Kami Tak Bisa Hidup di Belu
Pos Kupang - Sabtu, 31 Maret 2012 | 11:54 WITA
Berita Terkait
- Polisi Angkut 19 Calon TKW
- Dijanjikan Bekerja di Kupang, Bocah SD Dijual ke Malaysia
- Oknum Anggota Polda NTT Diperiksa Terkait Kasus 84…
- Kasus 84 TKW NTT, Polisi Tahan 11 Kepala Cabang PJTKI
- Polda NTT Tetapkan 13 Tersangka Kasus 84 TKW
- Jenazah TKW Tewas di Hongkong Tiba di Kupang
- Polisi Dalami Keterangan Saksi Korban Kasus TKW NTT
- Cek TKI Bukan Kewenangan Angkasa Pura I
- Didesak Bubarkan Forum Naker, Gubernur Malah Apresiasi
- Polda NTT Telusuri Sindikat Pengiriman CTKI
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Aparat keamanan di Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau Kupang, Jumat (30/3/2012), menangkap 32 orang calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang hendak mencari kerja di Kalimantan Timur. Para calon TKI itu berasal dari Kabupaten Belu dan Timor Tengah Selatan (TTS).
Kepada aparat keamanan yang menangkap, para calon TKI asal Belu mengaku tidak bisa bertahan hidup di daerahnya karena tidak mempunyai lahan untuk bertani.
Fatima de Dacruz, Miguel Freitas dan Elisabet Gabriel Seran mengatakan, niat mereka keluar dari Belu untuk mencari nafkah di Kalimantan Timur (Kaltim). "Kalau kami tetap tinggal di Belu pasti hidup susah karena tidak punya tanah lagi untuk bertani. Kami adalah pengungsi Timor Timur sejak tahun 1999 lalu dan lahan yang selama ini kami garap sudah diambil kembali oleh pemiliknya," kata Fatimah de Dacruz.
Menurut Fatimah, dirinya bersama dua orang anak perempuannya, Ariha Araujo dan Armida de Araujo, hendak ke Kaltim untuk mencari kerja. "Saya bersama dua anak saya ke Kaltim karena dipanggil suami saya untuk bekerja di sana. Suami saya sudah tiga tahun berada di Kaltim," katanya.
Fatimah mengatakan, dirinya bersama dua orang anak hendak mengikuti suami, Frendikus Klau, bekerja pada PT Gemilang Abadi.
Senada dengan Fatima, Miguel Defreitas mengatakan, selama di Belu mereka hanya mengusahakan tanaman pertanian, namun tidak efektif karena sebagai penggarap. "Kami pendatang di Belu dan tidak punya tanah sehingga kami sulit berusaha. Kehidupan kami hanya bergantung dari bertani saja," katanya.
Kepala Kesatuan Pengamanan dan Pengawasan Pelabuhan Udara (KP3) Laut Pelabuhan Tenau Kupang, Iptu Edy, S.H yang ditemui di kantornya mengatakan, para calon tenaga kerja itu bukan saja dari Belu tetapi ada juga dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). "Ada beberapa di antara mereka tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan setelah dinterogasi, mereka pun tidak bisa jelaskan tujuan keberangkatan mereka. Saat ini kita sudah koordinasi dengan pemerintah agar mereka dipulangkan," kata Edy.
Dijelaskannya, petugas merasa curiga karena mereka (calon TKI) berkerumun dan hendak menumpang KM Bukit Siguntang. "Setelah dicek ternyata mereka hendak ke Kaltim, namun tanpa dokumen atau surat tujuan perjalanan mereka," tutur Edy.
Calon TKI yang Ditangkap
Baltazar da Santos asal Belu, Emanuel Darius Man, Amicra Maia, Manuel Maubaun, Joni Gonsalves, Joao dos Santos, Alek dos Dores, Januario Martins, Elisabet, Miguel Freitas, Elisabet Serai, Ariha de Araujo, Fatima de Dacruz, Maria Emerenciana Hoar, Arminda Maia, Ester Seran, Imelda Nae Seran (Belu), Ebed Lada, Ober Tloen, Epi Tada, Leksi Lada, Carles Sonlai, Marten KebKole (TTS).
Kepada aparat keamanan yang menangkap, para calon TKI asal Belu mengaku tidak bisa bertahan hidup di daerahnya karena tidak mempunyai lahan untuk bertani.
Fatima de Dacruz, Miguel Freitas dan Elisabet Gabriel Seran mengatakan, niat mereka keluar dari Belu untuk mencari nafkah di Kalimantan Timur (Kaltim). "Kalau kami tetap tinggal di Belu pasti hidup susah karena tidak punya tanah lagi untuk bertani. Kami adalah pengungsi Timor Timur sejak tahun 1999 lalu dan lahan yang selama ini kami garap sudah diambil kembali oleh pemiliknya," kata Fatimah de Dacruz.
Menurut Fatimah, dirinya bersama dua orang anak perempuannya, Ariha Araujo dan Armida de Araujo, hendak ke Kaltim untuk mencari kerja. "Saya bersama dua anak saya ke Kaltim karena dipanggil suami saya untuk bekerja di sana. Suami saya sudah tiga tahun berada di Kaltim," katanya.
Fatimah mengatakan, dirinya bersama dua orang anak hendak mengikuti suami, Frendikus Klau, bekerja pada PT Gemilang Abadi.
Senada dengan Fatima, Miguel Defreitas mengatakan, selama di Belu mereka hanya mengusahakan tanaman pertanian, namun tidak efektif karena sebagai penggarap. "Kami pendatang di Belu dan tidak punya tanah sehingga kami sulit berusaha. Kehidupan kami hanya bergantung dari bertani saja," katanya.
Kepala Kesatuan Pengamanan dan Pengawasan Pelabuhan Udara (KP3) Laut Pelabuhan Tenau Kupang, Iptu Edy, S.H yang ditemui di kantornya mengatakan, para calon tenaga kerja itu bukan saja dari Belu tetapi ada juga dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). "Ada beberapa di antara mereka tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan setelah dinterogasi, mereka pun tidak bisa jelaskan tujuan keberangkatan mereka. Saat ini kita sudah koordinasi dengan pemerintah agar mereka dipulangkan," kata Edy.
Dijelaskannya, petugas merasa curiga karena mereka (calon TKI) berkerumun dan hendak menumpang KM Bukit Siguntang. "Setelah dicek ternyata mereka hendak ke Kaltim, namun tanpa dokumen atau surat tujuan perjalanan mereka," tutur Edy.
Calon TKI yang Ditangkap
Baltazar da Santos asal Belu, Emanuel Darius Man, Amicra Maia, Manuel Maubaun, Joni Gonsalves, Joao dos Santos, Alek dos Dores, Januario Martins, Elisabet, Miguel Freitas, Elisabet Serai, Ariha de Araujo, Fatima de Dacruz, Maria Emerenciana Hoar, Arminda Maia, Ester Seran, Imelda Nae Seran (Belu), Ebed Lada, Ober Tloen, Epi Tada, Leksi Lada, Carles Sonlai, Marten KebKole (TTS).
Penulis : oby_lewanmeru
Editor : sipri_seko