Rabu, 10 Juni 2026

Catatan Untuk Para Juventini

Hasrat bergelora meraih scudetto Serie A 2011/12 melecut denyut pecinta Juventus bergegas berteriak, saatnya mengobarkan revolusi sarat cinta.

Tayang:
Editor: Sipri Seko

Oleh A.A. Ariwibowo

POS-KUPANG.COM -- Hasrat bergelora meraih scudetto dalam atmosfer Serie A pada 2011/12 melecut denyut pecinta Juventus bergegas berteriak, saatnya mengobarkan revolusi sarat cinta. Modalnya, hasrat tiga cinta sang allenatore, Antonio Conte.

Hai juventini -sebutan penuh cinta bagi mereka yang mengasihi Juventus - kasihilah dan cintailah Conte dalam untung dan malang.

Ingat juventini, tim kesayangan anda, kembali menggeser posisi AC Milan di puncak klasemen setelah mampu menggasak Palermo 2-0 dalam laga lanjutan Serie-A, Sabtu (7/4/2012). Juventus menguasai klasemen dengan 65 poin, atau unggul satu angka dari Milan.

Perjuangan toh masih panjang meski ada kerinduan sana sini. Setidaknya juventini ingat, bahwa scudetto pernah mampir pada 2002/03.

So, Juventus banyak menuai puja-puji sebagai tim yang belum pernah kalah di Serie A dan memiliki salah satu pertahanan terbaik di Eropa meneruskan salah satu tradisi sepak bola Italia dengan merek dagang "cattenaccio" (grendel).

Siapa sutradara Juventus? Dia Antonio Conte yang disebut-sebut sebagai titisan dari manajer tersukses di kolong langit ini Jose Mourinho.

Sama-sama suka meneror anak asuhannya dengan pilihan kata-kata yang bernas tepat sasaran, Conte mendaulat para pemainnya agar "sampai muntah darah" berjuang demi memberi kebanggaan kepada juventini.

Tidak percuma pernah berkostum Juventus selama 13 musim, pelatih kelahiran Lecce pada 31 Juli 1969 itu mampu membangkitkan kembali roh Juventus (Il Spirito Juve) untuk merayu dewi Fortuna agar memberi kemenangan demi kemenangan bagi kejayaan tim dan kebanggaan juventini.

Conte paham betul luar dalam roh Juventus. Seabrek pengalaman dan setulus sembilan cinta Conte mampu mendoktrin para pemainnya untuk memahami siapa, apa dan bagaimana Juventus di ziarah sepak bola Italia.

Juventus terlahir dan berkembang sebagai tim yang menghidupi tradisi serba punya dua sisi. Juventini bisa mencintai bila tim kesayangannya meraup kemenangan. Kosok balik, juventini bisa membenci bila tim kesayangannya menemui kekalahan.

Juventini seakan terkutuk oleh takdir kehidupan manusia yang berbunyi, begitu manusia terlahir, saat itu juga ia bakal menemui ajal.

Bila kalah, jutaan juventini akan merangsek tim kesayangannya. Bila menang, mereka akan menyuarakan suka cita sampai pelosok Turin.

Kini, juventini punya kekasih hati yang menebar benih kasih tanpa meminta imbal balik. Tidak ingin disebut sebagai sosok yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, Conte menghidupi doktrin Juventus dengan cinta.

Cinta yang pertama, Conte berani mengubah strategi permainan dari formasi 4-4-2 dengan menerapkan pola 4-2-4 atau 4-3-3.

Seluruh pemain tanpa kecuali dituntut bisa menyerang, terutama pemain yang menempati posisi fullback dan winger. Ia menginginkan para pemainnya punya kecepatan dan kemampuan determinasi mumpuni. Cinta menuntut keberanian merevolusi diri sendiri.

Sumber:
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved