Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Sipri Seko
Mencontohi Om Musa Langkameng
HARI-HARI ini, kita tidak akan mendengar lagi teriakkan 'angkat, gantung' atau umpatan yang keluar dari bibir Om Musa Langkameng di Stadion Oepoi. Celotehan Bang Muis lewat mig yang menggoda penonton hanya jadi kenangan. Gendang dan tambur yang dipakai penonton menyemangati tim idolanya telah disimpan kembali.
HARI-HARI ini, kita tidak akan mendengar lagi teriakkan 'angkat, gantung' atau umpatan yang keluar dari bibir Om Musa Langkameng di Stadion Oepoi. Celotehan Bang Muis lewat mig yang menggoda penonton hanya jadi kenangan. Gendang dan tambur yang dipakai penonton menyemangati tim idolanya telah disimpan kembali.
Piala Gubernur 2011 telah usai. Persida Ngada telah pulang membawa tropi kebanggaan sepakbola NTT. Panji, umbul-umbul, baliho dan spanduk telah diturunkan. Stadion Oepoi kembali sepi. Hanya debu yang berterbangan di atas keringnya rumput di atas lapangan yang tidak rata. Semua telah kembali ke rumah masing-masing dengan catatan dan kenangan yang berbeda.
Ada banyak kejadian menarik, unik dan membanggakan terjadi di Stadion Oepoi. Kota dan Kabupaten Kupang yang sebelumnya tak siap ikut, tiba-tiba mengirim wakilnya, hanya satu hari sebelum pertemuan teknis dimulai. Persida Ngada dan Persena Nagekeo membuat kesepakatan yang terbawa hingga babak final. Charles, yang adalah anak Bajawa, diperebutkan antara Persida dan Nagekeo. Sebagai 'kakak' Persida mengalah memberikan Charles bermain untuk Nagekeo, namun dengan catatan, dia tidak boleh bermain kalau lawannya adalah Ngada. Sebuah kesepakatan yang dibolehkan aturan, namun di luar kebiasaan yang normal.
Kejadian berlanjut dari ditariknya dua pemain Kota Kupang, Alsan Sanda dan Adi Rhoma dari tim. Alsan diultimatim tim ofisial futsal pra PON XVIII, untuk memilih. Dengan alasan prestasi dan kepentingan yang lebih besar, Alsan memilih bermain futsal untuk tim pra PON NTT. Sementara, Adi Rhoma, ditarik ke luar oleh orang tuanya, karena merasa terhina karena tidak pernah dimainkan, padahal memiliki kualitas permainan yang bisa diadu.
Aksi menarik lainnya berhubungan dengan wasit. Masalah lama! Kepemimpinan akibat kualitas! Ada wasit yang dipuji tim pemenang. Itu hal biasa! Namun mereka balik mencercanya bila kalah! Ini juga biasa. Yang luar biasa adalah, wasit sudah mengeluarkan kartu merah dan menyuruh pemain ke luar, namun menariknya kembali dan menggantinya dengan kartu kuning karena diprotes.
Puncaknya adalah pemukulan yang dilakukan Pelatih Persebata Lembata, Simon Langoday terhadap seorang wasit. Simon membela diri bahwa alasannya memukul karena wasit tidak fair. Wasit tidak layak dan sebagainya. Simon menganggap memukul wasit adalah wajar, sebagai bentuk ungkapan kekecewaan atas kepemimpinan. Memukul wasit, bagi Simon mungkin tidak ada hubungannya dengan fair play dan sportivitas. Kapan semua ini berakhir? Kita hanya mau memuji wasit bila memenangkan permainan, selain itu, wasit tidak layak, wasit jelek, ganti wasit dan sebagainya.
Tak usah diperdebatkan. Ini hanya analisa bebas. Ini hanya pengamatan yang tak penting. Ini hanya sekadar catatan yang tersisa dari turnamen yang dibiayai dengan anggaran dari APBD Propinsi NTT lebih dari Rp 400 juta. Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Pribadi pengurus bola di propinsi dan kabupaten/kota. Apakah kita mau berbenah atau kembali akan melihat hal yang sama tahun depan?
Manajemen! Itu jawabannya. Manajemen pembinaan. Manajemen penyelenggaraan. Manajemen kepengurusan. Manajemen sumber daya pemain, pelatih, ofisial, penonton dan kepanitiaan harus diperhatikan. Reformasi total dan jangan setengah-setengah. Kepala UPT Olahraga Dinas PPO NTT, Drs. Nikolaus Ratulangi, sedikit merincikan tentang alokasi dana yang digunakan. Dan, biaya wasit dan perangkat pelengkapnya ternyata duakali lipat dari bonus tim juara.
Wasit cukup dihargai! Pemain dan prestasi dihargai lebih kecil. Wasit dibiayai tiket datang dan pergi, penginapan, transportasi, konsumsi termasuk honor dan lainnya. Sementara untuk pemain diberikan bonus peringat satu hingga empat, pemain terbaik, top skorer dan tim fair play yang nilainya tidak lebih dari Rp 60 juta.
Mungkin Om Musa Langkameng harus kita jadikan contoh. Profil tubunya tidak normal. Namun semangat dan fanatismenya terhadap bola tidak ada tandingnya. Tidak jelas tim mana yang dibela. Namun dia akan marah dan mencak-mencak bila ada pemain yang menendang bola sesuai keinginannya. Ada banyak makna yang bisa kita ambil dari Om Musa. Jangan hanya sekadar menertawakan dia, tapi kita harus bangga bahwa ternyata dia lebih peduli terhadap sepakbola daripada kita.
Sepakbola di NTT jangan lagi sekadar hanya seremoni penyelenggaraan. Fanatisme itu sudah ada. Kemarahan terhadap keputusan wasit, perebutan pemain dan antusiasme penonton menunjukkan bahwa ada kemauan untuk memperbaiki prestasi sepakbola. Mungkinkan perubahan akan datang? (habis)