis secantik Rina. Tubuhnya tinggi langsing, putih mulus, cantik dan harum. Dari wajahnya aku yakin dia bukan gadis dari daerahku. Lamunanku kembali ketika Rina mengibaskan tangannya di depan wajahku." Aku jenuh saja," kataku singkat.
Rina merebahkan tubuhnya di rerumputan. " Kalau aku menyendiri itu biasa. Aku tidak punya teman. Walaupun orang disekitarku banyak tapi aku tetap merasa sendiri. Di sini aku lebih merasa mempunyai teman. Rumput yang hijau, kabut yang dingin dan cahaya surya yang bersahabat. Aku yakin kamu dari keluarga baik - baik. Sendiri bukanlah pilihan yang tepat seperti yang aku lakukan."
Rina megambil ujung rumput dan menggigitnya. " Kamu tahu, pertama aku dikirim ke sini aku merasa agak senang. Dulu aku mendengar penduduk daerah ini masih kuat memegang nilai - nilai moral. Besar harapanku kedatangan kami ke daerah ini akan ditolak atau kegiatan kami dibubarkan. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Disana dan disini sama saja. Kamu tahu banyak penduduk sini yang munafik?"
"Maksudmu?" tanyaku. Aku mulai tertarik dengan pembicaraannya walau sebenarnya aku tak mengerti. Rina tertawa kecil. Sepertinya dia menikmati kebingunganku.
"Kamu bayangkan saja. Begitu banyak laki-laki hidung belang yang datang ke tempatku.
Banyak yang berduit namun tentu tak bermoral. Dengan banyak alasan datang, karena bosan, karena sering cekcok dengan pasangan dan ada pula yang hanya ingin bersenang - senang. Terlalu naïf jika kamu menganggap penduduk daerah ini semuanya masih suci. Jadi saranku jangan suka menyendiri non."
" Jangan menakuti aku" ujarku dengan wajah mulai menegang. Aku merasakan disekitarku berdiri orang - orang jahat seperti yang dikatakan Rina.
Matahari diufuk barat mulai turun. Aku tak mau lama - lama lagi disini. Dengan gerak cepat aku bangun dan melangkah pergi. " Aku pulang, mau kuantar?" tanyaku sambil menghidupkan mesin motorku. " Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,"jawab Rina. Motorku sudah bergerak namun hatiku ingin bertanya.
"Dimana tempat tinggalmu?" tanyaku. Rina menunjuk sebuah bangunan di kejauhan dengan terang yang remang - remang tertutup kabut senja. Aku tersenyum kepadanya dan entah mengapa ada rasa sedih dalam hatiku ketika aku beranjak pergi.
Saat senja di akhir pekan, aku menempatkan diri untuk datang lagi ke kaki bukit itu. Namun kali ini dengan sedikit perasaan takut. Kata - kata Rina seperti masih menghantui langkahku namun kedatanganku ke kaki bukit ini didorong rasa penasaran.