A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Oepoli Negeri Serambi Depan yang Terlupakan - Pos Kupang
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 20 April 2014
Pos Kupang

Oepoli Negeri Serambi Depan yang Terlupakan

Selasa, 15 November 2011 11:43 WITA

POS KUPANG.COM --- PULAU Batek berdiri tegak di tengah laut, antara Oepoli di wilayah Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Oecusse di wilayah kantung (enclave) Timor Leste.

Pulau kecil tak berpenghuni itu, sempat diklaim oleh Timor Leste sebagai bagian dari teritorinya, karena letaknya cukup dekat dengan Oecusse.

Beberapa tahun kemudian setelah Timor Timur menyatakan berpisah dari Indonesia melalui jajak pendapat pada 30 Agustus 1999, diplomasi seputar Pulau Batek makin kencang antara kedua negara.

Indonesia tetap pada sikapnya bahwa pulau kecil itu adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena telah dibangun sebuah mercu suar di atas punggung pulau itu jauh sebelum Portugis masuk menjajah Timor Timur.

Guna mendukung eksistensi pulau tersebut sebagai bagian dari NKRI, pasukan TNI-AL sempat melakukan latihan perang di sekitar Pulau Batek yang kemudian dilukiskan oleh Jose Ramos Horta (sekarang Presiden Timor Leste) sebagai sebuah ancaman terhadap kemerdekaan Timor Timur.

Kolonel Inf AP Noch Bola ketika menjabat sebagai Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), langsung mengirim prajurit TNI-AD dari Yonif 743/PSY untuk mengamankan pulau tersebut.

Sampai saat ini, pulau tersebut masih dalam penjagaan prajurit TNI-AD dari Yonif 743/PSY, pasukan organik milik Korem 161/Wirasakti. Saban hari, pasukan TNI-AD di Pulau Batek, secara bergantian ke Oepoli untuk menikmati keindahan alam di wilayah yang terletak sekitar 350 km timur laut Kupang itu.

Ketika berlangsungnya perayaan 100 Tahun Gereja Katolik di Oepoli, Selasa (25/10/2011), para prajurit TNI-AD ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut, termasuk Komandan Korem 161/Wirasakti Kol Inf Edison Napitupulu dan Komandan Satgas Pamtas RI-Timor Leste Letkol (Inf)  Ricky Lumintang.

Danrem Napitupulu menegaskan bahwa kehadiran prajurit TNI di daerah perbatasan tidak boleh menyusahkan rakyat dengan tindakan-tindakan yang tidak manusia, tetapi harus mampu berjuang bersama rakyat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

"Prajurit TNI yang bertugas di tapal batas NTT-Timor Leste tidak boleh membawa masalah bagi masyarakat, tetapi harus mampu membawa kesejukan dan berkat bagi masyarakat di perbatasan," katanya menegaskan.

Ia menambahkan, "Bila masyarakat yang kita jaga merasa senang dengan kehadiran prajurit TNI maka tidak akan ada lagi gesekan atau konflik antara masyarakat dan TNI".

"Karena itu, kita (prajurit TNI) harus mampu membuat masyarakat sejahtera dan aman serta mampu menjaga kedaulatan NKRI," katanya dalam acara misa syukur evangelisasi (penyebaran) agama Katolik di wilayah itu yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang didampingi imam konselebran, termasuk di antaranya Pastor Paroki Sta Maria Mater Dei Oepoli Romo Beatus Ninu, Pr.

Untuk mencapai Oepoli, tidaklah mudah karena harus melewati 188 anak sungai berukuran lebar dari Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan badan jalan yang sangat buruk dan harus melintasi daerah pegunungan yang terjal dan mengerikan.
Jalan menuju Oepoli, juga bisa melalui Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), atau melalui Kapan dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), namun medannya sangat menantang dengan kondisi jalan yang sangat buruk.

"Jika Oecusse masih menjadi bagian dari wilayah NKRI, maka kita hanya membutuhkan waktu tiga jam perjalanan dari Kefamenanu menuju Oepoli," kata Cornelis Dasi, seorang warga Kota Kupang asal Oepoli.

Ia menjelaskan jalan darat dari Kefamenanu ke Oecusse dan seterusnya ke Oepoli beraspal mulus menelusuri daerah pantai, namun sekarang jalan yang mulus itu tidak bisa lagi dilalui, karena Oecusse bukan lagi menjadi bagian dari wilayah NKRI.
    
 Potensi Pertanian
Untuk mencapai Oepoli sekarang, kata Cornelis Dasi (56), harus melintasi dua anak sungai dengan kondisi jalan yang sangat mempihatinkan dan sangat menantang.

Hanya kendaraan roda empat yang menggunakan derek yang bisa melintas di jalur jalan tersebut, karena harus naik turun gunung dengan waktu tempuh sekitar 6-7 jam dari Kefamenanu.
Hal ini dialami sendiri oleh ANTARA ketika meliput perayaan 100 Tahun Gereja Katolik Oepoli pada 25 Oktober 2011 yang bertepatan pula dengan hari ulang tahun Pastor Paroki Sta Maria Mater Dei Oepoli Romo Beatus Ninu, Pr yang ke-39.

Sebuah kendaraan Jeep Katana milik Romo Beatus Ninu yang ditumpangi dari Kefamenanu sekitar pukul 18.15 Wita, tak bisa lagi digunakan ketika sampai di Oepoli sekitar pukul 01.30 Wita, karena sejumlah onderdilnya patah dan hancur.

"Laher muka belakang hancur semuanya, karena tak sanggup melintasi di medan yang berat seperti ini," komentar Frans Sonbai, sang sopir yang mengantar ANTARA dan dua orang penumpang lainnya menuju Oepoli di tengah malam yang gelap menjelang perayaan 100 Tahun Gereja Katolik Oepoli itu.
Oepoli merupakan daerah pertanian yang sangat subur dan sumber peternakan yang cukup menjanjikan di wilayah Kabupaten Kupang, namun masyarakat petani di wilayah tersebut tak bisa memasarkan hasilnya ke kota, karena terbentur dengan masalah transportasi.

Hamparan sawah yang baru selesai dipanen itu, mengelilingi perkampung warga. Sapi dan kerbau melintas di atas pematang sawah yang kering itu.

"Kami baru selesai panen, sehingga hamparan sawah seperti kelihatan mengering," kata Agustinus Tefa, seorang pensiunan guru yang kini menjadi petani lahan kering di Oepoli.

Ternak-ternak besar seperti kerbau dan sapi berkeliaran bebas di atas hamparan sawah itu. "Ada pula ternak milik warga negara tetangga yang masuk ke wilayah Oepoli," komentar Frans Sonbai ketika kendaraan yang ditumpangi bertemu dengan kawanan sapi di sebuah pamatang sawah.

"Oepoli yang merupakan serambi depan NKRI, memiliki potensi pertanian dan peternakan yang luar biasa, namun terkesan diabaikan dan terlupakan yang terlihat dari minimnya sarana jalan dan jembatan yang dibangun oleh pemerintah di daerah ini," kata Romo Bento, demikian sapaan akrab Romo Beatus Ninu, Pr.

Saat ini, ruas jalan antara Kefamenanu menuju Oepoli mulai ditimbuni sirtu (pasir dan batu kerikil) untuk memperbaiki wajah jalan yang belum pernah tersentuh siraman aspal sejak Indonesia merdeka 66 tahun silam itu.

"Saya hanya bisa berdoa, dengan perayaan 100 Tahun Gereja Katolik Oepoli, bisa dapat membuka mata semua pihak, khususnya para pengambil keputusan dan kebijakan negara untuk melihat Oepoli, karena bagaimana pun Oepoli merupakan serambi depan negeri bagi wilayah kantung (enclave) Timor Leste, Oecusse yang membutuhkan sentuhan investasi," kata Romo Bento.

Mayoritas warga Oepoli berasal dari Oecusse. Merekalah yang pertama kali membawa ajaran Katolik ke wilayah itu pada 1911 setelah eksodus dari tanah kelahirannya akibat tak sanggup menahan sistem kerja paksa yang diterapkan koloni Portugis pada saat menjajah Timor Timur (kini Timor Leste) selama 350 tahun.


"Oepoli memiliki sejarah tersendiri di wilayah Kabupaten Kupang. Saya hanya berharap serambi depan negeri ini bisa dilihat dan diperhatikan oleh pemerintah, agar rakyat Oepoli juga bisa menikmati kemerdekaan seperti rakyat Indonesia lainnya di belahan nusantara ini," demikian harapan Romo Bento Ninu. (laurensius molan/antara)

 

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
72633 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas