Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

Seperti Tong Kosong

Akibat ulah Jeremy itu, anak yang sudah mendapat masalah harus menghadapi masalah baru. Konsentrasi belajarnya terganggu terutama dalam menghadapi pertanyan dari seisi sekolah mengenai masala pribadinya itu.

SEMUA anak di kelas sudah tahu, jika sedang dirundung masalah mereka lebih memilih untuk menghindar dari Jeremy. Karena jika  sampai diketahui Jeremy, maka permasalahan yang sebelumnya sederhana, bias menjadi besar dan meluas hingga  diketahui seisi sekolah.

Akibat ulah Jeremy itu, anak yang sudah mendapat masalah  harus menghadapi masalah baru. Konsentrasi belajarnya terganggu terutama dalam menghadapi pertanyan  dari seisi sekolah mengenai masala pribadinya itu.

Sudah menjadi tabiat Jeremy untuk selalu melibatkan diri dalam permasalahan teman-temannya.  Tidak peduli apakah  permasalahan itu terjadi antar sesama teman, dengan guru, maupn dengan pihak luar. Anehnya jika dirinya sedang diliputi masalah, Jeremy malah kebingungan menghadapinya. Bu Guru Wali Kelas pernah menegur Jeremy prihal tabiat buruknya itu.

"Jika ada masalah pasti  nama Jeremy selalu terdengar. Di kelas, di luar kelas bahkan di luar sekolah nama itu terdengar nyaring. Seperti bunyi tong kosong yang ditabuh orang di mana-mana. Tong itu memamng benar-benar kosong, karena di saat irinya menghadapi masalah, dia sendiri tidak dapat menyelesaikannya," tegur Ibu Wali Kelas ketika Jeremy mengulangi tabiat buruknya.
                    * * *
Suatu sore ketika sedang mengerjakan tugas praktek untuk ujian kenaikan kelas di sekolah, kelas Jeremy didatangi sekelompok anak dari sekolah lain. Mereka ingin mencari Evan, salah seoang teman Jeremy.Tanpa mmbuang waktu Jeremy pun keluar menemui mereka. Namun tanpa banyak bicara salah seorang dari kelompok anak yang datang itu langsung melayangkan pukulan ke  arah wajah Jeremy. Jeremy pun terhuyung-huyung. Beruntung beberapa teman memegangnya sehingga dia tidak sampai roboh.

"Rasakan kamu, Evan. Kamu kan yang kemarin menyipratkan lumpur ke celana salah seorang teman kami? Sudah bersalah, bukannya minta maaf, kamu malah kabur," kata anak yang memukul wajah Jeremy dengan nada tinggi. Oleh beberapa anak sudah dijelaskan bahwa yang dipukul itu bukan Evan, tetapi anak-anak itu tidak percaya. Sudah dimintakan pula agar permasalahan dengan Evan dapat diselsaikan secara baik-baik, namun anak-anak itu tetap ingin membalaskan dendamnya.. Pak Guru yang sedang mengerjakan materi ujian di ruang sebelah  terkejut oleh keributan itu.Dia segera menuju ruang kelas. Didapatinya dua kelompok anak sedang bersitegang.
"Ada apa, ini?" tanya Pak Guru.
"Mereka  mencari dan hendak membalas dendam pada Evan, Pak. Tetapi malah Jeremy yang terkena pukulan", kata  Dodi yang masih memegangi tangan Jeremy.

"Sebagai pelajar, Bapak yakin kalian biasa menyelsaikan permasalahan ini baik-baik," kata Pak Guru setelah mengajak kedua kelompok anak itu ke dalam salah satu ruangan kelas.

"Sebelum tiba pada penyelesaian masalahnya, perlu Bapak jelaskan bahwa yang kalian pukul itu bukan Evan melainkan Jeremy. Jadi kelompok kalian telah melampiaskan dendam pada orang yang salah. Sedangkan Evan yang kalian cari adalah anak yang duduk di pojok itu", Pak Guru memperkenalkan sambil meminta Evan untuk berdiri. Evan pun berdiri dngan wajah kecut.

"Maafkan kami, Pak. Tadi ketika kami menanyakan Evan, Jeremy yang keluar, jadi langsung kami pukul, pak Kami kira ialah Evan," kata anak yang memukul Jeremy.
"itulah akibatnya kalau kita menyelesaikan suatu masalah dengan emosi. Apa yang ada di depan langsung diterjang. Tapi jika sampai menerjang orang yang salah seperti ini kan fatal akibatnya. Beruntung tidak sampai timbul hal-hal yang tidak kita inginkan', nasihat Pak Guru. Seisi ruangan terdiam.

"Sekarang Bapak minta Evan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah kamu lakukan terhadap teman mereka kemarin", tegas Pak Guru.

"Saya bersedia mencuci dan menyetrika celana teman yang saya kotori kemarin, Pak," jawab Evan.
"Hanya itu?" tanya Pak Guru.

"Seusai mengerakan tugas nanti, saya akan ke rumahnya. Ayah hendak meminta maaf kepada teman itu dan kedua orangtuanya. Karena atas kecerobohan saya, dia sampai tidak masuk sekolah kemarin," janji Evan.

"Saya juga mau meminta maaf, Pak. Saya telah memukul Jeremy yang tidak bersalah. Sebagai bukti rasa penyesalan saya, saya bersedia menanggung biaya pengobatan luka di wajahnya itu," kata anak yang memukul Jeremy dengan nada penyesalan.

                ***
Rasa sakit akibat luka memar pada wajahnya membuat Evan tidak dapat berbuat lain selain meringkuk di pembaringannya. Akibatnya tugas praktik yang diberikan Pak Guru tidak dapat dia serahkan tepat pada waktunya.

"Itulah akibatnya kalau kamu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengurusi permaalahan orang lain. Luka di wajahmu itu seharusnya memberimu pelajaran untuk tidak mengulangi tabiat burukmu itu. Gara-gara luka itu tugas praktekmu menjadi terbengkalai. Kamu jangan berharap Bapak akan memberimu dispensasi dalam kasus ini. Jangan marah kalau kamu harus mendapatkan nilai merah untuk tugas praktekmu kali ini," tegas pak Guru. Mendengar itu Jeremy tertunduk lesuh. Seandainya dia tidak mncampuri urusan Evan tentu tidak akan terjadi seperti ini. *

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help