BBM Naik Sama Dengan Membunuh Rakyat NTT
Menaikkan harga BBM sama dengan 'membunuh' dan menyengsarakan masyarakat NTT yang miskin.
Penulis: alwy | Editor: Sipri Seko
Pernyataan sikap Aliansi Masyarakat (Alimas) NTT yang diusung berbagai elemen mahasiswa di Kota Kupang ini disuarakan saat bertatap muka dengan Wakil Ketua DPRD NTT, Kasintus P Ebu Tho, dan beberapa anggota Dewan lainnya di Ruang Sidang DPRD NTT, Rabu (21/3/2012) siang.
Menurut Alimas, kenaikan BBM akan memberikan dampak negatif bagi berbagai sektor kehidupan masyarakat di NTT. Alimas juga menyatakan bahwa dampak kenaikan BBM akan semakin menghimpit ekonomi masyarakat. Fakta itu terbukti dengan sudah naiknya harga seluruh kebutuhan primer masyarakat seperti sembako sebelum ada kenaikan harga BBM. Tak hanya itu, kenaikan harga BBM nanti juga akan diikuti dengan kenaikan tarif daftar listrik, tarif air serta berbagai kebutuhan dasar lainnya. "Kondisi ini menjadikan melemahnya daya beli masyarakat," tulis Alimas NTT.
Bagi Alimas, pencabutan subsidi BBM merupakan langkah menyengsarakan rakyat yang jauh dari prinsip kemanusiaan dan keadilan. Minimal ada 135 juta rakyat Indonesia yang tercekik oleh inflasi riil yang mencapai 15-20 persen. Sementara bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebesar Rp 150 ribu per kepala keluarga hanya bisa menjangkau 70 juta penduduk saja.
Tak hanya itu, bantuan langsung sementara masyarakat bukanlah solusi yang baik. Bantuan itu terkesan meninabobokan masyarakat serta mendidik karakter bangsa yang malas berusaha. Dengan demikian, masyarakat menjadi pengemis, hanya bisa mengulurkan tangan mengharap belas kasihan dari pemerintah. "Bukankah BLSM hanya bersifat sementara, sedangkan dampak kenaikan BBM bersifat permanen," tulis Alimas.
Terhadap fakta-fakta yang disampaikan Alimas, Wakil Ketua DPRD NTT, Kasintus P Ebu Tho menyatakan apresiasinya terkait sikap aliansi yang menolak kenaikan harga BBM. Ia pun menyatakan sepakat dengan sikap aliansi untuk menolak naiknya harga BBM. "Tidak hanya adik-adik saja yang menyampaikan aspirasi itu, banyak warga yang juga menyampaikan aspirasi serupa. Dengan demikian penolakan kenaikan BBM menjadi tuntutan masyarakat NTT," ujar Kasintus.