Selasa, 9 Juni 2026

Cerpen Yohanes Jehabut

Menunggu

"AKU pasti pulang, entah! Tetapi aku pasti pulang, Jadi, tenanglah Margaret..! krekkk! Tuuuutt.."

Tayang:
Editor: Sipri Seko
Cerpen Yohanes Jehabut

"AKU pasti pulang, entah! Tetapi aku pasti pulang, Jadi, tenanglah Margaret..! krekkk! Tuuuutt.." Telepon terputus atau sengaja ditutup olehnya di seberang. Aku sangat mengerti kenapa akhir - akhir ini dia tidak lagi antusias menjawab teleponku, selain kami jarang berbincang dengan mulus lantaran sinyal hape di kampung yang selalu pelit, juga karena pertanyaanku hanya satu, " Kapan pulang?"

Sejujurnya juga kuakui jika aku sendiri mulai jenuh mengajukan pertanyaan itu, karena jawabannya juga pasti selalu sama. Sabarlah, tenang! Aku pasti pulang .  Aku tahu kau pasti pulang, tapi kapan??. "Tunggulah, belum pasti, kau bersabar". "Seenaknya kau bilang bersabar?" "Kau juga, seenaknya menyuruh aku pulang, tidak semudah itu, kau juga tahu itu". "Kau bilang seenaknya?? Kau mau tahu seberapa beratnya memberi alasan pada dua anakmu kalau mereka terbangun tengah malam dan mencarimu?".  Perselisihan lumrah malam itu tak kusadari hinggap di kuping dua anak kami yang tiba - tiba terbangun mendengar suaraku yang meninggi. Raut wajah mereka yang polos dan lugu seakan menangkap risau yang memenuhi kepalaku. Menatap mereka, amarahku berubah jadi percik - percik kesedihan. Telah berkali - kali aku menahan air mata untuk tidak menetes di hadapan kedua putriku. untuk kali ini aku tidak sanggup menghentikan bulir - buir air mata. Aku benci saat - saat seperti ini, ketika sontak aku merasa tak berdaya dan ingi menyerah. Tanpa kusadarai, kedua putriku mendekat dan merangkul tanganku. Mereka menyerangku dengan tatapan sayu. Aku sangat malu. Aku mencoba memlukis sedikit senyum pada mereka berdua hanya untuk menegaskan bahwa semua baik - baik saja. Mereka tidak membalasnya dengan senyum, mungkin mereka tahu kalau aku sedang berpura-pura tersenyum.

Sudah lebih empat tahun ini, kami hanya hidup bertiga di rumah bambu beratap ilalang setelah Romanus Digu, suamiku, ayah dari kedua anakku pergi mengadu nasib ke Probolinggo, Jawa Timur. Saat dia pergi, Felani putri bungsu kami baru berusia 8 bulan sedangkan si sulung Fransiska berusia 3 tahun lebih 4 bulan. Masih kuingat saat itu bulan Januari 2008 aku lupa tanggalnya. Hari - hari diguyur hujan dan nyaris tak ada aktifitas yang bisa dilakukan kecuali berdiam di rumah. Seorang warga kampung yang sudah lama merantau di Jawa pulang kampung untuk merayakan Natal dan tahun baru bersama keluarganya, suatu malam saat hujan belum juga redah sejak pagi hari, datang bertamu. Mereka bersahabat sejak kecil. Aku ada bersama mereka berdua ketika dia membujuk Romanus untuk ikut bersamanya ke Jawa.  

"Kalau saja si kecil sudah masuk satu tahun, mungkin saya bisa ikut, keraeng.." kata Romanus keberatan. " Tidak usah lama, tiga empat bulan sudah pulang. Apalagi bulan - bulan ini di sini mau kerja apa?" "Benar juga, tapi si kecil belum bisa ditinggal begitu saja.." Kemudian mereka terdiam " Kalau selain di gudang garam, kerja apa lagi yang butuh tenaga di sana?" tiba - tiba suamiku bertanya, seakan ada rasa penasaran dalam benaknya. Dengan antusias sang tamu mulai menyebut satu per satu pekerjaan lengkap dengan bayaran yang bisa diterima. Sungguh, akupun tergoda mendengar semuanya.  Kondisi ekonomi kami yang hanya bergantung pada sebidang kebun kopi dan sawah tadahan warisan orang tua Romanus, rasanya berat untuk bisa merubah nasib kami dan juga kedua anak kami, ditambah beban utang yang kami tanggung. Sebentar aku masuk dan menengok Putri kami yang tertidur pulas. Tiba - tiba dalam hati aku berkhayal seandainya Romanus pergi ke Jawa dan mendapat jumlah uang seperti yang disebutkan sang tamu,  Felani akan minum susu setiap hari tanpa menunggu susu dan bubur gratis dari Posyandu, pakaian bayi, bedak dan obat - obatan dan selimut penghangat tidurnya. Fransiska akan berhenti mengeluh setiap hari Minggu pagi sebelum berangkat ke gereja lantaran pakaiannya sobek, bernoda, atau sandal jepit lapuknya putus lagi. Sederet do'a terdaras sambil kumenatap dua gadis kecilku yang telah bermain - main dalam mimpi mereka.

Kemudian aku keluar dan mendapati sang tamu telah berdiri hendak berpamitan pulang.  Selepas tamu kami pergi,  Romanus duduk tertegun di atas kursi kayu buatannya sendiri. Dia memang seorang tukang kayu. Di saat musim panen tatkala warga kampung memiliki banyak uang ( meski tidak semua ) antara Juni hingga Oktober, biasanya ia mengerjakan beberapa rumah, juga pesanan perabotan dari kayu mulai dari kursi, meja, lemari, rak, hingga kandang  ternak.
                                    
                                                 ***
Gerimis belum sepenuhnya redah. Romanus tampak sedang berpikir keras, terlihat dari kerutan - kerutan di dahinya diterpa cahaya lampu pelita yang cahayanya redup terobang - ambing angin malam yang menembus celah dinding bambu.

" Coba saja kalau memang menurutmu bisa.." aku berusaha memancingnya bicara, seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya. Romanus hanya menatapku sebentar kemudian menunduk lagi, menyulut lintingan daun lontar di tangannya. " Bagaimana dengan anak - anak..?" dia akhirnya bicara tapi tetap tidak menatapku. "Kalau hanya tiga atau empat bulan, tidak apa - apa." timpalku meyakinkannya. " Herman (tamu kami barusan) berangkat minggu depan. Kalau iya, biar besok coba tanya-tanya orang, mungkin ada yang mau beli kambing.."

Aku hanya terdiam, karena aku sangat percaya pada Romanus bahwa ia bisa mengambil keputusan terbaik untuknya dan untuk kami sekeluarga. Kami memang memiliki dua ekor kambing dan kambing-kambing itu yang hendak dijual guna mendapatkan biaya keberangkatan Romanus.

Dua hari berikutnya, seorang tengkulak membeli kambing kami dua - duanya. Di samping uangnya dibutuhkan, setelah Romanus berangkat tidak ada lagi yang bisa mengurus kambing-kambing itu, jadi aku setuju dijual.

Pagi itu akhirnya tiba, kampung masih belum juga disambangi mentari. Hujan semalam masih menyisakan kabutnya pagi hari. Angin dingin berhembus perlahan melalui celah-celah dinding bambu. Si kecil Felani masih dalam gendongan Romanus sementara Fransiska sibuk mengunyah beberapa permen. Angkutan pedesaan biasanya lewat di depan rumah sekitar jam delapan pagi. Itu berarti masih cukup waktu bagi Romanus dan kami sekeluarga untuk menikmati sisa kebersamaan sebelum melepasnya pergi ke Jawa. Rasa pilu memenuhi rongga dadaku menatap senyum Felani dalam pelukan hangat Romanus ayahnya. Ia tidak menyadari kalau hanya pagi itu ayahnya menggedongnya sambil mendendangkan lagu-lagu. Air mataku akhirnya runtuh saat Romanus memberikan Felani ke pangkuanku sedangkan kedua tangan Felani seperti biasa masih mencengkeram lengan Romanus pertanda tidak ingin dilepas. Melihat aku menangis, Felani dan Fransiska ikut menangis, dan aku melihat seraut kesedihan yang tertahan di wajah Romanus.

Seberat apapun kami melepasnya, toh akhirnya Romanus pergi juga membawa mimpi - mimpinya, mimpi kami berdua dan mimpi kedua putri kami. Sebulan lebih Romanus di perantauan, sebuah surat yang dikirim ke alamat salah satu kerabat kami di kota kecamatan sampai juga ke tangan kami. Sebuah amplop berisi surat dan sebuah amplop lagi berisi uang yang pengurusan wesel posnya dilakukan sang kerabat. Aku masih ingat jumlah uangnya, 500.000 rupiah, tentu jumlah yang tak kusangka.

Sebuah kesempatan yang cukup langkah bagi kami memegang uang sejumlah itu kecuali saat - saat panen, itupun hanya beberapa saat saja sebelum uang - uang itu lenyap tanpa bekas untuk membayar serangkaian upacara adat Manggarai yang juga tak terputus selam musim panen. Untuk hal satu ini aku nyaris putus asa. Tahun yang lalu saat si bungsu Felani baru berusia 2 Minggu, sepupuku laki - lakiku datang dan meminta kami ikut menanggung biaya belis untuk calon istrinya dan tidak tanggung-tanggung, aku saudara perempuan yang lain masing-masing harus mengumpulkan uang sebesar satu juta rupiah. "Nara, kami sedang tidak punya uang sama sekali, sedikit uang bayaran Romanus habis untuk belanja saat si kecil lahir.." Keluhku saat itu. " Mungkin kami bisa usahakan entah cari utangan di mana, tetapi hanya setengahnya saja. Lima ratus.." Lanjutku.

Sepupuku langsung tersinggung dan marah. Ia mengancam bakal memutuskan ikatan keluarga dengan kami. Aku tidak sanggup menerima permintaannya. Aku selalu kasihan bila melihat setiap gurat kelelahan di wajah Romanus saat ia pulang bekerja, dan nyaris tak ada dari uang hasil keringatnya yang bisa dinikmati sendiri. Kaos oblong kumalnya hanya beberapa lembar.

"Nanti kalau kami tidak ada uang, kami akan jual Felani!" Ketusku sambil tak sadar meneskan air mata. Sore hari ketika kabar itu kusampaikan pada Romanus, ia menyatakan sanggup mencarikan utangan satu juta rupiah. Aku bertambah sendih mendengarnya. Dalam surat pertamanya kali ini dari Probolinggo, Romanus berpesan untuk menyisihkan dua ratus ribu dari uang yang dikirimnya guna menyicil utang itu dulu.
                    
                                                ***                    
Tentu saja ini awal yang manis. Bulan berikutnya, surat yang kutunggu datang terlambat. Dan begitulah bulan - bulan berikutnya, keterlambatannya semakin akut saja, hingga tak kusadarai ia hanya mengirim satu surat dalam dua bulan. Bulan Agustus 2008, salah satu kerabatku akan menikahkan puteranya dan kami seperti biasanya diminta untuk menanggung sejumlah uang untuk biaya belis. Belum juga belis terbayar, satu, dua dan beberapa uapacara adat dengan masing - masing tuntutan biaya menghimpit kami. Dengan gugup aku menyebut satu persatu prosesi yang di dalamnya kami harus ikut menanggung beban, saat aku menelpon Romanus dari wartel di kota kabupaten. Di seberang ia hanya menghela nafas dan meyakinkanku bahwa ia berusaha menyanggupinya meski harus berutang. " Keadaan di sini juga susah." Keluhnya di akhir percakapan dan hal itu membuatku tak bisa tenang selama berhari-hari.

Dalam beberapa minggu, ia mulai mengirim uang melalui rekening bank milik seorang guru sekolah dasar di kampung. Aku mulai cemas, menghitung jumlah yang ia kirim dengan penghasilannya di perantauan sesuai penjelasan Hermna di rumah dahulu. Aku sangat yakin kalau ia pasti berhutang sana-sini. Berbulan - bulan kemudian Romanus tak lagi mengirim uang dengan alasan seluruh uangnya habis untuk melunasi utang - utang di perantauan. Itu pula alasannya ia akan tinggal lebih lama di Jawa. Sementara Felani telah tumbuh dengan cepat, juga Fransiska. Aku makin bingung dan gundah menghadapi mereka. Sederet pertanyaan yang sudah jenuh kudengar dan rengekan yang tak sanggup kupenuhi. Kami terus dihimpit oleh berbagai tuntutan kebutuhan dan aku malu karena sebagian besar datang dari keluargaku bukan keluarga Romanus.

Akhir tahun 2010, menjelang Natal Romanus mengirimi kami sebuah hape bekas, karena ia sangat rindu dan ingin mendengar suara kedua putrinya meski hanya lewat telepon. Sejenak rindu terobati, tetapi ternyata tak cukup. Kami butuh Romanus ada di sini, di dekat kami dalam bilik bambu ini. Aku sudah tidak sanggup menghitung jumlah utang yang ditanggungnya di perantauan, sementara hingga kini kami tetap dikenakan kewajiban yang sama sebagai anak wina dengan jumlah yang semakin tinggi. Ingin sekali Romanus kembali tetapi tak tahu bagaimana caranya. Aku hanya bertanya " kapan bisa pulang?" meski aku tahu ini sulit, aku hanya ingin mengatakan, kami rindu dan sedang menunggu, dan tak tahu, sampai kapan!*

Jogja, suatu malam.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved