Rabu, 10 Juni 2026

Harga Minyak Jatuh

Harga minyak mentah jatuh untuk pertama kalinya dalam enam hari terakhir. Ini timbul karena kekhawatiran akan fluktuasi permintaan bahan bakar seiring dengan perjuangan Uni Eropa untuk mengatasi krisis utangnya dan kekhawatiran penurunan tingkat konsumsi bahan bakar

Tayang:

POS KUPANg.COM, MELBOURNE ---  Harga minyak mentah jatuh untuk pertama kalinya dalam enam hari terakhir. Ini timbul karena kekhawatiran akan fluktuasi permintaan bahan bakar seiring dengan perjuangan Uni Eropa untuk mengatasi krisis utangnya dan kekhawatiran penurunan tingkat konsumsi bahan bakar.

Harga minyak mentah berjangka turun 0,8 persen setelah mencatat perolehan terlama sejak Desember. Harga minyak mentah untuk pengantaran November anjlok 66 sen ke posisi harga 85,15 dollar AS per barrel .

Dan, berada pada level harga 85,19 dollar AS per barrel pada pukul 9:41 AM waktu Sydney. Kontrak komoditi ini sempat naik kemarin, Selasa (11//10/2011), sebesar 0,5 persen ke posisi 85,81 dollar AS. Itu merupakan penutupan tertinggi sejak 21 September.

Adapun minyak jenis Brent untuk penetapan November naik 1,78 dollar AS atau 1,6 persen, ke posisi harga 110,73 dollar AS berdasarkan ICE Futures Europe Exchange, di London, kemarin.

Sementara itu, OPEC yang menyuplai 40 persen minyak mentah dunia, menurunkan angka prediksinya atas permintaan emas hitam ini. Menurut lembaga tersebut, permintaan minyak diperkirakan akan tumbuh 880.000 barrel per hari tahun ini. Sebelumnya, pada laporan bulan lalu, OPEC memprediksi di angka 1,06 juta barrel per hari. Begitu pula dengan prediksi konsumsi minyak yang turun menjadi 1,19 juta barrel per hari pada tahun 2012.

Selain karena penurunan prediksi dari OPEC tersebut, turunnya harga minyak ini terjadi karena kondisi di Uni Eropa. Pembuat kebijakan Slovakia menolak perombakan dana talangan UE. Negara anggota UE ini merupakan satu-satunya negara dalam 17 negara yang mengadopsi Euro, yang belum meratifikasi The European Financial Stability Facility.

Perdana Menteri Iveta Radicova,kemarin, menyatakan, pembuat kebijakan tersebut harus memberikan suara secepatnya. Alhasil, kedua faktor ini memperlihatkan gambaran ekonomi yang memburuk di negara-negara industri.

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved