Selasa, 9 Juni 2026

Membekas di Hati

LAHIR, besar dan sudah mendarah daging dengan suasana hidup di ibu kota negara ternyata tidak membuat gadis kelahiran 21 September 1985.

Tayang:
Editor: Sipri Seko
zoom-inlihat foto Membekas di Hati
dr. Irawaty Laura Manurung
Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Servan Mamilianus

LAHIR,
besar dan sudah mendarah daging dengan suasana hidup di ibu kota negara ternyata tidak membuat gadis kelahiran Jakarta, 21 September 1985 ini enggan bertugas di daerah yang fasilitasnya masih sangat terbatas. Sepintas, gadis ini terlihat sudah beradaptasi dengan kebiasaan dan keadaan di Flores, khususnya di Kabupaten Nagekeo.

Dialah dr. Irawaty Laura Manurung, salah satu dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kabupaten Nagekeo. Pemilik kulit putih berdarah Batak Toba ini mempunyai alasan tersendiri sehingga berani bertugas di Kabupaten Nagekeo dan jauh dari orangtua serta sanak saudara tercinta.

"Saya pertama kali ke Flores bulan Oktober 2009 lewat Ende, dengan tujuan Desa Waekokak, Kabupaten Nagekeo. Interaksi saya pertama kali dengan masyarakat Waekokak saat itu membuat saya jatuh cinta dengan masyarakat di Nagekeo. Masyarakatnya sangat ramah dan apa adanya. Kesan itu yang selalu membekas di hati saya. Nilai-nilai seperti itu tidak ada lagi di Jakarta," tutur pemilik senyum manis ini kepada Pos Kupang, Sabtu (31/3/2012).

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran-Bandung tahun 2009 ini, datang ke Waekokak untuk mengikuti kegiatan Green Music Foundation (GMF) bersama artis papan atas, Gllen Fredly.

"Setelah kegiatan itu, karena saya sudah lihat Ende maka saat awal menjadi PTT pada bulan April 2010, saya memilih Ende untuk menjalani tugas PTT sampai April 2011. Sebenarnya pingin langsung PTT di Nagekeo, tetapi waktu itu belum siap. Selain itu, karena Ende fasilitas yang ada kelihatannya lebih bagus. Tetapi selama tugas di Ende, tetap saja kesan pertama saya tentang Nagekeo selalu membekas di hati. Makanya ketika GMF saat itu menyelenggarakan lagi kegiatan di Waekokak, saya sangat senang. Saya mengurus semua persiapannya. Selama PTT di Ende, saya dua kali ke Waekokak," kisah dokter yang sudah mulai lengket dengan dialeg Nagekeo ini.

PTT di Ende hanya berlangsung satu tahun. Selanjutnya, gadis yang memiliki hobi bertualang ini kembali ke Jakarta, April 2011. Berkat sumbangsihnya juga, salah satu kelompok Paduan Suara bernama Fy dari Jakarta datang menyelenggarakan kegiatan sosial di Waekokak berkaitan dengan kebutuhan penerangan listrik bagi warga setempat.

"Bulan Mei 2011 saya mengunjungi lagi Waekokak bersama utusan dari kelompok Paduan Suara Fy. Saat itulah saya seperti mendapat peneguhan di hati untuk menjadi PTT di Nagekeo. Akhirnya dengan bantuan  beberapa pihak, saya bisa menjadi PTT di Nagekeo dan bertugas di Puskesmas Danga mulai Oktober 2011 selama satu tahun ke depan," kata tamatan SMAN 70 Bulungan Jakarta Selatan tahun 2003 ini.

Dia membangun komitmen dalam dirinya untuk memberikan yang terbaik buat masyarakat Nagekeo. "Saya mau melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu kesejahteraan di bidang kesehatan semaksimal mungkin untuk masyarakat di Nagekeo. Saya tahu, banyak masyarakat yang masih membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan. Di sisi lain, penyebaran tenaga dokter di Indonesia Timur belum merata. Itulah hal lain yang membuat saya senang bertugas di sini," kata dokter mudah yang sudah memiliki tambatan hatinya.

Jebolan SMP Katolik Charitas Jakarta tahun 2000 ini, mengaku sudah betah berada di Mbay-Nagekeo. "Sekarang semakin jatuh cinta dengan Nagekeo. Semakin banyak masyarakat yang saya kenal, makin banyak orang yang saya temui dan makin banyak keramahan yang saya terima," kata Dokter Novi, sapaan akrabnya. (Servatinus Mammilianus)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved