Rabu, 10 Juni 2026

Mau Putus, Tapi Sudah Terlanjur...

Hubungan kami sangat tidak mulus, meskipun masuk bulan Desember ini sudah terhitung tiga tahun kami pacaran. Masalahnya dia ini selalu selingkuh dan herannya lagi saya selalu memaafkannya. Pernah suatu ketika saya memergoki dia berpacaran dengan teman akrabku. Lantas saya minta agar hubungan kami putus saja.

Tayang:

Dokter Valens Yth
SELAMAT bertemu buat semua di Pos Kupang.  Nama saya Mariani. Saya seorang karyawati di sebuah perusahaan pada salah satu kota di Sumba. Setelah saya membaca surat-surat dokter yang ada di Pos Kupang, ingin rasanya saya membagi isi hati kepada dokter. Kiranya dokter masih mau membantu saya. Begini ceritanya, Saya punya pacar seorang polisi muda.

Hubungan kami sangat tidak mulus, meskipun masuk bulan Desember ini sudah terhitung tiga tahun kami pacaran. Masalahnya dia ini selalu selingkuh dan herannya lagi saya selalu memaafkannya. Pernah suatu ketika saya memergoki dia berpacaran dengan teman akrabku. Lantas saya minta agar hubungan kami putus saja.

Untuk kesekian kalinya dia selalu jawab bahwa dia tidak mau putuskan hubungan kami. Dia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Sayapun menerimanya kembali sebagai pacar saya.  Waktu terus berlalu dan hubungan kamipun semakin serius. Sejak dua bulan yang lalu dia meminta saya agar harus serius dengannya. Karena rasa sayang dan cinta, sayapun menuruti kemauannya.
Selanjutnya kehidupan kami pun layaknya seperti sudah menjadi suami-istri. 

Apabila dia pulang tugas dari luar kota, diapun sering datang dan tinggal bersamaku.  Keluarganyapun tahu semuanya dan merekapun ingin mengurus pernikahan  kami. Hanya saja sangat disayangkan, dia selama ini tidak pernah mau jujur. Saya juga mendengar bahwa dia itu punya pacar di tempat lain (di luar kota).

Langsung saja saya menghubungi ke HP-nya dan ternyata dia mengaku dan mengatakan bahwa itu benar. Saya begitu sakit hati dan langsung mengambil keputusan: PUTUS!!!! Dokter, setelah lewat dua bulan ini saya merasa sangat menyesal atas keputusan saya itu. Kemudian saya mencoba menghubunginya lagi lewat telepon, tetapi dia tidak mau lagi memberikan saya kesempatan untuk berbicara dengannya.

Saya semakin stres, merasa sudah jadi sampah, tidak berguna lagi hidup, dan akhir-akhir ini saya ingin bunuh diri saja. Untuk itulah pada kesempatan ini saya berharap dokter bisa membantu saya memberikan jalan keluar agar saya bisa berpikir baik dan lebih kuat untuk membangun masa depan saya. Bagaimana caranya agar saya bisa rukun kembali dengan dia (tanpa pertengkaran). Oh ya dokter, inisial nama pacar saya itu AR, umurnya 24 tahun dan saya 20 tahun. Jawaban dokter sangat saya butuhkan.  Salam, Mariani-Sumba.


Saudari Mariani  yang baik,
Selamat bertemu. Beberapa kali saya menerima surat yang isinya senada. Surat-surat yang berisi keluhan dan ungkapan hati  seseorang karena dikhianati pacarnya. Ada juga pertanyaan tentang apa yang dilakukan ketika tahu pasangan (pacar)-nya  berselingkuh. Apalagi dalam surat Anda mengatakan bahwa pacar Anda mengaku mempunyai WIL (wanita idaman lain). 

Untuk itu, buat semua surat yang senada, dapat saya wakilkan jawaban saya pada kesempatan ini. Seorang penulis bernama Clarissa Pinkola Estes, Ph.D dalam Women Who Run with the Wolves, mengatakan begini: Dalam sebuah hubungan cinta tunggal  ada banyak  akhir. Ketika Anda sedang dilanda asmara dengan kekasih Anda, terasa dunia ini hanya milik kalian berdua, orang lain sekadar "kontrak". Anda lupa bahwa proses cinta ini bisa berakhir putus, cerai, sakit hati, putus asa dan masih banyak lagi.

Setelah perselingkuhan pacar Anda dengan wanita lain terkuak, Anda berada pada pilihan keputusan untuk mengakhiri hubungan atau membangun kembali hubungan Anda dengan pacar Anda tersebut. Dalam hal ini, jalan mana yang Anda tempuh.
Saya mendorong Anda untuk memilihnya dengan bebas, dan tidak berdasarkan perasaan semata-mata. Tentu saja setelah Anda selesai membaca jawaban ini dengan saksama.

Dalam buku  After the Affair, Janis Abrahms Spring, Ph.D, seorang psikolog klinis, menulis sebagai berikut: memilih keputusan hanya berdasarkan perasaan dan asumsi-asumsi yang seringkali amat subyektif, sudah sering terbukti sebagai pengambilan keputusan yang tidak realistik, tak berguna dan tidak benar. Apa yang rasanya benar bagi Anda sekarang, di kemudian hari mungkin Anda sesali sebagai respons yang "impulsive" dan terburu-buru. 

Contohnya, hari ini Anda inginkan pacar Anda itu bisa kembali dan bersama Anda lagi tanpa pertengkaran. Bila itu terjadi, maka Anda dihadapkan pada dua pilihan yang keduanya merupakan jalan buntu. Yang pertama adalah bila dia kembali, Anda berharap tetap bersamanya dan tak pernah membicarakan mengapa perselingkuhan itu terjadi. Atau Anda berusaha untuk meyakinkan diri Anda bahwa itu tidak akan terjadi lagi.

Inilah tiket menuju hidup yang sia-sia. Yang kedua, adalah Anda tetap bersamanya, sambil melihat bahwa dia terus tidak setia dan Anda mati-matian melawan keputusasaan atau kemarahan. Anda Terluka, namun Anda menutup diri secara buta dan bersikeras mempertahankan hubungan kalian.

Itu namanya cinta tak terbalas. Untuk poin ini tidak lebih baik dari yang pertama. Anda menulis bahwa setelah dua bulan Anda mengambil keputusan untuk PUTUS hubungan kalian, Anda kemudian sangat menyesal. Mengapa Anda menyesal? Bukankah dia juga tidak pernah meminta maaf atas kesalahannya?  Anda menulis bahwa ketika Anda menghubunginya lagi via telepon, dia tidak mau berbicara dengan Anda.

Untuk itu saran saya bahwa  masih ada satu langkah lagi yang mungkin bisa Anda lakukan saat ini adalah menemui dia dan bicarakan secara langsung.
Bila kenyataannya  tanggapan dia sangat menyakitkan dan malah tidak ada harapan, Anda patut menasihati diri Anda sendiri bahwa sudah tidak perlu  lagi membangun satu model cinta tak terbalas.  Selanjutnya Anda menulis bahwa Anda begitu stres dan ingin bunuh diri. 

Oh itu lebih salah lagi dari kesalahan-kesalahan yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Adalah lebih baik memaafkan masa lalu Anda, melupakan dan berusaha membangun suatu bentuk cinta yang lebih langgeng daripada tetap bersusah-payah menghimpun puing-puing cinta yang telah hancur untuk direkatkan kembali. Toh guratan di hati  dan serpihan serta bekas retakannya tak lagi mampu mengembalikan  keindahan cinta.

Sekadar menawarkan kegetiran yang menyekat kerongkongan Anda, saya ingin kemukakan bahwa menurut penelitian Bumpass, Sweet, dan Martin tahun 1990,  bahwa di antara wanita yang putus pacar di bawah usia dua puluh lima tahun, lebih dari 90 persennya mendapat pacar lagi dan mereka lebih bahagia dari sebelumnya.

Bila demikian halnya mengapa Anda mau bunuh diri?  Ayo bangun dengan semangat hidup yang baru, pasti ada cowok ganteng lain yang melintas di kehidupan Anda besok yang ingin menjadi teman hidup Anda selamanya. Tersenyumlah pada kemungkinan itu!  Salam,   dr. Valens Sili Tupen, MKM.
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved