dr. Bobby Koamesah
Bicara Profesi Dokter Hingga Peternakan
Karena itu, kualitas seorang dokter sangat dibutuhkan dalam memberi pelayanan. Kuantitas pun demikian.
Penulis: maksi_marho | Editor: Sipri Seko
PROFESI dokter merupakan profesi yang mulia. Di tangan para dokter nasib seorang pasien dipertaruhkan. Karena itu, kualitas seorang dokter sangat dibutuhkan dalam memberi pelayanan. Kuantitas pun demikian.
Jumlah dokter yang masih kurang di wilayah NTT, terutama dokter spesialis, membuat warga NTT kadang kebingungan bila salah seorang anggota keluarganya menderita penyakit tertentu dan kondisinya semakin parah.
Sekarang ini Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang sudah memiliki Fakultas Kedokteran (FK). Kehadiran fakultas kedokteran ini diharapkan bisa membantu mengatasi kurangnya tenaga dokter di wilayah propinsi Flobamora.
Apa pendapat Dokter Bobby Koamesah, mantan Wadir Pelayanan RSU Prof Dr. WZ Johannes Kupang yang kini menjadi Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran (FK) Undana tentang profesi kedokteran, lika-liku kerja dokter, calon dokter FK Undana dan masalah kedokteran lainnya? Bagaimana pula dengan usaha peternakan babi yang kini digelutinya sebagai usaha sampingan Dokter Bobby? Mengapa juga dokter ini menyukai peternakan?
Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Dokter Bobby Koamesah ketika ditemui di kediamannya di Kelurahan Sikumana-Kota Kupang, Minggu (11/3/2012) sore.
Anda pernah menjadi dokter biasa, jadi wakil direktur RSU, jadi pejabat di Dinkes NTT dan sekarang menjadi dosen FK Undana sekaligus menjadi peternak.
Hahaha...saya kira semua profesi itu baik ya. Dokter salah satu dari sekian banyak profesi. Memang keunikan dokter itu karena dia berhubungan dengan orang, menyembuhkan orang sakit. Sebenanrnya panggilan mula-mula itu semacam untuk menolong sesama manusia. Mulia sekali sebenarnya panggilannya. Tapi dalam perkembangannya, akhirnya ada sebagian kecil dokter yang dia jadi dokter, tetapi tidak berjuang di bidang panggilannya. Misalnya, ada yang jadi manajer, jadi ya seperti di kantor-kantor lah, mengatur pelayanan secara global. Salah satunya lagi adalah terpanggil menjadi guru supaya mendidik menjadi dokter lagi. Ruang lingkupnya seperti itu.
Jadi selama ini tidak praktik sebagai dokter lagi?
Tidak praktik. Jadi sebenarnya bisa juga praktek sore. Tapi bagi saya, nanti kasihan juga di rumah. Tidak ada waktu buat di rumah. Kebetulan istri saya juga dokter. Kami putuskan tidak buka praktik supaya ada waktu buat keluarga di rumah. Istri saya konsultan AusAID. Dokter juga. Dia juga kerja dari pagi sampai sore. Jadi jam lima kita usahakan bisa ada waktu untuk anak-anak di rumah.
Kesannya waktu jadi dokter di puskesmas dan di RSU bagaimana?
Kalau puskesmas kan skalanya kecil ya. Kita lebih banyak berhubungan langsung dengan masyarakat. Memang itu ada suka dukanya, kalau sukanya banyak teman, banyak berhubungan dengan masyarakat. Kalau dukanya ya tugas di daerah terpencil, penghasilannya juga sedikit, ha..ha..ha..ha..ha, iya kan? Sekarang ini begini, ya kita tidak bisa tutup mata. Fakta bahwa sekolah dokter itu disamping orangnya harus pintar, seperti kita ini kan kita ambil yang lima lulusan terbaik dari tiap sekolah yang lulus rangking satu sampai lima. Yang terbaik-terbaik. Itu pun masih diseleksi lagi, pakai psikotes. Yang kedua kita tidak bisa tutup mata bahwa pendidikan ini mahal.
Banyak juga dokter yang tidak betah di NTT
Sekolah kedokteran mahal. Di NTT ini mungkin salah satu fakultas kedokteran yang paling murah. Itupun yang paling murah dia bisa menghabiskan paling sedikit 300 juta sampai dengan lulus. Jadi investasi yang sudah investasi pengorbanan sekolah yang luar biasa. Pagi sampai sore tambah praktik 24 jam di rumah sakit. Investasi anak terbaik dari keluarganya diinvestasikan. Makanya kita tidak heran banyak dokter yang baik ke NTT terus lari ya kan fakta begitu. Banyak faktor sih penyebabnya, tapi salah satu faktor ya mungkin faktor ekonomi. Karena dia merasa, kok di sini dia tidak dapat sebanyak yang dia bisa dapat di tempat lain.
Jadi, waktu Anda jadi wadir di RSU Kupang, banyak dokter-dokter di RSU praktik di luar itu karena faktor ekonomi?
Jadi begini, kebetulan saya belajar, keahlian saya itu manajemen rumah sakit. Saya punya dua bidang manajemen, bidang master yang saya pelajari. Salah satunya adalah manajgemen rumah sakit dan manajemen pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Nah, kalau dokter lari, itu sebenarnya fenomena yang menarik. Pemerintah sering mengeluh. Sekarang saja kita masih kekurangan banyak dokter. Contoh, ahli anestesi, sudah 60 tahun merdeka kita hanya punya satu dokter anestesi di NTT. Ini di NTT loh, di Flores tidak ada, di daratan Sumba juga tidak ada. Dokter anestesi di NTT hanya ada di Kupang saja. Keahlian-keahlian lain juga kurang. Ahli jantung hanya satu. Jadi banyak sekali kekurangan. Nah, kita melihat ini seakan-akan kalau kurang itu tinggal tunggu orang sekolah terus kalau sudah selesai kirim orang ke sini. Pemerintah mau seperti itu, tapi faktanya tidak semudah itu. Sekarang ini 40-50 persen dokter terkumpul di Jakarta dan Jawa Barat.
Tapi ada yang sudah diberi beasiswa tapi masih lari?
Ini dilemanya. Kalau anak-anak yang dikasih beasiswa, maka dia kembali ke sini jadi dokter spesialis di NTT, tapi namanya suplay injustman, kalau ada orang datang ke rumah sakit, saya dokter, saya periksa-periksa. Lalu saya dalam tanda petik bekrja di tempat yang saya tidak sejahtera begitu. Nah bagaimana supaya saya bisa sejahtera? Saya harus bisa menciptakan peluang income baru. Misalnya kita bilang, oh daftar antre di RSU tinggi. Kalau misalnya dia harusnya terima 10 rupiah sama dengan temannya di Surabaya, tapi di sini dia hanya terima dua rupiah ya dia mengurangi beban kerjanya. Dia bilang, oh kamu butuh operasi tapi tunggu dulu antre, belum bisa sekarang operasinya. Jadi harusnya dia bisa operasi satu hari tiga orang, dia buat satu hari satu orang saja. Kan kamu tidak bisa protes? Kamu protes, dia bilang, oh ndak bisa, ini belum lengkap, belum periksa lab, belum ini, belum itu...antre dulu dari sekian ratus orang...tunggu di belakang sana.
Apakah yang demikian tidak bisa ditegur oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)?
Harusnya bisa, karena itu melanggar kode etik profesi...
Saya pernah cerita dengan seorang dokter. Kata dokter itu, sesama dokter adalah saudara kandung?
Iya, tapi kalau misalnya seperti sekarang ini kasus dugaan malapraktik di sebuah rumah sakit di Kupang, itu kan ramai sekali diperbincangkan. Orang sekarang tidak bodoh. Orang semakin pintar. Banyak sekarang orang baca buku tentang hukum kedokteran, UU praktik kedokteran, UU tentang perlindungan konsumen. Orang belajar itu karena di internet saja gampang dicari. UU rumah sakit, UU tentang standar pelayanan rumah sakit. Rumah sakit harusnya punya standar pelayanan seperti apa orang belajar. Kau bikin di bawah standar pelayanan itu orang akan komplein. Jadi kalau kebalikan dari injustman itu rejust. Kamu butuh dioperasi, jadi caranya, mungkin lewat pintu belakang. Kalau kamu mau ke klinik sana kita bisa langsung tangani, di sana dioperasi. Nah, kalau dirawat di tempat lain tidak ada yang memayungi seperti perda yang mengatur tentang tarif. Jadi dia suka-suka saja. Lalu kita berunding, kalau bersedia bayar Rp 20 juta ya saya kerjakan. Kalau tidak bersedia ya pak antri saja. Kan Anda takur, jadi Anda tetap pada posisi yang lemah. Makanya, tadi saya bilang, kalau dia tidak sejahtera, korban adalah pasien. Ujung-ujungnya seperti itu. Jadi sebenarnya kalau pemerintah tidak mensejahterakan mereka nanti korbannya ya pasien.
Sekarang ini Undana sudah punya Fakultas Kedokteran. Apa dengan begitu diharapkan bisa diselesaikan persoalan-persoalan seperti ini?
Sebagian, saya tidak jamin juga. Kalau sudah masuk di perilaku begitu, susah juga. Sekarang begini, kita didik mereka, kita beri motivasi mereka. Ada yang pemerintah daerah ikat mereka dengan beasiswa lalu mereka harus bekerja di NTT. Misalnya dia ditempatkan di Ende, di sana dia tidak mendapatkan sesuatu yang ya kira-kira bisa mensejahterakan dia. Dia akan melakukan perilaku seperti yang tadi saya cerita, bisa ke Kutub Selatan, bisa ke Kutub Utara. Misalnya Anda punya anak, sudah investasi pengorbanan sekolah tujuh tahun, anak terbaik dari keluarga disekolahkan tujuh tahun, uang sudah habis-habisan ratusan juta, apalagi kalau spesialis, mugkin uang bisa keluar bahkan hampir satu miliar rupiah ya mendekati 600-700 juta karena sekolah itu harus dibayar lagi. Nah, lalu uang ini mau kembali modal atau tidak? Masa anaknya sejajar dengan gaji golongan 3A, dua juta koma sekian. Berapa ratus tahun dia harus investasi untuk kembalikan modalnya? Memang mahal. Pemerintah yang tidak tahu saja bahwa pelayanan kesehatan itu mahal.
Di NTT alasan banyak pasien jamkesmas. Apakah perhitungan di jamkesmas tidak bisa membantu menjawab kebutuhan dokter?
Jamkesmas bagaimana? Berapa minggu lalu saja saya baca di Pos Kupang, jamkesmas saja tidak bisa terserap. Kita sudah dikasih uang sama pemerintah pusat, tapi tak bisa diserap karena SDM kita memang tidak mampu mengelola, memanege uang sebanyak itu dalam ketepatan waku. Kan jamkesmas itu uang tersedia, tapi harus dipakai sesuai ketentuan yang berlaku. Bukan cuma jamkesmas, ada juga jampersal. Orang melahirkan semua dibawa ke fasilitas kesehatan gratis. Banyak kabupaten penyerapan jampersalnya nol persen. Uang ada tapi kita tidak bisa pakai, di mana kesalahannya? Ya, orangnya yang mengelola.
Bagaimana Anda melihat animo anak muda NTT ke sekolah kedokteran?
Banyak. Sekarang kalau tes di Undana, minat paling tinggi calon mahasiswa kan di kedokteran. Masuk pertama tidak terlalu mahal. Mungkin Rp 50-an juta. Saya tidak tahu pasti sekarang. Tapi kalau dibanding pendidikan kedokteran di Jawa, kita di Undana masih tergolong murah. Kalau di Undana, untungnya anak-anak kita bisa tinggal bersama keluarga atau orangtua.
Bagaimana dengan kualitas pendidikan?