Rabu, 10 Juni 2026

(Kilas Balik Merekam Hari Pahlawan)

Bung Joki Jadi Pahlawan

PERTEMPURAN Surabaya, peristiwa sejarah. Perang pejuang Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada 10 November 1945, di kota Surabaya, Jawa Timur. Ini perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi Indonesia.

Tayang:

Oleh  Inosensius Nahak Berek

(Warga Belu, Tinggal di Nualain)

PERTEMPURAN Surabaya, peristiwa sejarah. Perang pejuang  Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada 10 November 1945, di kota Surabaya, Jawa Timur. Ini perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi Indonesia. Satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia.

Setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan asing berjumlah 600-2000 tentara.
Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut, telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.

Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada 10 November 1945. Kemudian dikenang sebagai hari pahlawan oleh Bangsa Indonesia hingga sekarang. Bung Tomo, salah satu pemimpin revolusioner yang paling dihormati. Ia berpengaruh besar di masyarakat. Semangatnya membakar perlawanan pemuda-pemuda Surabaya (sumber: internet).
Kita mengenang para pejuang yang mati demi mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia.

Jiwa dan raga dikorbankan demi cinta akan tanah airnya. Di pelosok Nusantara, sepatutnya kita tundukkan kepala dan mendoakan mereka (baca: para pahlawan). Karena jasanya, kita bisa nikmati alam kemerdekaan dengan sukacita. Memang diakui, peringatan hari pahlawan tidak semeriah hari nasional lainnya. Patut disayangkan. Namun ditelaah lebih jauh, kemerdekaan bangsa, terjadi justru karena perjuangan para pahlawan.

Menjadi pahlawan, pasti segelintir orang takut. Takut karena tidak mau kehilangan apa yang dimilikinya. Naluri manusiawi memang berkata demikian. Namanya pahlawan, unsur keberanian dipertaruhnya. Semangat juang diutamakan. Harga diri dipoles tetesan darah dan keringat. Mengabdikan suluruh diri demi tujuan luhur dan mulia, itu keutamaan insani. Nilai hakiki kepahlawanan mencerminkan jati diri seseorang yang pro-public. Menanamkan jiwa karitatif demi kemanusiaan. Berarti jelas, namanya egoisme, bukan takaran citra seorang pahlawan.
Kisah para pahlawan, menjadi kisah sejarah penuh tantangan. Momentum bersejarah, dimaknai sebagai prestasi masa lampau.

Kita mengapresiasi perjuangan mereka. Kalau ditelusuri secara tepat, perjuangan sejati terlahir dari kerinduan tak bertepi akan bangsa dan tanah air. Hal besar ditemukan dalam totalitas pemberian diri. Terukir dengan tinta emas jiwa ksatrianya. Apresiasi tidak semata bahasa bibir. Patut kita maknai secara kontekstual.

Penjajahan modern terhadap bangsa ini, jelas tampak. Kalau masyarakat kita masih mengeluh tentang, kelaparan yang merajalela, perumahan yang tidak layak huni, sarana transportasi yang rusak, pelayanan kesehatan tidak manusiawi, para pejabat pemerintah yang suka cari kekayaan diri dan sebagainya. Berarti secara lurus kita bahasakan, masyarakan masih dijajah secara modern. Siapakah yang bisa tampail jadi ‘pahlawan’ di jaman ini? Berharap pada pemerintah untuk jadi pahlawan kesiangan?

Saya skeptis berat. Soalnya, modus operandi kaum elit bangsa, ada struktrur terselubung misteri. Biaya pengerjaan proyek, miliaran rupiah. Nominal sungguh fantastis. Namun fakta, lebih banyak uang jatuh di saku para elit dengan dalih, memang mekanismenya begitu. Penipuan terhadap rakyat selalu ada tak bertepi. Bukankah masih ada model penjajahan terbesar abad edan ini?

Rasanya tidak berlebihan saya jatuhkan tulisan sederhana  di bawah judul, Bung Joki jadi ‘pahlawan’. Bung Joki, kolom khusus di Pos Kupang yang selalu beri sentilan `pedis’, kondisi riil yang terjadi setiap terbitan. Kalau di jaman perjuangan kemerdekaan namanya pahlawan, ia yang mati di medan perang. Juga yang giat memperjuangkan kemerdekaan dengan usaha keras dan cerdas dengan berdiplomasi.

Namun Zaman sekarang, kepahlawanan ditilik secara baru. Kita simak, kiprah komentar Bung Joki, di halaman empat Pos Kupang, (Kamis, 3/11/2011). “Aksi lempar buku diwarnai dialog Ampera dan DPRD Belu,” Oh di DPRD Biasa. Kalau vokal `dilempari’ duit. Tambang liar di Roworena-Ende meluas, gunung gundul, jalan rusak. Berikutnya kepala yang gundul karena kepanasan. Tidak digaji, lembaga keswadayaan masyarakat (LKM) Oktober di Oebobo  tetap bekerja. Teman Bung Joki yang anggota Dewan lain. Tidak bersidang tuntut gaji.

Komentarnya (baca: Bung Joki), menggelitik. Terkesan kocak tapi menyentuh hati. Kehadiran dalam komentar lepas, membuka pikiran pembaca. Membuka mata hati. Menyadarkan kita akan apa artinya tindakan yang dilakoni. Berbuat sesuatu demi kebaikan, nilainya luhur. Keluhuran nilai nampak dalam kekritisan bernarasi, punya nilai hakiki eksistensial. Berkata supaya orang lain tersentuh, menunjukkan nilai baru menuju kemerdekaan sejati. Jati diri penuh egoisme, gambaran penindasan modern, penjajahan terhadap diri.

Bung Joki, memberi nuansa baru. Meng-gugat egonya anak bangsa. Bentuk pedu-linya agar bangsa ini jangan jadi lahan su-bur tumbuhan keegoisan kolosal tanpa tindak berkeadilan. Dengan berbuat kebaik-an, bangsa ini makin diwarani damai. Membangun bangsa tanpa kepedulian akan jeritan derita manusia, kita kehilangan identitas diri.

Peduli bangsa, tampilkan dalam perilaku bermartabat. Peduli akan bangsa, itu citra nilai kepahlawan. Bung Joki pun, peduli akan bangsa, lewat kata-kata sarat makna. Bukankah nilai kepahlawanan terekam di  sini? Bung Joki, teruslah berjuang dengan aksimu. Maju tak gentar membela yang benar. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved