Flores Timur Kehilangan Putra Terbaik, HA Labina

FLORESSTAR, LARANTUKA - Masyarakat dan pemerintah Kabupaten Flores Timur kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Mantan Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Kabupaten Flores Timur (Flotim), Hendrikus Antonius Labina tutup usia pada Senin (24/7/2011) sekitar pukul 06.30 Wita di rumahnya di Kelurahan Postoh, Larantuka. Menurut rencana jenazah almarhum akan dimakamkan hari ini.

FLORESSTAR, LARANTUKA  -  Masyarakat dan pemerintah Kabupaten Flores Timur kehilangan salah seorang putra terbaiknya.  Mantan Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Kabupaten Flores Timur (Flotim), Hendrikus Antonius Labina tutup usia pada Senin (24/7/2011) sekitar pukul 06.30 Wita di rumahnya  di Kelurahan Postoh, Larantuka. Menurut rencana jenazah almarhum akan dimakamkan hari ini.

Labina,  nama panggilan akrab almarhum adalah orang yang cukup berjasa terhadap pembangunan di Pulau Flores.  Bahkan, Labina merupakan orang pertama dari Flores Timur yang belajar tentang otonomi daerah di Departemen of Regional Development,  Michigan University,  Detroit, Amerika Serikat (AS) pada tahun 1958.  

Setelah kembali dari AS, Labina ditugaskan Presiden RI pertama, Soekarno untuk membantu pengembangan daerah Flores.  Jabatan pertama beliau adalah sekretaris dewan rakyat Flores yang berkedudukan di ibukota Flores kala itu di Ende. Pada masa inilah Labina ikut menbidani  lahirnya kabupaten-kabupaten di Flores mulai dari Manggarai hingga Flores Timur.

Setelah Flores dimekarkan, Labina mendapat tugas baru sebagai Sekwilda Ende. Beliau juga dicalonkan menjadi bupati Ende kala itu. Dalam pemilihan bupati, Labina berhadapan dengan Aroeboesman, bangsawan Ende yang telah banyak berjasa dalam proses Ende menjadi kabupaten. Dalam pemilihan yang dilakukan DPRD ENde, Labina menang dengan perolehan suara 14 dan Aroeboesman 8 suara sehingga Labina terpilih menjadi Bupati Ende.

Dalam perjalanan, Partai Katolik mendekati Labina dan meminta beliau mempertimbangkan jasa-jasa Aroeboesman bagi Ende, sehingga Labina menyerahkan  tongkat kepemimpinannnya tersebut kepada Aroeboesman sehingga Aroeboesman menjadi Bupati Ende.  Kebesaran jiwa Labina ini menunjukan bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang pantas dikejar namun hal yang terpenting baginya adalah memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Setelah menjadi Sekwilda Ende, Labina kemudian ditunjuk sebagai koordinator Schaap Lembata dengan tugas mempersiapkan Lembata menjadi kabupaten.   Jika bukan karena masalah politik maka Lembata dapat menjadi kabupaten pada masa Labina.

Labina yang lahir di Lebao 20 Februari 1920 menata Lewoleba sebagai ibukota dengan desain blok seperti yang sekarang sedang dikembangkan di Indonesia dan telah menjadi model pengembangan kota di  Amerika dan Eropa. Labina menunjukan bahwa ia mampu meletakkan dasar bagi sebuah pembangunan kawasan regional.
Berhasil menata Lembata, Labina diangkat menjadi Sekwilda Flotim. Dalma masa ini, Labina menunjukkan kemampuannya sebagai birokrat yang mengerti benar pengembangan kawasan. Larantuka sebagai sebuah kota mulai tumbuh dalam segala keterbatasan.

Bahkan, berkat perjuangan Labina, ia mengajak partisipasi masyarakat  membangun bandara Gewayantana pada tahun 1973 – 1974. “Masyarakat secara bergilir terlibat membangun bandara Gewayantana hingga sukses didarati pertama kali pada tahun 1975. Dalam mengerjakan bandara itu, hanya menghabiskan 80 blek jagung titi dan 200 botol (nawing) tuak bagi semua yang terlibat,”kata salah seoarang anaknya, Fransiskus AP  Labina.

Fransiskus juga mengakui, ayahnya adalah orang yang tidak banyak menuntut. Ia memiliki banyak jabatan semasa berkarya mulai dari Sekda seluruh Flores pada tahun 1962, Sekda Ende, Flotim bahkan kepala perusahaan daerah namun kehidupannya biasa saja. Ia menempati rumah kecil di atas sebidang tanah hasil tukar guling dengan tanah di Lebao yang saat ini berdiri Kantor Telkom dan sebagian SMAN I Larantuka.

“Semua itu tak membuatnya kurang hati. Ia juga cenderung dilupakan dalam banyak acara pemerintahan daerah selama ini. Ia tetap  pada prinsipnya bahwa yang terpenting adalah tetap berbuat baik bagi banyak orang.  Bahkan, di masa akhir hidupnya ia masih bergabung menjadi Ketua Gabungan di lingkungan Nosa Senhora,”tutur putra Labina.

Labina kecil,  menurut Fransiskus, adalah seorang pekerja keras dan berkemauan kuat. Semenjak sekolah di Seminari Todabelu, ia berjalan  kaki dari Todabelu sampai Larantuka bersama teman-teman seangkatannya, P. Alex Beding, SVD, almarhum  Mgr. Sani Kleden, SVD.  Setelah lulus dari Seminari Todabelu, Mataloko,  Labina melanjutkan studi di STFK Ledalero. Labina adalah putra keempat anak dari almahrum Yohanes Landa Pasa Labina dan Maria Odjan.  Dia meninggalkan 10 orang anak, 35 orang cucu dan satu orang cece. (iva)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved