Gubernur NTT Sudah Surati Mendikbud
Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mengatakan pemerintah propinsi sudah bersurat ke Mendikbud terkait perekrutan dan penempatan guru SM3T di NTT. Surat dimaksud meminta Mendikbud mendayagunakan potensi tenaga pendidikan yang ada di NTT.
POS KUPANG.COM, KUPANG --- Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mengatakan pemerintah propinsi sudah bersurat ke Mendikbud terkait perekrutan dan penempatan guru SM3T di NTT. Surat dimaksud meminta Mendikbud mendayagunakan potensi tenaga pendidikan yang ada di NTT.
"Saya sudah menyurati menteri untuk mempertimbangkan kembali. Kebijakan ini di satu sisi baik untuk memenuhi kebutuhan guru di daerah-daerah terpencil. Tetapi lebih baik lagi kalau mengakomodir tenaga-tenaga didik di NTT yang sudah mengetahui budaya dan karakter serta geografisnya," kata Lebu Raya saat menerima ribuan pengunjukrasa dari Forum Masyarakat NTT Bersuara, kemarin Selasa (31/1/2012).
Sebelumnya, saat menerima pengunjukrasa di gedung DPRD NTT, Ketua DPRD NTT, Drs. Ibrahim Agustinus Medah mengajak enam perwakilan dari Forum Masyarakat NTT Bersuara menemui Mendikbud di Jakarta, dalam waktu dekat.
"Sebelum saudara-saudara datang, saya sudah meminta Sekwan untuk membuat surat protes terhadap kebijakan pemerintah pusat terkait penempatan dan perekrutan guru SM3T. Untuk itu saya meminta enam perwakilan dari forum untuk bersama-sama saya bertemu Mendiknas di Jakarta menanyakan persoalan ini," ujar Medah yang dibalas pengunjukrasa dengan tepuk tangan.
Menurut Medah, bila dari segi disiplin di NTT ada sarjana yang mumpuni kenapa harus diambil dari lulusan perguruan tinggi di luar NTT. Kebijakan pemerintah pusat merekrut lulusan perguruan tinggi di luar NTT dan kemudian menempatkan di NTT sangatlah tidak tepat.
"Masak di daerah ini tidak ada orang. Saya tidak setuju dengan kebijakan ini. Ini kebobolan namanya," ujar Medah kepada wartawan sebelum menemui pengunjuk rasa.
Ia menegaskan kebijakan seperti itu harus segera dihentikan. Anak-anak asal NTT harus diakomodir untuk memenuhi kebutuhan lapangan kerja di bumi Flobamorata. "Kebutuhan lapangan pekerjaan bukan hanya daerah tertentu. NTT memiliki banyak kader guru yang bagus dan siap ditempatkan di mana saja," tambah Medah.
Ditemui terpisah, Rektor Undana, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App, Sc, Ph.D mengakui tidak mengetahui proses perekrutan tenaga pendidik untuk program SM3T.
Ia mengatakan, Undana tidak diikutkan sebagai salah satu universitas dalam proses tersebut. Rektor Undana akan menyurati Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud agar Undana bisa menjadi salah satu universitas yang bisa melakukan perekrutan tenaga SM3T jika program itu masih ada.
"Saya menduga, awalnya surat ini dikirim ke pimpinan FKIP Undana karena komunikasi dilakukan melalui dekan FKIP melalui Lembaga Pendidik Tenaga Pendidik dan Kependidikan (LPTK), namun mereka tidak melaporkan dan juga tidak melaporkan ke rektor sehingga saya tidak tahu. Karena itu saat ini juga saya sudah harus mulai bergerak agar Undana bisa ikut berpartisipasi," ujar Umbu Datta yang saat itu didampingi Humas Undana, David Sir, S.Sos, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa kemarin.
Menurutnya, yang bisa dilakukan Undana saat ini adalah menyurati Dirjen Dikti agar di masa mendatang ada juga lulusan Undana yang mendapatkan pengalaman belajar yang sama dengan yang saat ini.
"Setiap tahun, Undana bisa menghasilkan 2000 lulusan tenaga pendidik sehingga Undana dipandang penting. Kami berharap agar lulusan Undana bisa mendapatkan pengalaman belajar yang sama dengan alumni dari perguruan tinggi lainnya yang sudah direkrut sebagai tenaga SM3T," jelasnya sembari menambahkan program SM3T ini sesungguhnya untuk membangun nasionalisme di hati lulusan perguruan tinggi karena PT juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).