Iskandar Munthe Sesalkan Pemkab Flotim

LARANTUKA, POS-KUPANG.COM — Mantan Bupati Flores Timur, Iskandar Munthe, menyesalkan sikap pemerintah setempat yang tidak menetapkan Pelabuhan Larantuka sebagai pelabuhan pengantarpulauan biji jambu mete. Biji jambu mete justru diekspor melalui Pelabuhan Maumere.

LARANTUKA, POS-KUPANG.COM — Mantan Bupati Flores Timur, Iskandar Munthe, menyesalkan sikap pemerintah setempat yang tidak menetapkan Pelabuhan Larantuka sebagai pelabuhan pengantarpulauan biji jambu mete. Biji jambu mete justru diekspor melalui Pelabuhan Maumere.

“Mete milik kita, tapi di luar lebih dikenal dengan mete Maumere. Ini patut kita sesalkan. Ibarat kerbau punya susu tapi sapi punya nama. Kalau kita mau hidupkan perekonomian di Flotim, maka mete harus diekspor dari Pelabuhan Larantuka, bukan dari Maumere. Penataan niaga kita ke depan perlu diperbaiki sebagai wujud perhatian kita terhadap kesejahteraan masyarakat yang riil,” kata Munte di Larantuka, Kamis (26/5/2011).

Munthe mengatakan, Flotim yang memiliki tiga gugusan pulau, yaitu Pulau Flores, Adonara dan Solor, sejak dulu selalu diterpa bencana. Tidak hanya banjir, gempa, dan letusan gunung, tetapi kekeringan juga kerap mendera warga di daerah ini. Akibatnya,  bahan pangan rentan terancam gagal panen.

Karena itu, kata Bupati Flotim periode 1990-1995), selain tanaman pangan,  tanaman perkebunan cenderung  lebih lama bertahan. Kelapa dan jambu mete adalah primadonanya. “Karena itu, ketika Kanwil Kehutanan ke Flotim, saya tawarkan tanam jambu mete. Awalnya dia menolak karena ia ingin kasih kayu hutan.

Karena kami sama-sama satu kampung orang Medan, saya guyon jambu mete kalau di kampung kita namanya jambu monyet. Kalau monyet biasanya di hutan. Karena itu, dia setuju sehingga kami dapat bibit dan masyarakat berbondong-bondong tanam mulai dari ujung Maumere batas Larantuka hingga ke desa-desa. Dulu kalau lewat hanya lihat batu hitam, sekarang sudah hijau dan kuning karena mete.  Dan, kehadiran pohon mete mengubah wajah Flotim yang dikenal tandus, kering, dan gersang menjadi hijau,” tutur Munte yang kini sudah berumur 67 tahun.

Ia mengakui, ketika itu hasil panen jambu mete dipasarkan dalam bentuk gelondongan ke Makassar dan Surabaya, bahkan hingga diekspor ke India dan Jepang oleh para pengusaha melalui perusahaan Sumba Subur.

Dia menyayangkan, meski Flotim mempunyai pelabuhan tetapi ekspor mete melalui Pelabuhan Maumere dan diteruskan ke Surabaya. Kebijakan ini tentunya berpengaruh pada harga jual. Jika harga mete dari tangan petani Rp 10.000 per kilogram, sampai di Surabaya harganya sudah mencapai Rp 20.000 per kilogram.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved