Rabu, 10 Juni 2026

Cerpen Fr. Corona Bria

Kupang Berselimutkan Langit Berbintang

MENTARI mulai beranjak pergi meninggalkan jagat raya. Di ufuk sana nampak dengan jelas, sang mentari melambaikan tangan yang terlihat dengan simbol lingkaran kemerah-merahan yang begitu kontras.

Tayang:

MENTARI mulai beranjak pergi meninggalkan jagat raya. Di ufuk sana nampak dengan jelas, sang mentari melambaikan tangan yang terlihat dengan simbol lingkaran kemerah-merahan yang begitu kontras.

Simbol itu sebagai tanda kalau ia sementara bergeser menuju alam bawah sadar jagat raya. Mungkin ia menunjukan sebuah tanda bahwa Alam pekat mulai mengambilalih pimpinannya. Mungkin pula ia menyampaikan kalau ia telah kalah dalam perang  sehingga semua yang ia miliki jatuh pada pihak lain.

Di ufuk sana mentari masih sedikit berjuang menitipkan pelayanan terakhir dengan sinarnya yang semakin memudar. Mentari masih berjuang demi penghuninya. Akan tetapi  perjuangan itu tak membuahkan hasil. Pimpinan mentari tetap jatuh secara total pada pimpinan alam pekat. Sebagai tanda cinta mentari terhadap jagat raya, Mentari hanya bisa menitipkan tangisannya.

Ia hanya bisa bisa menunjukan tangisannya dengan deru gelombang yang bergemuruh di tengah lautan lepas itu. Deru gelombang itu bukan hanya sebagai tangisan yang membahana untuk jagatraya. Tangisan itu beralunkan juga bingkisan-bingkisan doa. "Ya surga dan dunia, tunjukanlah kasih pada dunia" 

Mentari memang sudah berada di bawah ufuk sana. Namun karya biasan sinarnya di dunia masih bergema di setiap sudut untuk melawan dan menghancurkan alam pekat. Walaupun tak seluruhnya mengalahkan alam pekat. Biasan-biasan cahaya tiruan masih memberikan cahaya. Pimpinan yang baru pun tak terlalu nampak bahwa alam pekatlah yang menjadi pimpinan yang tak tergoyangkan. Pimpinan itu masih dapat digoyangkan.
                    ****
Mentari telah pergi. Akan tetapi deretan lampu-lampu jalan yang menggambarkan kota, masih berjuang melawan alam pekat. Semaraknya lampu-lampu kendaraan yang sementara lalu lalang pun tak kalah juga. Justru pembiasan cahaya dari setiap kendaraan menambah kotaku menjadi indah.

Aku duduk termenung di tepi pantai itu. Pantai itu tak lasim lagi bagi penghuni-penghuni yang ada di kotaku. Aku biasa lebih senang menyebutnya pantai keromantisan. Kendati nama yang sebenarnya itu Tedis. Kalau dipersandingkan dengan Taman Nostalgia, mungkin Tak kalah saingnya juga. Hanya saja taman nostalgia berada pada arah pandang yang sempit. Dikatakan indah, memang indah, namun pandangan ke arah Selatan hanya terbatas pada sebuah gedung tua alias gedung keuangan. Sehingga aku merasa tak terlalu menyenangkan. Tedis lebih menyenangkan. Di mana setiap pandangan tak dapat menembusi lautan yang bercahaya itu. Saat itu, aku seakan-akan terserang cahaya-cahaya itu.

Mataku terasa pedis. Pikiranku pun mulai tak menentu dengan tugas-tugas yang masih terkapar di meja belajarku. Yang lebih melilit diri ini, aku memiliki mata yang sama dengan mata-mata yang lain tapi aku juga memiliki mata yang sangat berbeda dengan mata yang lain. Mataku tak bergerak sebebas mata-mata yang lain. Mataku dikurung dalam sebuah tembok kaca.

Tembok kaca menjadi pembatas setia untukku. Aku seakan-akan terperangkap dalam tembok kaca, namun tak dapat juga kukatakan demikian karena justru tembok kaca inilah yang membantuku untuk menembusi pemandangan-pemandangan yang terlintas di depanku. Justru tembok kaca inilah yang membuatku sanggup membedakan Taman Nostalgia dan pantai keromantisan alias Tedis.

"Rido...." Panggil Raty dengan irama suara yang sedikit manja. "Dunia ini bukan untuk direnungi setiap saat tapi dunia ini untuk dinikmati. Biarkanlah pendahulu katong yang menjadi perenungnya." Lanjut Raty dengan berkelakar.
"Kamu anak pejabat yang hanya memikirkan kesenangan dan tidak pernah memikirkan keadaan alam di sekitar" kataku dengan menggunakan kata-kata yang sedikit formal karena aku memang dididik dalam lembaga yang mewajibkan untuk selalu berkata-kata dengan kata baku.

"Apa? Be memang anak dari seorang pejabat tapi....."
"Cukup!" aku menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sebagai isyarat untuk diam.
"ikut Aku" lanjutku seraya menggandengnya.

Aku menerbangkan motorku bersama pujaan hatiku, menyusuri kota yang ramai itu, menuju sebuah titik yang belum pernah kulihat. Aku hanya mendengar tempat itu dari teman-temanku di Fakultas Filsafat Agama yang ada di Penfui. Aku memang sering melewati tempat itu, ketika hendak ke kampus tapi karena kesibukan mengurus kuliahku, aku tak sempat mengunjungi tempat itu. Kata mereka, tempat itu sangat indah dan menarik bagi setiap pengembara cinta yang sementara berkelana dalam cinta itu pula. Sehingga nama yang cocok dikenakan pada tempat itu, Bukit Cinta.

"Rido, sebenarnya basong mau bawa be ke mana? Jangan memperlakukan be macam-macam. Be bukan cewe yang seperti ada dalam pikiran basong." kata Raty ketika kami menyusuri jalan Universitas Kristen Artha Wacana, dibentengi oleh pohon-pohon gamal yang seakan-akan kering bagaikan di sebuah gurun. Ketakutan menguasai dirinya. Aku hanya bisa memilih untuk diam. Ingin kukatakan apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku, namun aku ingin membuat kejutan terhadap dia. Ketakutan lebih terasa pada dirinya ketika melintasi benteng-benteng UNDANA alias pagar tembok, menyusurinya menuju Bundaran Kasih.

"Sayang, jangan membuat be merasa gelisah. Be takut. Be tidak menginginkan hal apapun menjadi beban hidup" ketakutan semakin menghantui dirinya. Karena saking cintaku terhadap dia, aku tak ingin ia memikirkan hal yang tidak-tidak terhadap diriku. Dengan  spontan aku menghentikan motor di jalur yang akan menuju Penfui.

"Sayang pandanglah merpati yang ada di atas tugu itu. Kata orang-orang, merpati selalu menjadi tanda kasih. Ingatlah bahwa Kasihku seperti merpati itu. Kenangilah bahwa apa yang kukatakan saat ini bukan hanya Tuhan yang menjadi saksi, namun  bundaran kasih juga menjadi saksi. Tujuan kita hanya satu. Cuman bukit cinta" kataku dengan sedikit menjelaskan apa yang ada dalam pikiranku.
                    *****
Puncak bukit cinta itu, sungguh menyenangkan. Ditambah tiupan angin yang begitu menusuk. Kesejukan pun mulai kurasakan. Panasnya Kupang dibayar dengan tuntas. Aku merasa diri ini mulai merasa bahwa hanyalah bukit cinta yang pantas untuk disanjungkan. Di tengah semaraknya keindahan BC alias Bukit Cinta, aku pun menghiasi bukit itu dengan sedikit  cahaya, aku mengeluarkan notebook beserta modemnya, aku mulai online, dan kubiarkan Raty bersandar pada dadaku.

"Rido....." suara Raty memecahkan kesunyian bukit. Seperti biasa, irama suaranya selalu memanjakan. Aku tak memberikan sedikit respon. Aku sudah terlarut dalam internetan. Teknologi memisahkan kami. "Hmmm....Facebook", guman Raty.

"Eh... cuman cek status."
"Hanya itu?"

"Unggah foto-foto juga." aku menanggapinya dan seakan-akan tak menyadari bahwa Raty ada dalam rangkulanku.
"Basong sungguh tak bijaksana. Basong eks frater dan masih di FFA `kan?" kata Raty dengan sedikit bertanya.

"Iya, memangnya kenapa?" kataku dengan sedikit mengerutkan kening.
"Aku bukan mahasiswa filsafat. Tap aku tahu filsafat itu apa. Aku memiliki sedikit pengetahuan tentang filsafat juga. Filsafat itu cinta akan kebijaksanaan. Iya kan?" Kata Raty dengan nada sedikit kesal.

"Hmm... sangat-sangat benar." Jawabku dengan bersikap dingin.
"Ternyata basong bukan cinta kebijaksanaan tapi cinta internetan." Setelah berkata demikian, Raty mengalihkan pandangannya menuju arah Barat. Di sana ia menemukan keindahan kota Kupang. Kota Kupang nampak dengan jelas, bagaikan sebuah langit yang penuh dengan taburan bintang. Sinar cahaya dari berbagai arah yang berserakan dari setiap kendaraan, membentuk bintang-bintang yang lagi berkejar-kejaran. Kekilauan cahaya di Kota Kupang di mata Raty, bagaikan langit yang kedua dari langit itu sendiri.

"Memang be ana Kupang, tapi be son sadar kalo kota Kupang dapat juga dikatakan sebagai sebuah langit. Bukit cinta menjadi teropong yang nyata untuk meneropong langit Kota Kupang," guman Raty.

"Raty... sepertinya fantasi kamu sudah terlalu jauh"

"Dari tadi basong unggah foto dari internet. Mungkin malam yang terakhir buat be ini, be lebih suka mengunggah foto secara alamiah, ku-enter dan kusimpan dalam memori pikiranku serta langit Kota Kupang menjadi nama file yang tersimpan." Raty memberikan sebuah narasi yang sedikit membingungkanku.

Kebingungan menyelimuti diri ini. Bukan hanya menyelimuti bahkan melilit pikiranku menjadi kosong. Aku merasa ada hal yang aneh dalam diri Raty. "Kupang diidentikan dengan sebuah langit yang indah? Bukankah itu cuman fiktif? Allah menciptkan langit itu cuma satu. Akan tetapi muncul langit yang baru pada masa kini." Yang kutemui di sekitarku hanyalah kegelapan.

"Raty, sebenarnya maksud kamu apa? Apa ada langit Kota Kupang? Ah cuma khayalan." Protesku.

"Pandanglah ke arah matahari terbenam. Di sana basong akan menemukan langit Kota Kupang."

"Ah semuanya dalam kegelapan. Kamu hanya berhalusinasi." Aku masih saja membangun argumen untuk melawan pernyataanya.

"Sayang, kenakanlah tembok kacamu. Rupanya mata kamu masih sangat membutuhkan tembok kaca sebagai perantara."
Akhirnya hal yang tak kusadari, aku menyadarinya dengan baik. Aku juga sadar kalau-kalau mataku rabun jauh. Kusadari kalau Kota Kupang memang menjadi sebuah langit yang bertaburan bintang. Kekilau-kilauan yang terpancar dan terbias, mengukir dengan indah. Keindahan itu bukan hanya terpancar lewat satu macam warna biasan saja, namun justru adanya berbagai warna itulah yang menambah semaraknya bentuk Kota Kupang menjadi sebuah langit yang menawan di mata setiap penikmat. Aku bersama dia terlarut dalam keelokan Kota, tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah pesawat yang mulai lepas landas. Tanpa kusadari ternyata dari bukit cinta nampak dengan jelas pesawat-pesawat yang mulai lepas landas (take off) di bagian Selatan. Tepatnya di LANUD El Tari Penfui.

"Sayang, biarkan pesawat itu terbang bersama katong pung cinta. Be harus melepaskan katong pung cinta diterbangkan dan dibawa pergi oleh pesawat itu." Ketika Raty mengakhiri kata-katanya, laptop yang menjadi penerang di bukit itu, mati secara tiba-tiba dan justru handphone-lah yang bercahaya, pertanda sebuah pesan diterima. Rido pun membuka pesan itu. Sumber pesan itu dari sahabat setianya Raty yang bernama Ivon.
Isi pesan itu,

"Kaka yang bae hati. Memang sulit untuk kukatakan buat kaka. Karena aku tahu, kalau kaka sangat-sangat cinta dan sayang terhadap Raty. Aku tahu kalau kaka menarik diri dari frater karena cinta terhadap Raty. Tapi semuanya sia-sia. Ketika ia kembali dari kampus ia ditabrak. Rumah sakit W.Z Yohanes terlambat menanganinya. Akhirnya ia meninggal tadi sore. Ia harus kembali pada bapa di surga."

Setelah membaca pesannya itu ternyata Raty sudah menghilang. Yang lebih mengejutkan lagi notebook hidup kembali dengan sendirinya. Akan tetapi walpaper hanya bergambar putih dengan tulisan, "Rido aku masih sangat mencintai kamu namun sang khalik berkehendak lain. Selamat jalan."

Membaca kata-kata itu,  aku seakan-akan tak berdaya lagi. Aku tak sanggup menerima kenyataan itu. Karena aku sangat mencintai dia. Kuingin teriaki Tuhan, kuingin hancurkan diri ini, aku merasa diri ini sangat terkutuk. Aku hanya bisa  berteriak "Raty, aku juga masih sayang kamu"*
*) Penulis adalah anggota KMK dan Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi St. Mkhael Penfui-Kupang
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved