Selasa, 9 Juni 2026

Uskup Akar Rumput

MENURUTNYA tidak ada seorang pun yang menyampaikan kabar duka itu. Padahal sudah di SMS beberapa kali tetapi tidak dibaca alias langsung dihapus. Sebab selama ini SMS temannya tidak penting. Jadi, didelete saja, biar tidak mengganggu kesibukannya mulai dari SMS-SMS-an, facebook-an, you tube-an, ngenetan.

Tayang:

MENURUTNYA tidak ada seorang pun yang menyampaikan kabar duka itu.   Padahal sudah di SMS beberapa kali  tetapi  tidak dibaca alias langsung dihapus. Sebab selama ini SMS  temannya  tidak penting. Jadi, didelete saja, biar tidak mengganggu kesibukannya  mulai dari SMS-SMS-an, facebook-an, you tube-an, ngenetan.

Pokoknya sibuk bercanda ria di dunia maya.  Namun bukan Rara namanya kalau tidak bisa bersilat lidah untuk membenarkan diri. Apalagi cita-citanya menjadi Romo, menggantikan Uskup Don.
                               ***
"Sebenarnya Uskup Emeritus, Mgr. Donatus Djagom, SVD, menghembuskan nafas terakhir di   Ndona, Istana Keuskupan Agung Ende, hari Rabu,  30 November lalu. Dalam usianya yang sangat panjang, 92 tahun. Uskup asal  Ranggu kelahiran Bilas, Manggarai, NTT, 10 Mei 1919.  Menjadi   Uskup Agung Ende pada usia 50 tahun selama 27 tahun   sejak 1969 sampai 1996. Hari-hari terakhirnya Bapa Uskup ada di Ndona dan kini disemayamkan di sana," demikianlah  Benza menyampaikan berita berpulangnya  Uskup emeritus yang akrab disapa Uskup Donatus kepada Rara.

"Kenapa SMS tidak dibaca, tidak dibalas? Sibuk ya?" tanya Nona Mia.

"Biasalah, aku sibuk ganti status facebook, baca dan balas, chating dengan sahabat lama en baru, namanya juga aku lagi asyik. Mengapa pula kalian tidak datang saja ke rumahku untuk sampaikan berita duka ini?"

"Sudahlah, Rara! Tak usah kecewa begitu. Ini saatnya   merenung mengenang Bapa Uskup. Siapa tahu kita bisa menjadi romo menggantikan Bapa Uskup."

"Apakah aku tidak salah dengar?" sambung Nona Mia. "Apa salahnya? Aku akan belajar banyak dari kenangan tentang Bapa Uskup."
                                     ***
"Menurutmu, apa yang paling mengesankan dari Bapa Uskup almarhum?" tanya  Jaki yang langsung dijawab oleh Benza bahwa  yang pasti Uskup Don sosok yang sangat dicintai oleh umat sebab pada masanya dulu, Bapa Uskup paling rajin mengunjungi umat sampai ke akar rumput.  Uskup Don sering kali turun dari mobilnya dalam perjalanan ke paroki-paroki, dan menyapa umat secara langsung.

"Kalau aku jadi Romo, aku juga ingin sekali menjadi Romo akar rumput sebagaimana ditunjukkan Uskup Don dulu," kata Rara. "Kalau bisa suatu saat nanti aku terpilih menjadi uskup. Wah, pasti istimewa sekali kehidupanku ya. Bagaimana menurutmu?"

"Pertama, rombak penampilanmu dulu!" sambung Nona Mia. "Hem kancing terbuka, kalung emas sebesar urat kabel charger HP, jeans belel enam bulan tak pernah dicuci, ikat pinggang merah besar lengkap dengan dompet dan HP Blackberry, merokok sepanjang hayat dikandung badan, apakah kamu rasa cocok jadi romo?"

"Pasti cocok, yang penting hatiku, pikiranku, tingkah lakuku, kata-kataku, khotbahku, dan yang jelas aku mau jadi romo. Mestinya kamu beri dukungan, apalagi di jaman panggilan mengalami banyak gangguan seperti sekarang," protes Rara.

"Hatimu, pikiranmu, tingkah lakumu, kata-katamu, khotbahmu, bisa tidak nyambung kalau penampilanmu seperti itu. Apakah kalung emas sebesar alat carger itu simbol kesederhanaan? Apalagi Black Berry seharga begitu mahal, apakah cukup sederhana?"
                                   ***
"Kalungku dikasih temanku, BB dikasih teman kakakku, dompet ini dikasih teman adikku punya teman, jadi tidak ada salahnya bukan kalau aku mengungkapkan rasa terima kasihku dengan memakai semuanya kemana dan dimana saja aku pergi."

"Tidak perlu panjang lebar, Rara. Kamu memang tidak cocok jadi romo. Yang cocok itu aku," sambung Jaki. "Bagaimana menurutmu Nona Mia?"

"Model seperti kamu lebih tidak cocok lagi. Lagi bicara dengan teman-temanmu kamu sibuk sms. Nanti kamu dijuluki Romo es em es. Kemana dan dimana-mana sibuk pegang HP. Terima teleponlah, balas SMS-lah, facebooklah, internetanlah, chatinglah," kata Nona Mia sambil memperhatikan Jaki.

"Sekarang jemarimu lincah ketak ketuk ketik HP, SMS kemana saja sih. Nanti kalau kamu sudah jadi romo, pasti  lebih pentingkan SMS, terima telepon, chating, facebook daripada melayani umatmu yang datang memohon pertolongan."

"Nanti memfokuskan diri pada kerasulan HP. Jadi sesuai dengan tugasku bukan?"
                                 ***
"Bagus! Kelak ada Romo Jaki dan Romo Rara yang ketika berada di tengah umat, menjalani kerasulan HP. Sering-sering mojok terima telpon sambil tertawa-tawa asyiiik. Sambil mendengar keluhan umat, baca dan balas sms sambil senyun simpul. Cocok bukan dengan kerasulan HP," kata Benza tanpa senyum.

"Nah, Benza saja setuju. Apa urusanmu Nona Mia, tidak setuju kami mau jadi Romo," sambung Rara dengan penuh keyakinan pada cita-citanya.

"Kamu setuju Rara dan Jaki jadi Romo?" tanya Nona Mia. 

 "Menurutku hanya ada dua kemungkinan. Keduanya tidak   pernah lulus jadi Romo atau   jadi Romo yang berada di luar jalur ketaatan. Pokoknya urusannya hanya melawan, merasul turut suka, ya antara lain kerasulan HP itu. Ya, kerasulan HP multi fungsi."

"Entah apa namanya, yang penting Benza setuju," sambung Jaki tanpa pemahaman.

"Ayoh, kita ke pemakaman Uskup Don di Ndona. Aku ingin sekali tabur bunga di sana? Aku perlu memohon dukungan Bapa Uskup Don bagi cita-citaku untuk menggantikannya pada suatu hari nanti."

"Sanggup jadi Romo akar rumput?" tanya Nona Mia lagi. "Sedapat mungkin turun ke tengah umat dan menyapa mereka dari dekat. Lebih utamakan umat dari pada HP? Hindari kebiasaan sibuk sms sambil mendengar keluhan umat? Sedapat mungkin gunakan HP hanya pada saat-saat tertentu saja.  Bukan HP yang kuasai kamu, tetapi kamu yang kuasai HP. Bagaimana?"
                                ***
Di Ndona Rara dan Jaki bergantian memimpin doa. Dengan jujur dikatakannya bahwa dirinya tidak sanggup jadi Romo. Dia momohon agar menjadi umat biasa saja yang juga membawa sifat mencintai akar rumput. Membuka mata, telinga, pikiran, dan hatinya demi umat akar rumput bukan demi umat yang tercatat khusus dalam HP-nya.  Keempat sekawan itu pun memejamkan mata, sambil mengucapkan selamat jalan Bapa Uskup akar rumput. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved