Selasa, 9 Juni 2026

Keluarga adalah Gereja Primer

MELAKUKAN investasi pendidikan yang baik dan berkualitas pada anak sejak dini adalah tips pasangan Piet Elias Jemadu dan Merry Roga.

Tayang:

MELAKUKAN investasi pendidikan yang baik dan berkualitas pada anak sejak dini adalah tips pasangan Piet Elias Jemadu dan Merry Roga. Pasangan yang menikah tanggal 11 Oktober 1986 ini mengaku pendidikan dasar yang baik akan sangat membantu anak menentukan masa depannya.

Sehingga, sejak pendidikan dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), keduanya berupaya untuk menyekolahkan  anak-anaknya ke sekolah-sekolah Katolik. Walaupun terhitung mahal,  bagi keduanya investasi di bidang pendidikan adalah satu-satunya materi yang bisa diberikan kepada anak-anaknya.

Pasangan ini memiliki dua anak. Pertama, Margaretha F Cerly Jemadu, lahir di Kupang, 20 April 1988. Saat ini baru menamatkan pendidikannya pada  Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknik (FST), Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Ia diwisuda pada periode Juni 2011 lalu sebagai lulusan terbaik.
Putra keduanya, Philipus Maksi Jemadu lahir di Kupang, 24 Februari 1990, saat ini duduk di  semester VII, Fakultas Hukum Undana Kupang.

Kepada Pos Kupang di Depot Nelayan Kupang, Jumat (29/7/2011), pasangan yang sama-sama mantan ketua kelompok umat basis (KUB) di Paroki Penfui ini mengatakan, keduanya harus banyak bersabar dalam menghadapi tantangan dan hambatan kehidupan berkeluarga saat ini.

Dalam berbagai komunikasi dengan kedua anaknya, pasangan ini selalu menekankan bahwa pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan ini. Hal ini memotivasi kedua anaknya untuk belajar dan belajar.
Namun demikian, dosen Fakultas Hukum Undana, yang pernah menjabat beberapa jabatan di Undana, seperti Ketua Jurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) ini mengatakan, kerja keras dalam belajar tidak akan  ada hasilnya jika tidak ada kekuatan dari Sang Ilahi.

Sehingga, keduanya juga memanamkan dasar  iman yang kuat sejak dini kepada kedua anaknya, yakni berdoa. Bagi keduanya,  berdoa melalui Bunda Maria dan menyerahkan sepenuhnya semua pekerjaan kepada Sang Ilahi adalah hal penting yang selalu diajarkan kepada kedua anaknya.

Piet Jemadu yang saat ini juga menjabat sebagai Komite Pemantau Resiko di Bank NTT ini mengatakan, bersyukur kepada Tuhan karena dikaruniai istri yang sangat mulia, sabar dan telaten dalam mengurus anak. Istrinyalah yang paling berperan dalam kehidupan rohani keluarganya dengan selalu melakukan doa Angelus setiap hari.

Walau demikian, keluarga ini tetap mengutamakan doa bersama minimal satu minggu sekali di rumah. “Itulah mengapa saya putuskan, istri saya tidak bekerja sebagai PNS tetapi menjadi ibu rumah tangga biasa.

Saya memang agak sibuk, sehingga dialah yang paling berperan dalam mengurus anak dan keluarga,” katanya.
Menurut pria asal Manggarai ini, sejak pendidikan usia dini si sulung sudah masuk di TK Maria Goreti Kupang, melanjutkan ke SD Kanisius Yogyakarta, SMP Frater Kupang yangs aat ini menjadi SMP Katolik Giovanni Kupang dan selanjutnya masuk di SMA Syuradikara Ende. Sedangkan, putra keduanya menamatkan SMA di Giovanni Kupang.

Mantan Ketua Bagian Hukum Perdata di FH Undana ini mengatakan, pendidikan sangat penting karena mempersiapkan masa depan anak sejak dini. Anak bagi keduanya adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dipelihara sehingga harus memberikan yang terbaik bagi mereka.

Selain itu, katanya, pendidikan yang baik sebagai investasi dilatari oleh tantangan anak saat ini sangat berbeda dengan tantangan anak-anak pada puluhan tahun yang lalu. Saat ini, anak harus  berkarakter, kritis, independen dalam berpikir. Hal-hal ini harus dimulai dari pendidikan dalam keluarga dan pendidikan dasar di sekolah yang baik, sehingga bisa menghadapi tantangan di luar.

Walau demikian, kata keduanya, mereka tidak mau takabur dengan berbagai teori yang banyak-banyak karena saat ini kedua anaknya masih sangat membutuhkan perhatian. Walaupun sebagai orangtua dianggap mampu secara ekonomi, tetapi kedua anaknya belum memiliki pekerjaan sendiri. “Anak-anak masih butuh perhatian kami, karena yang sulung baru selesai wisuda dan belum memiliki pekerjaan, sedangkan anak kedua juga masih kuliah,” kata Piet dan Merry yang mengaku selalu berserah diri kepada Bunda Maria.

Latar belakang keluarga Piet yang memang dari keluarga pas-pasan tetapi bisa sekolah sampai bangku pendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan yang bagus, mendorongnya untuk selalu memberikan motivasi kepada kedua anaknya. “Saya katakan kepada kedua anak saya tentang masa lalu saya, yang hidup serba berkekurangan tetapi berkat doa senantiasa kepada Bunda Maria makanya bisa  jadi orang seperti saat ini,” katanya.

Keduanya mengatakan, komunikasi yang baik dengan anak-anaknya membuat mereka sangat dekat sehingga jika ada persoalan selalu saling diskusi. Selain itu, keduanya juga selalu memberikan kebebasan kepada anak-anaknya, namun tetap dalam koridor yakni kebebasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Hal ini juga dapat mendorong anak-anaknya agar bisa mandiri  nanti. “Anak tidak selamanya berada di dalam pengawasan orang tua, sehingga kami selalu berupaya agar mereka bisa mandiri. Misalnya, kami memberikan mereka handphone, tetapi bagaimana caranya handphone itu bisa ada pulsa.

Mereka sendiri mencari jalan, seperti meminta modal untuk menjual pulsa. Hasil keuntungan dipakai untuk membeli pulsa untuk kebutuhan mereka sendiri,” kata Merry yang juga aktivis di partai politik ini.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved