Regenerasi Atlet Bulutangkis Mandeg
Mantan pelatih ganda Pelatnas bulutangkis, Christian Hadinata menyatakan bahwa regenerasi atlet bulutangkis nasional tidak mampu berjalan dengan baik.
"Regenerasi tidak berjalan mulus. Itu karena saat ini yang sering andalkan hanya pemain-pemain senior saja dalam mengikuti kejuaraan-kejuaraan, khususnya kejuaraan internasional. Itu bukan cara yang tepat dalam olahraga bulutangkis," katanya di GOR Amongrogo Yogyakarta, Jumat (2/3).
Cristian berujar, saat ini yang ada dalam benak pengurus PB PBSI hanya bagaimana bisa meraih prestasi tertinggi dengan pemain senior yang ada. Padahal hal itu akan berdampak buruk bagi sistem regnerasi atlet bulutangkis nasional
"Seharusnya setidaknya ada dua level atlet yang diikutkan ke dalam kejuaraan, yaitu atlet muda dan atelt senior. Dengan begitu, sistem regenerasi akan tetap terjaga. Atlet muda juga butuh pengalaman untuk bertading ke luar negeri," jelasnya.
Ia menambahkan, secara teknis, dengan hanya mengirimkan atlet senior dalam setiap kejuaraan, hal itu akan menguntungkan pihak lawan. Hal itu karena pihak lawan yang dihadapi akan mendapatkan musuh yang berkulaitas, yang akan berdapampak positif bagi mereka.
"Kalo yang dikirim atlet senior terus, pemain luar dapat sparing pemain bagus. Padahal sebaliknya, kita tidak dapat lawan bagus. Itu akan baik bagi lawan. Jadi jangan hanya Taufik dan Soni terus yang dikirimkan, harus ada atlet muda juga," katanya.
Namun ia mengakui bahwa dengan memiliki dua level atlet, yakni senior dan junior, hal itu secara otomatis akan membutuhkan dana yang lebih besar. Terlebih jika dibanding dengan hanya mengirimkan satu level pemain saja dalam setiap kejuaraan.
Cristian mengakui bahwa prestasi bulutangkis nasional akhir-akhir ini cenderung menurun. Secara jujur, sebagai mantan pelatih pelatnas, ia mengakui hal tersebut.
Menurutnya, jika pemerintah bisa lebih memperhatikan regenerasi dan permasalahan dana, ia optimistis permasalahan yang ada dalam olahraga bulutangkis akan selesai. (wid)