Kamis, 11 Juni 2026

Masyarakat NTT Protes Kemendikbud

Masyarakat NTT memrotes keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merekrut guru dari propinsi lain untuk pelaksanaan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) di Propinsi NTT.

Tayang:

POS KUPANG.COM, KUPANG --- Masyarakat NTT memrotes keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merekrut guru dari propinsi lain untuk pelaksanaan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) di Propinsi NTT.

Sikap protes ditunjukkan Forum Masyarakat NTT Bersuara dengan berunjuk rasa di gedung DPRD dan Kantor Gubernur NTT, Selasa (31/1/2012). Protes juga datang dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Propinsi NTT.

Forum Masyarakat NTT Bersuara terdiri dari elemen guru dan mahasiswa berasal dari FKIP Undana, Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) serta Universitas PGRI. Mereka mendesak Mendikbud, Muhammad Nuh, menarik guru SM3T yang sudah ditempatkan di wilayah NTT.

Tuntutan ini disampaikan saat melakukan aksi di gedung DPRD NTT dan berlanjut ke Kantor Gubernur NTT, Selasa siang. Mengawali aksinya, Forum Masyarakat NTT Bersuara berkumpul di Kampus Universitas PGRI Kupang yang letaknya tidak jauh dari Kantor Walikota Kupang.

Mahasiswa yang terlibat mengenakan jaket almamater masing- masing perguruan tinggi. Selanjutnya mereka long march menuju gedung DPRD NTT. Setelah melakukan aksi dan menyampaikan tuntutan, massa berjumlah ribuan itu bergeser dan melakukan aksi serupa di Kantor Gubernur NTT.

Saat aksi di gedung DPRD, Forum Masyarakat NTT Bersuara diterima ketua DPRD NTT, Drs. Ibrahim A Medah. Begitupun saat berunjukrasa di Kantor Gubernur NTT, mereka ditemui Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya.

Para mahasiswa menuntut pemerintah propinsi dan DPRD NTT bersikap tegas terhadap kebijakan pemerintah pusat yang mendatangkan tenaga pengajar jebolan dari perguruan tinggi di luar NTT sebanyak 703 orang.

"Konyolnya lagi ada para gubernur, bupati/walikota dan kepala dinas pendidikan propinsi maupun kabupaten yang hadir dalam rapat koordinasi membahas program tersebut langsung gampang menerimanya," tulis Forum Masyarakat NTT Bersuara dalam pernyataan sikapnya.

"Kami melihat ini bagian dari bentuk penindasan terhadap hak rakyat. Sadar atau tidak sadar petinggi-petinggi NTT pun banyak lahir dari almamater yang ada di bumi Flobamora. Apakah hal ini terus dibiarkan sehingga rakyat yang tidak berdaya terus terpuruk dalam ketidakberdayaan akibat kebijakan pemerintah pusat," demikian pernyataan lain Forum Masyarakat NTT Bersuara.

Aksi yang dikawal aparat keamaman, berlangsung damai. Setelah menyampaikan tuntutan dalam pernyataan sikapnya kepada Gubernur NTT, anggota Forum Masyarakat NTT Bersuara membubarkan diri.
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved