Tak Bisa Menipu Customer Lagi
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Saat ini customer banyak mengetahui bahkan memahami kualitas produk yang dilepas ke pasaran. Karena itu produsen tak bisa menipu lagi.
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Saat ini customer banyak mengetahui bahkan memahami kualitas produk yang dilepas ke pasaran. Karena itu produsen tak bisa menipu lagi.
Business Motivasional Speaker, Tanadi Santoso, MBA, mengatakan hal ini ketika tampil sebagai pembicara tunggal pada Temu Responden Kantor Bank Indonesia (KBI) Kupang Tahun 2011 di Hotel Sasando, Jalan Kartini, Kupang, Kamis (16/11/2011).
Dengan tema, Survive dalam Bisnis di Tengah Tekanan Ekonomi Global, Tanadi mengatakan, bisnis yang sudah mengglobal ini telah membuka pikiran konsumen untuk mengetahui kualitas barang yang dilepas ke pasaran.
Barang itu berkualitas atau tidak kata dia, sudah diketahui karena teknologi dan informasi saat ini begitu cepat. “Sebelum berbelanja, customer terkadang sudah mencari tahu lewat internet. Mereka bisa membantah penjelasan produsen barang,” kata Tanadi.
Dengan kondisi ini maka produsen harus pandai-pandai menjelaskan kepada konsumen tentang produk itu. Apalagi sekarang tingkat “pemalsuan” atau duplikasi terhadap barang begitu cepat.
Tanadi mengatakan, tas dengan kualitas bagus dalam waktu singkat sudah mampu diduplikasi dan dilepas ke pasaran. Begitu juga film-film. “Hanya dalam tempo lima hari saja bisnis bajak- membajak atau tiru-meniru ini sudah masuk di Glodok (salah satu pusat bisnis) di Jakarta dengan harga yang relatif murah,” kata Tanadi.
Karena itu kata jebolan University of Chicago, ini sebagai pebisnis harus banyak merubah cara berbisnis. Para pebisnis sukses sebenarnya adalah orang-orang yang telah mengalami kegagalan-kegagalan. Bisnis itu harus bisa mendaki ke puncak langit. Juga harus berani melakukan improvisasi untuk mendekatkan atau memenuhi keinginan konsumen.
Tanadi memberi ilustrasi. Seorang guru yang sudah mengajar 30 tahun atau seorang koki yang sudah berpengalaman 30 tahun tetap menyajikan materi pelajaran dan bahan makanan yang tak memenuhi selera murid dan konsumen.
Persoalannya karena ia merasa langgeng dan puas dengan kondisi yang ada. Ia tak melakukan improvisasi-improvisasi untuk menambah bobot profesinya. Tanadi memberi solusi bagi pengusaha untuk melihat pengusaha lain yang sudah sukses. “Belajar akan kesuksesan pengusaha di Kupang, kemudian ke Surabaya dan Jakarta. Kalau sudah di Jakarta belajarlah ke luar negeri ,” ujarnya.
Tanadi mengatakan, pengusaha juga harus bisa melihat dan belajar dari kompetitor. Lihat kelebihannya tetapi juga kekurangannya. “Kelebihannya dipetik, kekurangannya disempurnakan melalui usaha kita,” katanya.
Berbisnis juga kata dia harus melihat dari kacamata orang lain. Apa yang menjadi kepentingan pelanggan, apa yang menjadi keinginannya. Jangan sekali-kali mengatakan, “Saya menjual apa tapi tanyakan apa yang menjadi keinginan pihak lain.”
Dalam konteks leadership, pelaku bisnis juga harus bisa “menyentuh” anak buah. Menyentuh hati nuraninya dengan mendatangi, berdiskusi, memberi spirit. Tujuannya untuk memotivasinya. Meski dengan gaji kecil tapi cara pendekatan pimpinan “menyentuh” hati nuraninya, maka ia akan bekerja secara tanggung jawab.
Pada akhirnya ia akan menyadari tentang makna pekerjaan dan harga dirinya sebagai karyawan. Dengan demikian, karyawan memiliki motivasi internal dan tidak lagi membutuhkan motivasi eksternal.
Hadir, Peneliti Utama Senior pada Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Kantor Pusat BI, Triono Widodo, Pemimpin BI Kupang, Lukdir Gultom dan para 55 pengusaha di Kota Kupang.