Selasa, 25 November 2014
Pos Kupang

3,5 Juta Ha Savana NTT Surga yang Terancam

Minggu, 12 Juni 2011 01:45 WITA

Oleh Vinsen Making, SKM

PROPINSI  Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah dominan daerah Savanna. Diperkirakan mencapai 3,5 juta Ha (Luas wilayah daratan NTT 47.349,90 km2). Untuk itu savanna harus dipahami secara baik sehingga tidak salah dalam mengambil kebijakan dan tidak mengeluarkan dana yang besar.


Demikian ungkap Dr. Ir. Ludji Michael Riwu Kaho, M.Si, dalam diskusi terbatas di Ruang Redaksi Pos Kupang untuk membedah draf buku ‘Ekologi Savana Kepulauan’ yang akan diterbitkannya, sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, Sabtu (4/6/2011)


Hal yang menarik adalah belum dikembangkannya savana sebagai salah satu aset berharga dalam menunjang perekonomian yang ada di NTT. Yang ada selama ini malah sebaliknya, upaya yang tidak tidak tepat atau salah sasar (dengan menanam tanaman yang tidak sesuai dengan kontur NTT) dan upaya perusakan savana (menambang di daerah savana).


Dari keterbatasan data yang ada penulis coba mengurai beberapa hal yang mungkin berguna bagi semua warga NTT untuk menyadari tentang keberadaan dan arti penting dari savana untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Gambaran Umum NTT


Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di selatan katulistiwa pada posisi 80 - 120  Lintang Selatan dan 1180 - 1250 Bujur Timur dengan Batas-batas wilayah; Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores, Selatan dengan Samudera Hindia, Timur dengan Negara Timor Leste dan Sebelah Barat dengan Propinsi Nusa Tenggara Barat.


NTT merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 566 pulau, 432 pulau diantaranya sudah mempunyai nama dan sisanya sampai saat ini belum mempunyai nama. Diantara 432 pulau yang sudah bernama terdapat 4 pulau besar: Flores, Sumba, Timor dan Alor  (FLOBAMORA) dan pulau-pulau kecil antara lain: Adonara, Babi, Lomblen, Pamana Besar, Panga Batang, Parmahan, Rusah, Samhila, Solor (masuk wilayah Kabupaten Flotim/ Lembata), Pulau Batang, Kisu, Lapang, Pura, Rusa, Trweng (Kabupaten Alor).


Selain itu, Pulau Dana, Doo, Landu Manifon, Manuk, Pamana, Raijna, Rote, Sarvu, Semau (Kabupaten Kupang/ Rote Ndao), Pulau Loren, Komodo, Rinca, Sebabi, Sebayur Kecil, Sebayur Besar Serayu Besar (Wilayah Kabupaten Manggarai), Pulau Untelue (Kabupaten Ngada), Pulau Halura (Kabupaten Sumba Timur, dll.


Dari seluruh pulau yang ada, 42 pulau telah berpenghuni sedangkan sisanya belum berpenghuni. Terdapat tiga pulau besar, yaitu pulau Flores, Sumba dan Timor, selebihnya adalah pulau-pulau kecil yang letaknya tersebar, komoditas yang dimiliki sangat terbatas dan sangat dipengaruhi oleh iklim.


Wilayah Nusa Tenggara Timur beriklim kering yang dipengaruhi oleh angin musim. Periode musim kemarau lebih panjang, yaitu 7 bulan (Mei sampai dengan Nopember) sedangkan musim hujan hanya 5 bulan (Desember sampai dengan April). Suhu udara rata-rata 27,60 C, suhu maksimum rata-rata 290 C, dan suhu minimum rata-rata 26,10 C. Dari uraian singkat tentang keadaan daerah NTT ini dapat di ambil kesimpulan bahwa Hampir semua pulau di wilayah NTT terdapat kawasan padang rumput (savana) yang luas.


Apa itu savana


Berbicara mengenai savana, McNaughton dan Wolf (1990) dengan menggunakan pendekatan panen biomassa mengemukakan pendapat bahwa savana adalah komunitas tumbuhan yang bersekala regional dan merupakan suatu komunitas antara. Struktur ekosistemnya tersusun atas pohon-pohon yang menyebar dengan kanopi yang terbuka sehingga memungkinkan rumput untuk tumbuh di lantai komunitas. Jika populasi pohon mendominasi maka savana demikian disebut sebagai hutan savana. Sebaliknya jika kehadiran pohon tidak signifikan maka savana demikian adalah savana padang rumput (treeless savana).


Pakar silvikultur, Daniel et al. (1995), mengkategorikan savana sebagai hutan. Penulis ini memberi penjelasan yang sangat komprehensif tentang bentuk dan proses terjadinya savana sebagai berikut. Musim kemarau yang panjang dan kering memberikan pengaruh yang nyata terhadap terbentuknya hutan musim atau hutan monsoon.

Ciri hutan ini, antara lain, hampir semua jenis pohon menggugurkan daun pada musim kemarau, pohonnya tidak begitu tinggi dan banyak cahaya yang menembus ke lantai. Bila mana curah hujan benar-benar sangat musiman dengan musim kemarau sangat berangin, dan barangkali faktor-faktor lain juga berpengaruh (masalah yang sangat kontroversial), maka hutan musim akan berkembang menjadi savana karena bertambahnya kekeringan.


Savana dan NTT


Dari uraian sederhana ini dapat dikatakan bahwa NTT kaya akan savana (3,5 juta ha), namum apakah sudah dimanfaatkan secara maksimal? Jawabannya cukup sederhana yaitu belum. Banyak sekali lulusan sarjana peternakan dan pertanian yang lebih suka mengenakan dasi dan duduk dibalik meja biro ketimbang mengembangkan usaha lewat hamparan savana yang tak berujung ini. Mereka lebih senang berkoar di tengah masyarakat tentang politik ketimbang mengajak masyarakat untuk menggembalakan hewan ternak.


Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa banyak sarjanawan yang salah masuk dunia kerja. Hal ini mengundang kritikan tajam dari seorang rohaniwan sekaligus pemerhati lingkungan hidup, Pater Steph Tupeng Witin, SVD  yang dengan tegas mengatakan universitas-universitas kita, terutama fakultas-fakultas pertanian dan peternakan mesti lebih agresif merespon kenyataan savana NTT lalu berpikir mengembangkan pertanian dan peternakan untuk menjadikan NTT ini lumbung pangan lokal dan ternak.


Kita harapkan agar universitas-universitas kita menghasilkan ahli pertanian dan peternakan ketimbang menghasilkan konsultan pertambangan, PK (8/06/ 2011). Selain kalangan rohaniwan dari pers juga menambahkan;  Persoalan lingkungan terkait pengelolaan tambang di NTT yang disuarakan media massa, belum direspon secara baik oleh semua elemen yang peduli pada lingkungan.


Dunia kampus masih berada di menara gading dan LSM peduli lingkungan pun belum full menaruh perhatian pada persoalan lingkungan di NTT.  Sangat ironis memang keadaan NTT saat ini.


Menurut  Dr. Ir. Ludji M Riwu Kaho, M.Si, savana di NTT diagi atas tiga tipe, yakni Flores daerah basah, Sumba kering (galeri hutan) dan Timor savana kering yang tertahan tanah dalam pola iklim lokal. Dari sini sudah sangat jelas bahwa dalam savana tersebut terdapat begitu banyak keaneka ragaman hayati. Jadi harus tetap terjaga dan dilestarikan.


Penulis pernah melihat dan merasakan secara langsung bagaimana indahnya savana yang ada di NTT termasuk tiga tipe savana tersebut. Suasana senja di atas salah satu bukit di jalur masuk kota Mbay Flores, mengingatkan penulis akan latar film terkenal Hollywood. Ketika menyambangi Sumba, penulis terhipnotis oleh adegan pasola berlatar savana nan luas tak bertepi.

Dan ketika melintas  di jalur menuju Baun Kabupaten Kupang, penulis tersihir oleh indahnya pinus yang berdiri molek di atas savana, seakan penulis tengah berada di Seefeld Lake, Austria - Eropa.
Ketika berlayar di selat Lamakera (selat antara Pulau Lembata dan Solor)  penulis seakan tengah menikmati panorama peternakan di Kampung Malboro seperti dalam film-film cowboy, hanya sayangnya di sana tidak ada satu ekor kuda dan sapi yang melintas di atas savana.


Ketika berefleksi, penulis baru menyadari ternyata surga itu ada di NTT, tepatnya dalam kemolekan savana yang dimilikinya. Inilah obyek wisata alam yang tak ternilai harganya.  Mengapa kita tidak mengundang para turis untuk menikmati surga ini? Lantas mengapa sebaliknya harus mengundang investor tambang untuk menggali kuburan kita di atas surga tersebut?


Penulis merindukan untuk duduk di bawah pohon cendana sambil bermain melodi sasando, diringi merdunya siulan perkutut, dengan pemandangan savana nan luas disisi kiri, kandang-kandang ternak sedang dan besar berjejer di sisi lain, dan disisi lainnya terhampar ladang jagung kuning keemasan. Inilah surga milik rakyat NTT. (*)

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas