Kombes Gde Sugianyar Dwi Putra: Memberikan Pelayanan Prima

BERTUBUH tinggi tegap mencapai 180 centimeter membuat Kombes Pol. Drs. Gde Sugianyar Dwi Putra, S.H, M.Si begitu gagah dengan pakaian dinas kepolisian. Sepintas, pria asal Bali ini terlihat sangar, namun sesungguhnya dia murah senyum dan cepat akrab dengan siapa saja.

BERTUBUH tinggi tegap mencapai 180 centimeter membuat  Kombes Pol. Drs. Gde Sugianyar Dwi Putra, S.H, M.Si begitu gagah dengan pakaian dinas kepolisian. Sepintas, pria asal Bali ini terlihat sangar, namun sesungguhnya dia murah senyum dan cepat akrab dengan siapa saja.

Hal ini tergambar saat Pos Kupang yang berbincang-bincang hampir satu jam dengan ayah empat anak ini. Di tengah-tengah pembicaraan yang serius, suami dari Lina Meidevita ini juga selalu mencairkan suasana dengan canda. Bahkan, tidak tanggung-tanggung pria yang suka fotografi ini menunjukkan karya-karya fotonya yang indah selama berada di NTT.

Kombes Gde Sugianyar Dwi Putra menjabat sebagai Direktur Lalu Lintas Polda NTT sejak Maret 2011 lalu. Sejak awal kehadirannya di jajaran Polda NTT, sudah banyak perubahan yang dilakukannya, antara lain pelayanan yang lebih pada pengurusan STNK di Samsat NTT dan upayanya meningkatkan disiplin berlalu lintas, upaya pelayanan bagi pengguna jalan umum. Dia mengubah pelayanan yang lamban menjadi pelayanan yang cepat dan prima. Berikut perbincangannya dengan wartawan Pos Kupang.
 
Anda datang dan mulai melakukan perubahan dari Samsat. Mengapa memulai dari sana?
SAYA membaca di salah satu media nasional bahwa NTT merupakan salah satu pantauan Ombudsman dalam bidang pelayanan publik. Pada saat itu Ombudsman hendak melapor kepada Wakil Presiden sebagai ketua reformasi birokrasi. Nah,  di NTT pelayanan publik belum begitu maksimal. Salah satu yang menjadi sasaran adalah Samsat. Untuk itu, saya mengatur strategi bahwa pelayanan publik itu menjadi salah satu sarana pembenahan saya.

Bagaimana Anda melihat Samsat di sini saat pertama datang?
Memang pada saat itu kondisi Samsat di dalam kompleks kantor gubernur lama. Letaknya membuat orang susah mencari kantor itu. Itu tidak sesuai dengan prinsip pelayanan yang mudah dijangkau masyarakat. Selain itu, di Samsat belum ada asas keadilan, seperti siapa yang datang duluan, maka dia yang harus selesai duluan. Tidak bisa yang datang duluan terus selesainya belakangan. Sistemnya FIFO: first in first out (masuk pertama keluar pertama, Red). Pada saat itu saya juga melihat di Samsat belum ada standar waktu pelayanan. Padahal di Samsat ada berbagai produk seperti pengesahan STNK, ada urusan STNK,  pendaftaran kendaraan baru, ada BBN dan mutasi. Nah dari berbagai proses itu, tidak ada kejelasan standar waktu penyelesaian. Mau selesai satu jam, mau selesai 30 menit hingga tiga jam, suka-sukanya petugas. Kemudian di sana tidak ada informasi yang jelas berkaitan dengan masalah harga. Tidak ada petugas informasi yang menjelaskan, kemudian tidak ada publik yang komplain.

Terus, apa yang Anda lakukan?
Nah berangkat dari situlah beberapa bulan saya di sini mencoba melakukan perubahan dengan mengacu pada standar umum pelayanan publik yang telah ditetapkan SKEP Menpan Nomor 63 Tahun 2003. Di standar umum pelayanan publik itu ada berbagai asas, seperti transparansi, akuntabilitas dan sebagainya dan diatur dalam Undang-Undang Pelayanan Publik. Undang-undang itu mengatakan bahwa salah satu instansi pelayanan publik di kepolisian di SIM, STNK, BPKB, SKCK. Kita selaku pimpinan Kasatker, Direktur Lalu Lintas bertanggung jawab terhadap pelayanan publik di lingkungan kepolisian, khususnya di lalu lintas. Kemudian saya mencoba membenahi. Karena di Samsat menyangkut tiga instansi, makanya saya mencoba menyamakan persepsi dari Kepolisian, Dispenda dan Jasa Raharja dan Bank NTT.

Anda melakukan perubahan. Bagaimana Anda memulainya?
Pada awalnya saya sedih, karena belum ada yang tahu tentang standar umum pelayanan publik. Saat itu saya sampaikan kepada semua pihak untuk mengubah paradigma, bukan kita dilayani masyarakat, tetapi kita yang melayani masyarakat. Dari sana kita kemudian mengubah mekanismenya, aturan-aturan tertulis ada kita bikin job diskripsi. Masing-masing petugas berbuat apa dan apa yang menjadi tanggung jawabnya dan di tiap-tiap meja ada. Kemudian mekanisme pengaturan mejanya kita buat seperti ban berjalan menganut sistem FIFO. Mulai dari petugas pendaftaran kemudian penetapan pajak sehingga pada finish kita sepakati pengesahan STNK maksimal 30 menit. Ternyata dalam perjalanan waktu bisa dipangkas lagi dari 30 menit menjadi 20 menit, ini dalam rangka pelayanan.

Bagaimana dampaknya?
Dampaknya sangat signifikan. Pertama, dari sisi kenyamanan. Orang yang datang ke Samsat itu terlayani betul. Kedua, pajak yang merupakan tulang punggung pembangunan  di NTT menjadi meningkat pendapatannya. Dan kemarin saya dapat datanya ternyata pendapatannya sudah mencapai 134 persen. Bahkan bulan Desember sudah 6,5 miliar. Padahal biasanya hanya 3-4 miliar. Ini menunjukkan pelayanan prima itu sudah mampu mendukung masyarakat datang berduyun-duyun ke Samsat dan tidak lagi berpikir untuk titip ke calo. Saya tanya petugas, pendapatan sehari bisa mencapai 400 sampai 500 juta. Nah di sini salah satu yang menjadi bagus karena peran media juga. Dari media kami bisa mempromosikan Samsat sekarang berstandar pelayanan prima dengan standar waktu pelayanan 15 menit.

Bagaimana dengan pelayanan BPKB dan SIM?
Pelayanan BPKB juga kita benahi. Pelayanan BPKB di Kupang sudah mendapatkan ISO. Kita juga sudah menerapkan delivery order. Ketika BPKB selesai, kami yang mengantarkan kepada pemohon seperti di dealer. Dan kami memiliki dua unit sepeda motor yang siap mengantarkan BPKB. Betul-betul masyarakat terlayani. Di bidang SIM kami mendekatkan pelayanan kepada masyarakat komunitas terkecil. Salah satu contohnya di bidang perpanjangan SIM, kami sudah siapkan dua unit mobil SIM keliling. Mobil SIM keliling mengurangi frekuensi kepadatan pengurusan SIM di Polres. Mobil SIM keliling kami tempatkan di Bundaran PU dan depan kampus Undana lama.

Bagaimana dengan ketertiban berlalu lintas warga Kupang? Apa yang Anda lakukan untuk hal ini?
Iya, tantangan selanjutnya saya di Kupang berkaitan dengan kesadaran masyarakat tertib berlalu lintas. Menurut saya sangat menyedihkan, masalah kesadaran lalu lintas. Karena di Kupang ini banyak masyarakat khususnya anak muda tanpa memikirkan dampaknya akibat ulahnya di jalan raya. Data kasus laka lantas di sini cukup tinggi. Rata-rata satu hari ada yang meninggal,  selain satu orang luka berat di wilayah NTT.
Tetapi sebenarnya ada kekhawatiran dan ketakutan juga bagi pemakai jalan lainnya, bahwa perilakunya tidak tertib itu menimbulkan dampak bagi pemakaian jalan lainnya.

Apakah terkait dengan ugal-ugalan di jalan?
Ya, coba bayangkan naik sepeda motor malam-malam di Jalan Sudirman Kuanino dengan kecepatan tinggi, apa dia merasa hebat. Bagaimana mereka naik sepeda motor berknalpot racing tengah malam saat orang istirahat. Ada anak kecil dengan bangganya dengan sepeda motor knalpot racing, tidak berempati dan tidak menggunakan helm. Pernahkah dia berpikir  sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga. Dia juga demikian, bisa jatuh dan kepala pecah.

Apa saran Anda untuk para orangtua anak-anak ini?
Orangtua yang punya anak ini bisa mengingatkan anak-anaknya terus menerus. Jangan tunggu sampai kecelakaan kaki patah baru sadar atau meninggal baru menyesal. Sekarang pertanyaan saya, apakah tertib lalin menunggu sadar atau sudah menjadi mayat. Masa mau tertib lalin di surga sana. Itu saya pertanyakan kepada masyarakat di NTT, apakah kita tertib lalu lintas menunggu ketika kita sudah menjadi korban?

Terus apa yang dilakukan untuk menyadarkan tertib berlalu lintas ini?
Kita tetap mengedapankan upaya-upaya persuasif. Saya memberikan penyadaran bahwa tertib lalu lintas ini bukan maunya polisi. Tetapi ini kebutuhan rasa aman bagi kita semua, baik anda sendiri maupun pemakai jalan lainnya. Kita juga aktif kedepankan upaya itu, termasuk salah satunya memberikan pemahaman aktif kepada sopir angkutan kota.

Bagaimana Anda melihat angkutan kota di sini?
Sopir angkot di sini 90 persen pengemudi dan kondektur rata-rata anak-anak muda. Rata-rata mereka tidak memahami betul bahwa mereka sebagai awak angkutan yakni sopir dan kondektur bertanggung jawab bukan hanya membawa nyawanya diri sendiri, tetapi dia bertanggung jawab terhadap nyawa orang lain yang diangkutnya. Tapi, kendaraan angkutan umum banyak aksesoris yang sebenarnya mengganggu pandangan pengemudi. Alangkah tindakan yang sangat bodoh, menurut saya, mereka memasang boneka, stiker yang ditaruh di kaca depan yang menghalangi pandangan dia. Ini  terkait keamanan.

Apa alasan para sopir memasang begitu banyak aksesoris?
Para sopir banyak beralasan untuk menarik penumpang, tidak ada kaitannya antara musik keras, boneka dengan ketertarikan penumpang. Malah penumpang muak melihat hal itu dan banyak yang protes. Tak hanya itu, penertiban kaca film dan gambar porno sementara di Jakarta lagi heboh kasus pemerkosaan di dalam angkutan. Kami sudah menertibkan duluan di sini, hanya masyarskat tidak menyadari apa yang kami lakukan demi pencegahan. Apakah harus menunggu di Kupang ini terjadi pemerkosaan di angkot baru kita heboh?

Bagaimana dengan sepeda motor knalpot racing?
Kita melakukan penertiban sepeda motor racing ini dengan persuasif. Kesulitan kami di lapangan bahwa racing itu dimodifikasi untuk sepeda motor berkecepatan tinggi. Kami melakukan penegakan hukum tidak bisa serta merta begitu saja. Pertama, dengan kekuatan kecil tidak mungkin, kita pasti akan kalah apalagi mereka dengan kelompok geng besar. Kedua, kita kadang-kadang menghentikan, tetapi tidak mau berhenti, pasti dia akan melarikan diri.

Kan bisa melakukan pengejaran?
Kita punya unit pengejar,  kadang-kadang kita berpikir memperhatikan faktor keselamatan. Kita bisa saja melakukan pengejaran karena kita sudah dibekali keselamatan untuk pengejaran, tetapi bagaimana kalau yang dikejar jatuh dan kemudian meninggal atau luka tentu nanti kami yang disalahkan. Jadi kami coba hindari pengejaran itu.  Tapi yang kami lakukan, pertama, dengan persuasif, kedua, metode menindak dalam kondisi yang aman.  Jadi aman bagi petugas dan aman bagi pengendara.

Dalam razia knalpot ini, banyak juga yang terjaring ya?
Ia memang, dari hasil operasi jumlahnya ternyata banyak yang menggunakan knalpot ini. Di kantor Satlantas di Polres-polres sangat banyak, bahkan bisa sampai ribuan. Knalpot ini kita sita dan menunggu penetapan pengadilan untuk dimusnahkan.
Kami undang semua stakeholder untuk kami nyatakan, Say No to Knalpot Racing. Karena kami tidak bisa sendirian menangani persoalan knalpot racing, tetapi membutuhkan peran serta dari pihak lain.

Bagaimana peran orangtua?
Peran orangtua sangat penting untuk mengingatkan anaknya jangan menggunakan knalpot racing. Karena, anaknya sudah mengguanakan sepeda motor berknalpot racing itu berarti harus siap-siap anaknya pulang dalam kondisi luka, patah bahkan bisa menjadi mayat. Dan, sangat disayangkan kalau ada orangtua membiarkan hal itu alias cuek dan bangga anaknya naik sepeda motor knalpot racing.

Banyak warga yang bilang, kenapa polisi tidak melarang saja penjualan knalpot racing?
Kami tidak mempunyai kewenangan ataupun undang-undang yang mengatur penjualan knalpot racing itu dilarang. Semua tergantung pemanfaatnnya seperti apa. Kalau masyarakat membeli knalpot racing, tetapi hanya khusus untuk balapan resmi ya, sah-sah saja. Tetapi yang salah ketika dia menggunakan knalpot racing kemudian dipasang di sepeda motor dan dipakai sehari-hari, itu yang kita tertibkan.

Ada satu lagi kebiasaan warga NTT kalau hari Minggu tidak pakai helm karena alasan ibadah. Apakah ini dibenarkan?
Ketika saya masuk ke sini, saya merasakan hal itu. Kok hari Minggu sepertinya bebas pelanggaran, tetapi saya sangat hati-hati dalam penegakan hukum soal ini. Karena sangat sensitif terhadap masalah agama. Makanya saya melakukan pendekatan dan berkoordinasi dengan tokoh agama untuk memasukkan dalam khotbahnya bahwa tertib berlalu lintas itu tidak mengenal hari dan waktu. Bukan berarti kita ke tempat ibadah kita harus melanggar tertib lalu lintas. Tertib lalu lintas itu bagian dari ibadah dan aplikasi pemahaman saat itu adalah tertib lalu lintas. Kita juga berkoordinasi dengan tokoh agama yang lain, seperti Islam dan Hindu supaya menyampaikan hal yang sama.

Jadi hari Minggu juga ada razia?
Kita tetap melakukan tugas  penegakan hukum pada hari Minggu, tapi dilakukan secara persuasif.  Represif saya lakukan untuk yang sangat potensial menyebabkan kecelakaan dan mengganggu kehiduapan beragama itu sendiri. Bayangkan di El Tari, jam lima sore pada hari Minggu mereka dengan track-trackan dan sepeda motor standing di depan gereja yang sementara ada orang beribadah, terus aksi itu apakah ibadah namanya. Saya tunjukkan kepada masyarakat. Tidak ada ajaran agama yang menyebutkan dia boleh melanggar tertib berlalu lintas saat hendak beribadah. (muhlis al alawi/alfred dama)

Eksploitasi Keindahan NTT

BERTUGAS di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan kesenangan tersendiri bagi Kombes Pol. Drs. Gde Sugianyar Dwi Putra, S.H, M.Si. Bukan karena mendapat jabatan, namun di bumi Flobamora, pria penyuka fotografi ini bisa menyalurkan hobinya. "Saya bersyukur bisa ditempatkan di NTT karena bisa menambah wawasan ke-Indonesiaan saya. Di dunia fotografi banyak yang mengatakan, NTT ini surga bagi fotografer. Dan memang betul," jelasnya.

Pria murah senyum ini sudah membuktikan NTT memang surga bagi dunia fotografi. Ketika mengelilingi NTT, banyak objek foto yang bisa didapat. "Saya sudah keliling  NTT dan saya mungkin menuntaskan ke seluruh wilayah NTT. Ternyata NTT potensi alamnya luar biasa dan tinggal tunggu waktu saja untuk maju pesat," jelasnya.
Kekaguman pada bumi Flobamora ini pula yang membuatnya dengan senang hati bila suatu saat ditugaskan kembali ke NTT ini.

Meski berkantor di Kupang, pria yang akrab dengan kalangan wartawan ini mengatakan, selalu memanfaatkan kesempatan berkunjung ke daerah dengan mengambil gambar-gambar melalui kamera profesionalnya.

"Sangat terpuaskan dan koleksi foto saya sudah banyak ada di laptop saya. Yang  abadikan terutama kegiatan di kepolisian di sini dan obyek wisata," jelasnya.
Foto-foto karyanya juga tidak dinikmati sendiri, melainkan dibagi-bagikan melalui jejaring sosial. Ini dilakukan agar banyak orang tahu tentang keindahan bumi NTT.

"Kebetulan saya juga suka meng-upload di jejaring sosial sehingga orang banyak tahu NTT. Banyak teman saya yang tidak tahu kalau Danau Kelimutu itu ada di NTT. Mereka pikir ada di mana begitu. Semisal, Oenesu banyak yang heran ada obyek air terjun di Kupang," jelasnya.(alf/aly)


Data diri

Nama: Drs. Gde Sugianyar Dwi Putra, S. H, M.Si
Pangkat: Kombes
Jabatan: Dir Lantas Polda NTT
Tempat Tanggal Lahir : Gianyar, 14 September 1964
Istri : Lina Meidevita
Anak-anak: Gde Wira Wibawa E.P
                    Made Ayu Gina P
                    Nyoman Try Yuliani P
                    Ketut Kanya Paramitha D
Jabatan,   di antaranya:
Pamapta Polres Surakarta Polda Jateng    1987
Wakasat Lantas Patwal Dit Lantas Polda Metro Jaya 1999
Wakapolres Metro Tangerang Polda Metro Jaya 2002
Kapolresta Balikpapan    : 2006
Kepala SPN Balikpapan  : 2007
Kabid Humas Polda Bali :    2008
Dir Lantas Polda NTT     :  2011 hingga kini

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved