Hanya Bisa Menatap, Menangis...
POS-KUPANG.COM --- SUDAH jatuh tertimpah tangga pula. Pepatah ini sangat pas untuk menggambarkan kondisi yang dihadapi 109 jiwa dari total 22 kepala keluarga (KK) korban kebakaran Pasar Halilulik.
POS-KUPANG.COM --- SUDAH jatuh tertimpah tangga pula. Pepatah ini sangat pas untuk menggambarkan kondisi yang dihadapi 109 jiwa dari total 22 kepala keluarga (KK) korban kebakaran Pasar Halilulik.
Hari Selasa (6/12/2011), tentu menjadi catatan kelam bagi para pedagang (18 KK asal Makassar dan 4 KK warga lokal). Semua harta milik mereka ludes rata tanah. Jadi arang. Hanya pakaian yang tersisa di badan.
Paman dan bibi hanya bisa menangis tatkala menatap bangunan bekas kiosnya yang sudah luluh lantak. Jago merah hanya butuh waktu 1,5 jam meratakan petak kios dan rumah tinggal yang terbuat dari bebak dan tripleks itu.
Sudah kehilangan harta benda, nasib para korban pun berhadapan dengan tempat tinggal. Beruntung masih ada kemurahan hati dari keluarga maupun tetangga yang bisa menampung mereka.
Kesedihan para korban sedikit terobati ketika Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, bersama Ketua DPRD Belu, Simon Guido Seran, dan rombongan menemui mereka di lokasi kejadian, Rabu (7/12/2011).
Paman dan bibi korban kebakaran dengan bercucuran air mata menemui bupati. Sesekali mereka menatap puing bekas bangunan kios mereka. Menggunakan bahasa Makassar bercampur Bahasa Indonesia, mereka mengungkapkan kepasrahan.
Ditemani anak-anak mereka yang tidak bersekolah, bupati memberi kesempatan untuk para korban berbicara.
Wakil para korban kebakaran, Haji Kana, mengungkapkan uneg-uneg. Kana dengan terbata-bata menyampaikan kalau mereka sudah pasrah dengan peristiwa kebakaran itu.
Bagi mereka, langkah yang dilakukan adalah meminta pemerintah supaya bisa membangun tenda darurat di lokasi bekas kebakaran sehingga mereka bisa berjualan kembali. Sementara untuk tempat tinggal, mereka lebih memilih tinggal bersama keluarga.
"Mau bilang bagaimana lagi, ini musibah. Kami hanya minta kalau bisa seng bekas kebakaran kami pakai kembali untuk bangun kios darurat pak bupati. Kalau ada terpal bisa kami dapat sehingga bisa gunakan untuk tempat tinggal juga baik. Untuk bantuan darurat kami sudah terima," ujar Haji Kana.
Beberapa pedagang korban kebakaran juga prihatin dengan nasib anak-anak mereka yang tidak bisa sekolah. Pasalnya, peralatan tulis, seragam, sepatu hangus terbakar. Untuk itu mereka meminta melalui bupati agar diberikan keringanan agar anak-anak bisa bersekolah menggunakan pakaian biasa.
Para korban juga meminta supaya mendapat bantuan kompor sehingga mereka bisa memasak. Pasalnya, bantuan kompor hanya lima buah belum menjangkau para korban lainnya.
Untuk anak sekolah, Bupati Lopez melalui Camat Tasifeto Barat memberikan kesempatan untuk tetap ke sekolah. Sekolah harus mengerti dengan kondisi anak-anak korban kebakaran.
"Saya minta anak-anak besok sekolah seperti biasa. Camat sudah sampaikan ke sekolah tempat anak-anak bersekolah agar jangan terlalu menuntut mereka harus pakai seragam. Ini keadaan darurat, anak sekolah tidak boleh dikorbankan," ujar Lopez.