Memanfaatkan Air Hujan
DALAM dua hari berturut-turut, Kota Kupang diguyur hujan. Hampir semua warga kota lega. Bisa dimengerti, karena pada saat Pulau Flores diguyur hujan sejak Oktober lalu, Kupang malah didera panas terik menyengat,....
DALAM dua hari berturut-turut, Kota Kupang diguyur hujan. Hampir semua warga kota lega. Bisa dimengerti, karena pada saat Pulau Flores diguyur hujan sejak Oktober lalu, Kupang malah didera panas terik menyengat, yang tidak saja membuat sumber-sumber air dan tanaman-tanaman mengering, warga kota ini pun semakin gerah kepanasan.
Meskipun menurut prediksi BMKG bahwa musim hujan yang sebenarnya baru tiba pada akhir November, hujan dua hari itu cukup mempengaruhi suasana Kota Kupang dan sekitarnya. Udara panas yang membuat gerah sebelumnya langsung berubah sejuk.
Tanaman-tanaman mulai mekar, bahkan sumur-sumur yang mengering kembali digenangi air.
Fakta ini sepatutnya menyadarkan kita bahwa kita masih banyak bergantung pada hujan. Kalau tidak ada hujan, hidup kita menjadi susah. Udara menjadi panas, tanaman-tanaman dan sumber-sumber air mengering.
Oleh karena itu, hendaknya kita bisa memanfaatkan musim hujan demi kesejahteraan kita. Secara alamiah, musim hujan bisa memulihkan stok air tanah dan sumber-sumber air. Secara tradisional, para petani memanfaatkan musim hujan untuk menanam dan mengembangkan berbagai jenis tanaman pertanian, seperti jagung, padi, sayur-sayuran dan umbi-umbian.
Itu pola alamiah dan tradisional. Tetapi, dengan perkembangan sekarang -- yang berorientasi produksi dan pasar -- maka pola-pola tersebut tidak lagi memadai. Kita membutuhkan langkah-langkah lebih maju di mana persediaan air, pertanian atau aktivitas apa pun yang membutuhkan air tidak bergantung pada musim hujan.
Dengan perkembangan yang menuntut produksi sepanjang tahun, tidak terikat musim, maka manusia pun dituntut untuk bisa menyediakan air sepanjang tahun. Beberapa daerah di NTT mungkin tidak begitu merasakan kebutuhan tersebut, karena persediaan airnya bagus sepanjang tahun.
Tetapi di sebagian besar daerah di NTT tuntutan seperti itu semakin mendesak karena, jangankan untuk pertanian dan peternakan, untuk minum, mandi dan cuci saja orang sulit mendapatkan air. Orang harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli air tangki atau menghabiskan waktu berjam-jam antre di sumber air.
Di hampir semua daerah di NTT pemerintah sudah berinisiatif membangun embung-embung, yang diharapkan terus diperbanyak pada tahun-tahun mendatang. Dengan adanya embung-embung, air hujan tidak dibiarkan mengalir sia-sia ke laut, tetapi ditampung dan meresap ke dalam tanah di sekitarnya.
Dengan kehadiran embung, secara teknis warga sekitarnya bisa mengambil air yang menggenang di embung tersebut. Daerah-daerah sekitar embung pun biasanya lebih mudah dibangun sumur.
Kebenaran manfaat embung ini bisa dibuktikan di daerah-daerah yang hingga kini sudah dibangun embung-embung.
Embung atau fasilitas-fasilitas air yang dibangun pemerintah biasanya digunakan untuk umum. Karena jumlahnya masih terbatas, maka fasilitas-fasilitas tersebut umumnya belum bisa menyediakan kebutuhan air secara memadai.
Maka, inisiatif pribadi untuk membangun fasilitas-fasilitas air sangat diharapkan.
Di Kota Kupang dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga yang berani membangun bak-bak air pribadi di sekitar rumahnya. Bahkan ada yang dibuat lebih efisien dengan memanfaatkan bagian bawah teras rumahnya untuk menyimpan ratusan kubik air.
Pembangunan bak-bak tersebut memang membutuhkan biaya. Tetapi bak-bak tersebut, selain bisa menampung air leding atau air tangki sebanyak-banyaknya, air hujan yang berlebihan pada musim hujan pun bisa dialirkan dan disimpan dalam bak-bak tersebut.
Dengan demikian, pada saat air leding berkurang, warga bisa menggunakan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air. Kalau bukan untuk minum, mandi dan cuci, maka air hujan yang disimpan dalam baik bisa menyirami tanaman-tanaman di sekitar rumahnya pada musim kemarau.
Saksikan saja di pekarangan-pekarangan rumah yang memiliki bak-bak penyimpan air. Dipastikan pada musim kemarau mereka tidak kekurangan air, bahkan untuk menyiram tanaman-tanaman di pekarangan rumahnya.
Dengan demikian, kebutuhan sayur-mayur pada musim kemarau tetap terpenuhi. Alam sekitar rumah pun akan tetap hijau dan memberi kesegaran kepada penghuninya sepanjang tahun.
Kondisi iklim yang terus berubah dan tidak menentu menuntut kita untuk berupaya dan tidak hanya mengharapkan kemurahan alam semata. Kita harus bisa memanfaatkan berbagai teknologi untuk mengatasi berbagai kesulitan air.*