Petani Adaptasi pada Perubahan Iklim
MUSIM hujan yang tidak menentu dan semakin tidak beraturan selalu membingungkan petani saat awal musim tanam. Tidak heran bila tidak sedikit petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami gagal tanam, bahkan hingga gagal panen.
POS KUPANG.COM --- MUSIM hujan yang tidak menentu dan semakin tidak beraturan selalu membingungkan petani saat awal musim tanam. Tidak heran bila tidak sedikit petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami gagal tanam, bahkan hingga gagal panen.
Situasi yang sama juga terjadi pada tahun ini, dimana banyak petani yang tidak berani menanam dengan alasan hujan yang dianggap belum menentu meski telah memasuki musim hujan.
Hujan yang tidak menentu membuat petani bingung untuk menentukan waktu menanam. Mereka ragu, bila menanam sekarang dengan risiko hujan tidak lagi turun, maka bibit yang ditanam bakal gagal tumbuh atau sudah tumbuh kemudian mati karena kekurangan air.
Agustinus Baluk, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menjelaskan, iklim yang cenderung berubah dan tidak menentu kini mulai membingungkan para petani. Petani yang dalam kondisi bingung menjadi gelisah serta ragu untuk mulai menanam. "Memang iklim sekarang membuat petani resah. Mereka sudah siapkan lahan karena jelang musim tanam, tapi hujan tidak menentu," jelasnya.
Sebagai penyuluh pertanian, kata Baluk, pihaknya juga mengerti tentang kegelisahan para petani tersebut. Menurutnya, pada jelang musim hujan yang biasanya pada awal Oktober biasanya petani sudah mulai menyiapkan lahan dan bibit dengan perhitungan saat memasuki musim hujan, aktivitas tanam pun dimulai.
Namun belakangan, pergeseran musim hujan yang lebih cenderung terjadi pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya membuat petani serba bingung. Tak heran bila terjadi gagal tanam untuk tanaman pangan sehingga pada tahun berikutnya kerap terjadi ancaman rawan pangan. "Memang petani gelisa, karena iklim ini," jelasnya.
Beberapa petani yang ditemui di kawasan Tilong, Kecamatan Kupang Tengah, Jumat (16/12/2011), mengaku mengalami hal yang sama. Saat ini, ini hujan sudah mulai baik, namun untuk sebulan ke depan belum bisa dipastikan hujan akan turun dengan intensitas yang cukup.
Kepala Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi, Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, Ir. Purwanto, menjelaskan, fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini cukup berpengaruh terhadap jadwal hujan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di wilayah Nusa Tenggara Timur. "Perubahan iklim memang mempengaruhi musim hujan, ini yang membuat petani bingung," jelasnya.
Menurutnya, dalam kondisi ini, petani harus bisa beradaptasi dengan kondisi iklim, sebab perubahan iklim ini terjadi secara global. Dalam kondisi ini, petani harus bisa mencermati fenomena alam yang sedang terjadi.
Menurutnya, seperti yang terjadi saat ini di NTT dimana secara teori wilayah NTT sudah memasuki musim hujan sejak November 2011, namun nyatanya tidak semua wilayah mengalami hujan. Hujan yang terjadi juga berlangsung secara sporadis atau hanya hujan lokal saja.
"Hujan di NTT mulai bulan November, tapi di Sabu dan Rote Ndao sudah hujan sejak pertengan Oktober dan akhir Oktober lalu. Ada juga daerah yang belum hujan," jelasnya.
Menurutnya, daerah yang telah hujan lebih awal akan lebih awal pula memasuki musim kemarau dan daerah yang terlambat masuk musim hujan, akan lebih lambat memasuki musim kemarau. Sebab, periode hujan ini NTT hanya empat bulan saja.
Ia menjelaskan, musim hujan biasanya ditandai dengan curah hujan 50 mm pada 10 hari pertama dan 50 mm lagi pada 10 hari berikutnya. Bila syarat ini terpenuhi, maka wilayah tersebut sudah memasuki musim hujan, dan petani sudah boleh menanam.
Untuk kondisi di NTT tidak semuanya sama. Sebab, hujan yang terjadi saat ini masih bersifat sporadis dan lokal. Kondisi ini jelas saja membuat petani bingung dan menjadi ragu untuk memulai menanam. "Jadi petani harus bisa beradaptasi, memperhatikan hujan juga," jelasnya.
Agar petani bisa memahami fenomena hujan, pihaknya sudah pernah melakukan sekolah iklim langsung ke petani di beberapa tempat. "Jadi petani diberi pengetahuan tentang iklim dan itu menjadi dasar pengetahuan mereka untuk menentukan waktu menanam," jelasnya.
Untuk membantu petani juga, Purwanto mengatakan, setiap bulan juga pihaknya mengirimkan buletin tentang prakiraan hujan ke intansi terkait. Diharapkan, informasi tersebut bisa menjadi acuan bagi petani untuk menentukan waktu menanam. "Kita juga mengharapkan intansi teknis untuk membantu menyampaikan informasi tentang hujan ini," jelasnya. (alf_dama@yahoo.com)