Selasa, 9 Juni 2026

Duduk Saja, Kami Bosan

POS-KUPANG.COM --- Di Aula Posko Ankara Lewoleba, para pengungsi tidur di lantai beralaskan kasur sejak semalam. Mereka makan siang dengan lauk ikan sardin dan mie pada siang hari Rabu (4/1/2011). Cukup mengenyangkan.

Tayang:

POS-KUPANG.COM --- Di Aula Posko Ankara Lewoleba, para pengungsi tidur di lantai beralaskan kasur sejak semalam. Mereka makan siang dengan lauk ikan sardin dan mie pada siang hari Rabu (4/1/2011). Cukup mengenyangkan.

Ketika ada yang mengeluh sakit kepala, pilek, batuk  atau badan sakit, mereka hanya mendekat ke meja petugas medis yang berada dalam ruangan, mereka dilayani dengan ramah.

Ditanyai kondisi sakitnya, diperiksa tekanan darahnya lalu diberikan obat. Tanpa bayaran, tentu saja. Kapan ema mereka dibawa ke Posko Ankara?

"Tadi malam sekitar jam satu kami semua dibawa ke sini. Sejak siang memang kami sudah cium bau belerang cukup tajam, jadi kami juga khawatir. Asap juga sudah hampir sampai di lereng," ujar Mama Bernadetha, salah seorang pengungsi yang  usianya sekitar 78 tahun.

Berdampingan dengannya ada Opa Yakobus, Lambertus yang usia mereka tak beda jauh dengan Mama Bernadete. Mereka adalah warga Lamatokan, salah satu desa yang tergolong rawan jika Ile Lewotolok benar-benar meletus.

Meninggalkan rumah, ternak dan kebun di desa dan harus mengungsi, membuat mereka juga khawatir dengan hewan peliharan. "Tapi ada keluarga yang masih kuat ada di kampung. Kalau sudah ada perintah lagi untuk semua harus meninggalkan kampung, baru mereka ikut saja," ujar beberapa pengungsi lainnya.

Pernahkah mengalami situasi seperti ini di tahun-tahun sebelumnya? "Baru ini kali kami mengungsi. Kalau gempa kami biasa juga alami dua tahun lalu tapi kami tidak mengungsi," ujar Lambertus yang mengaku ketika Ile Ape meletus tahun 1920, dia belum lahir.

Mereka berharap situasi sulit saat ini segera berakhir dan mereka secepatnya pulang kampung.

"Kalau bau belerang tidak tajam, kami juga pasti masih di kampung. Soalnya kami biasa cium bau belerang juga tapi kemarin lebih tajam, apalagi sudah ada pengumuman dari desa untuk waspada," ujar Lambertus yang seharian biasa berkebun tetapi saat ini terpaksa istirahat bekerja dan hanya menghabiskan waktu berjam-jam di Aula Ankara.

"Hanya duduk-duduk begini saja, ini yang buat bosan. Soalnya kami biasa kerja tiap hari. Mudah-mudahan kami segera pulang kampung lagi.  Mudah-mudahan!


 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved