Puisi Pekan Ini
PUISI YOAN DAMAIKO UDU. Selesailah Sudah...
PUISI YOAN DAMAIKO UDU*
Selesailah Sudah...
Itu
Tubuh penuh luka
Siapa punya?
Tiada tersedan
Mengucur darah
Terkapar lunglai
Salahkah Dia?
Dalam tubuh luka itu berkuasa
Dalam dada sesak itu bertakhta
Karena kesumat,
karena dendam yang membara
Datang semasa,
Akan berbakti,
Lepaskan khianat,
Demi tiga puluh keping perak
Demikian rasa,
Sedih jiwa-Ku
Demikian perih,
Sobek sukma-Ku
Mengalun, menimbun,
mendesak, mengepung
Menyesakkan hati,
manawan tubuh
Mendayung jiwa
ke rimba persinggahan akhir
Menyundul ulasan serapah dan cerca,
Bapa...kalau boleh,
Biarlah cawan ini berlalu dari-Ku
Namun bukan kehendak-Ku,
Kehendak-Mu itulah yang bertakhta
Demikian syahdu,
Lembut suara-Nya
Datang semasa,
Keburu nyawa sebentar lagi kan berpamit
Dalam kabut jumat hitam penuh pekat
Dalam gelap yang belum sempat hinggap
Di petang dingin tomohon gerimis,
Tapi kapan bisa usai?
Hujan batu masih tersisa dalam bidak nestapa
Wajah keruh mulai meluruh
Tiada hati buat mengadu
Muka pucat, lagi-lagi penuh luka
Risau menggelitik hati mungil,
Rambut luruh satu-satu
Disambar halilintar mahkota duri
Hampa gulana...
Tergopoh-gopoh ada kesaksian
Pendopo Golgota menantikan arakan lautan algojo
Golgota...Golgota...Golgota,
Saksi mata nista dan kesumat yang membara
Hitung-hitung titahan-Nya adalah petaka
Petaka buat empunya taurat, buat farisian
Hitung-hitung kasih-Nya adalah bara api
Menyala-nyala membakar dusta dan durjana
Durjana milik tuan-tuan yang rajanya taurat
Tak tersisa,
Kini,
Nyawa beranjak dari raga nan renta
Tersungkur bibir menyeloroh pinta,
Selamat tinggal waktu dan kenangan,
Jejak kutitip di sini
Dalam ketiadaan semesta
Dalam kenistaan fana penuh lalim
Bapa...selesailah sudah...
Consumatum est...
(Sebuah Refleksi Atas Masa Prapaskah yang Menyapa.
* Siswa Seminari Labuan Bajo)
PUISI-PUISI ARIE PUTRA
Obituari Kekasih
Semenjak kaki-kaki
mengantar jauh dari pisah
Angin tidak lagi meniup
bayang pekatmu
Senja pun tahu,
kau bukan milikku siang itu
Sesuntuk senyummu
yang terakhir mengukir basah
Tak kuketahui kemungkinan dalam cinta
Menyelam masuk ke kekelaman niatmu
Hanya kosong, hampa diketahui, bukan kau
Sebungkus kata,
yang kukirim tuk terbang bersamamu
Jadi pilu, kubiarkan kau menari jauh
Ah, pergilah pada kejauhanmu,
jangan kembali
Mahkota itu kuserahkan
kembali untuk yang lain
Sebagai rindu akhir, kususun tembok
Untuk mendirikan kata pisah abadi
Antara aku dan kepergianmu hilang.
2012
Senja di Batas Bumi