Selasa, 9 Juni 2026

Yang Penting Pencitraan

GARA-GARA demo tolak kenaikan BBM suaranya jadi serak bahkan cenderung hilang.

Tayang:
Editor: Sipri Seko

Oleh Maria Mathildis Banda

GARA-GARA demo tolak kenaikan BBM suaranya jadi serak bahkan cenderung hilang. Ditambah dengan batuk dan pilek kambuhan, kelelahan, suaranya pun nyaris hilang sama sekali. Untung masih bisa berbisik, meskipun susah dimengerti apa yang mau disampaikan melalui bisikannya.  

"Pingin ke jalanan dan teriak-teriak lagi? Demo?" tanya Jaki. "Ngomong yang jelas dong, biar aku mengerti apa sebenarnya yang engkau inginkan! Kalau bisik-bisik begini kepalaku jadi pusing. Apa? BBM? Jangan naik? Rakyat susah? Apa? Oooh tolak BBM maksudmu?" tanya Jaki dan Rara mengangguk sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Oooh maksudmu kamu mau ikut turun ke jalan lagi? Mau demo lagi? Mau teriak-teriak lagi?" Tanya Jaki dan Rara mengangguk. "Tetapi suaramu sudah hilang dan bagaimana bisa kedengaran kalau hanya bisik-bisik.   Oh ya kamu bisikan ke ketelingaku, selanjutnya aku yang sampaikan ke publik peserta demo nanti. Oke, aku pasti bisa. Kita ke perempatan jalanan ramai di pusat kota lalu pasang aksi demo tolak BBM ya..."
                                                  

                                                  ***
"Coba baca ini, politisi senior  Akbar Tandjung menganggap sah-sah saja mahasiswa menggelar demonstrasi menyuarakan aspirasi. Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia atau YLBHI, mengaku sempat meneriaki mahasiswa agar tidak bertindak brutal dan merusak kendaraan polisi. Namun, setelah demo antikenaikan harga BBM yang berakhir bentrok dengan polisi di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis dua puluh sembilan malam itu, polisi justru merangsek dan menggeledah kantor YLBHI/LBH Jakarta. Sebelas anggota Polri menjadi korban bentrok antara aparat dan mahasiswa  yang berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM bersubsidi di Salemba, Jakarta, Kamis malam," demikian Benza membaca dengan teliti.

"Waduh, ada komentar, ada bentrok, ada korban. Semua gara-gara BBM. Capek deh. Teriak sampe bengkok juga, tetap BBM tetap naik. Hah, apa yang akan kulakukan?" Nona Mia tampak putus asa.

"Demo lagi Nona Mia! Makanya aku datang saat ini, mau ajak demo lagi. Biar Rara yang bicara."

"Bukankah suaranya sudah hilang? Bagaimana mungkin bisa kedengaran waktu demo nanti?" tanya Nona Mia.

"Dia bisik-bisik ke telinga kita, kita yang sampaikan bergantian ke publik. Bahwa kita ini mendukung Rara, si pejabat publik yang vokal dan pro rakyat! Bagus bukan?"

"Bagaimana menurutmu, Benza?"
                                              
                                            ***
"Dengar lagi kubaca untuk kalian semuanya. Bentrok pendemo anti kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi   dengan aparat yang berlangsung anarkis di Salemba Jakarta dan Makassar Kamis 29 Maret 2012 membuat Menko Polhukam Djoko Suyanto menggelar jumpa pers dadakan. Jumpa pers dini hari ini digelar di kantor Menko Polhukam Jalan Merdeka Jakarta Barat. Unjuk rasa menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak terus berlanjut. Di Kabupaten Cirebon dan Indramayu, ruas jalan Pantura menjadi sasaran aksi massa. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta keamanan negara dijaga terkait rencana "ketok palu" atas kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak per 1 April mendatang. Nah, kalian dengar bukan?" tanya Benza. "Sudah ketok palu, tidak ada kompromi lagi. BBM pasti naik, pasti! Lalu untuk apa demo? Untuk apa teriak-teriak sampai suaranya hilang? Untuk apa demo lagi?"

"Tetapi Rara nekat mau demo lagi?"

"Untuk apa? Palu sudah diketuk? Kita tak bisa buat apa-apa..."

"Tetapi Rara kan pejabat publik, tokoh yang pro rakyat, biar bagaimana pun harus buka suara. Supaya orang-orang pada tahu bahwa Rara sudah berbunyi untuk rakyat. Tolak kenaikan BBM."

"Kalau hanya soal bunyi saja tanpa hasil nyata mau untuk apa? Apa hasilnya?"

"Demi pencitraan! Pencitraan. Biar kentara hebat sudah tampak pro rakyat bukan? Yang penting kan sudah ngomong, orang-orang sudah pada tahu. Bukankah demikian? Jadi biarkan saja Rara demo lagi demi citra dirinya. Kita bertiga hanya datang untuk dukung demonya itu. Gampang sekali bukan?" Jaki berkeras.
                                              
                                              ***
"Bagaimana menurutmu, Benza?" tanya Nona Mia.

"Dengar sekali lagi, apa yang kubaca ini," kata Benza. "Kendati babak belur karena baku hantam dengan polisi, sejumlah pengunjuk rasa di Pekanbaru mengaku puas lantaran tuntutan mereka agar DPRD Riau secara resmi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak  tercapai."

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved