Van Imhoff: 70 Tahun Silam
Tanggal 10 Mei 1940 Serdadu Jerman menyerang negeri Belanda. Sejak saat itu orang Jerman di Indonesia termasuk misionaris SVD di Nusa Tenggara di tawan Belanda. Mereka mula-mula dikumpulkan di Mataloko, lalu diangkut dengan kapal dari Aimere ke Jakarta, ditampung di pulau Onrust (di teluk Jakarta), kemudian diangkut ke Lembah Alas di Sumatra. Lima orang Pater SVD karena umur tua, dikembalikan: P. Lambert, P. Suntrup, P. Mertens dari Flores dan P. Schroeder, P. Schmitz dari Timor.
POS KUPANG.COM --- BERTEPATAN 70 tahun tenggelamnya kapal "van Imhoff" 19 Januari 1942 di samudera Hindia sebelah barat Sumatra, Majalah Stadt Gottes No. 1/Januari 2012 memuat tulisan seorang wartawan dari Augsburg yang membentangkan usaha pembongkaran skandal kejahatan perang sehubungan petaka tersebut. Tahun 1965 TV Belanda "Vara" berusaha supaya pemerintah Belanda menjelaskan peristiwa yang memalukan bangsa Belanda ini, namun pihak kementrian pertahanan Belanda menampik bahwa hal itu bukan urusanya. Terlepas dari penyelidikan skandal perang tenggelamnya kapal van Imhoof ini, tanah Timor Flores Sumba kehilangan sederetan Misionaris SVD berkebangsaan Jerman dan Austria.
Tanggal 10 Mei 1940 Serdadu Jerman menyerang negeri Belanda. Sejak saat itu orang Jerman di Indonesia termasuk misionaris SVD di Nusa Tenggara di tawan Belanda. Mereka mula-mula dikumpulkan di Mataloko, lalu diangkut dengan kapal dari Aimere ke Jakarta, ditampung di pulau Onrust (di teluk Jakarta), kemudian diangkut ke Lembah Alas di Sumatra. Lima orang Pater SVD karena umur tua, dikembalikan: P. Lambert, P. Suntrup, P. Mertens dari Flores dan P. Schroeder, P. Schmitz dari Timor.
Akhir Desember 1941 para tawanan diangkut dengan mobil dari Lembah Alas ke Siboga dan dari sana dibawa dengan kapal ke India. Kapal pertama `Ophir' dan kapal kedua `Plansius' lolos mencapai India. Kapal ketiga `van Imhoff' memuat tawanan hampir 500 orang, termasuk 19 misisonaris SVD (14 Pater dan 5 Bruder). Setelah dua hari perjalanan, tepatnya 19 Januari 1942 sekitar jam 10.30, kapal ini dibom oleh pesawat serdadu Jepang. Kapal mengalami kerusakan besar dan tenggelam.
Sejauh diketahui, selain awak kapal termasuk kapten dan pasukan pengawal, dari hampir 500 tawanan itu hanya 67 yang selamat. Salah satu dari 67 yang selamat ini adalah Br. Aloysius Seitz, SVD. Konfraternya yang lain bersama tawanan lain ditelan ke kedalaman samudera Hindia.
25 tahun setelah '19 Januari kelabu' ini, Br. Aloysius menulis kisah sengsaranya sebagai tawanan dalam kapal van Imhoff. "Tawanan terlalu banyak, kami dijejal seperti ikan dalam sebuah tong, berhimpitan satu sama lain. Ruangan dipagari kawat berduri dan dijaga serdadu Belanda. Ketika terdengar bom keempat menghantam kapal, mesin kapal mati. Seorang komandan Belanda datang ke ruang kami dan berkata: "Harap tenang, tidak apa-apa, mesin segera diperbaiki dan perjalanan dilanjutkan. Kalau terjadi apa-apa, sayalah yang terakahir meninggalkan kapal."
Ternyata ia pembohong besar. Awak kapal dan serdadu penjaga lari menyelamatkan diri dengan sekoci dan meninggalkan kami ddi dalam kapal `van Imoff' yang sudah mulai miring karena kemasukan air laut. Kami berjuang keluar ruangan melewati pagar berduri. Sebuah sekoci ditinggalkan orang Belanda. Saya memutuskan mengikuti sekoci itu dan melompat ke laut. Sambil berenang mencapai sekoci,kudengar suara memanggil saya dari geladak kapal: "Bruder Alo, bawalah saya juga". Ternyata ia P. Peters, SVD. Tapi ia tidak berani melompat ke laut. Bersama ratusan tawanan lainnya ia turut ditelan samudera Hindia.
Kami 53 orang dalam sekoci itu. Tiga hari bagai neraka: dibakar matahari sampai kulit terkupas, diombang-ambingkan gelombang,mual dan muntah, lapar dan dahaga tak tertahankan, persediaan air habis, masih beberapa ketul roti tapi tidak bisa dimakan karena kami kehabisan air liur, ada yang minum air laut.Hari ketiga kami melihat daratan, sekoci dipukul gelombang ke batukarang dan pecah. Kami berupaya dengan tenaga sisa mencapai daratan.
Saya berjuang memanjat kelapa. Hasilnya tidak hanya air kelapa tetapi celana saya satu-satunya robek pada bagian belakang. Saya menjahitnya dengan tali rerumputan. Kami tidak tahu ini daratan apa? Keesokan harinya muncul lima orang laki-laki dari balik dedaunan kelapa mengintip kami. Setelah didekati dan bertanya, daratan apa ini? Mereka menjawab: "Ini pulau Nias." Mereka kembali ke kampung dan membawa makanan untuk kami".
Tidak banyak orang mengetahui, bagaimana dan mengapa sekian banyak orang Jerman yang ditawan itu mati tenggelam. Tidak mungkinkah para awak kapal `van Imhoff' menyelamatkan sebagian dari mereka? Mengapa sang kapten dan awaknya lari menyelamatkan diri meninggalkan para tawanan ditelan Samudera? Kapten Kapal itu bernama Hoeksema. Setelah pensiun, ia ditanya mengenai peristiwa kelabu 19 Januari 1942, ia menjawab, ia tidak ingat lagi: "Saya sudah membuang seluruh peristiwa itu dari ingatan saya".
Bruder Aloysius, SVD tiba di Flores tahun 1932 bertugas di Percetakan Arnoldus Ende. Setelah luput dari maut tenggelamnya kapal `van Imhoff', ia melayani para tawanan di Sumatra sampai tahun 1947 kembali ke Ende meneruskan tugasnya di percetakan. Kalangan tua masih ingat, dialah pengasuh group musik Fanfare yang terkenal di Flores. Tahun 1975 ia kembali ke Eropa dan meninggal di Sankt Wendel, Jerman pada tanggal 9 Maret 1994.
(oleh P.Simon Bata: dari berbagai sumber SVD)