• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Pos Kupang

Pengusaha Menambang Tanpa Izin

Selasa, 10 Mei 2011 02:17 WITA

KUPANG, POS-KUPANG.COM — Meski belum mengantongi izin dari Pemerintah Kota Kupang, pengusaha tetap menambang tanah putih dan sirtu di wilayah Kelurahan Fatukoa.
Kegiatan ilegal ini berbuntut ditahannya empat dump truk berisi tanah putih dan sirtu oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Kupang.

Empat dump truk yang ditahan, masing-masing dengan nomor polisi DH 9532 MA, DH 8002 DD, DH 9526 MA dan DG 2235 D. Truk-truk itu diparkir di halaman kantor Satpol PP.
Kepala Satpol PP Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, M.Si mengatakan, masyarakat Fatukoa melaporkan bahwa penggalian sirtu dan tanah putih (galian C) di lokasi tersebut, kembali terjadi sejak pekan lalu.


“Mendapat informasi tersebut, saya meminta anggota untuk terjun ke lokasi karena sejak pemkot Kupang meminta para pengusaha untuk tidak lagi menambang di lokasi tersebut sampai saat ini belum ada keputusan terbaru mengenai hal ini. Untuk membuktikan bahwa di sana sudah ada penggalian C lagi maka barang buktinya adalah truk yang membawa sirtu dan tanah putih ini. Kalau tidak seperti ini maka tidak ada barang buktinya,” ujar Djami saat ditemui Senin (9/5/2011).


Menurutnya, pengusaha yang bernama Jafar telah dipanggil Satpol PP Kota Kupang untuk dimintai keterangan. Demikian juga dengan empat orang sopir juga diminta keterangan dan mereka diminta untuk membuat surat pernyataan tidak lagi membeli bahan galian C dari Fatukoa karena ilegal.


Dalam pertemuan dengan Satpol PP, kata Djami, Jafar mengaku sementara mengurus izin galian C. Tetapi Djami dengan tegas mengatakan bahwa jika masih mengurus izin berarti belum mengantongi izin dan itu berarti tidak boleh melakukan aktivitas. Apalagi aktivitas yang dilakukan sudah membuat kerusakan lingkungan yang parah.


Dominggus Banamtuan (sopir dump truk dengan nopol DH 9532 MA, Dolfi Sakunab (sopir mobil nopol DH 8002DD) dan Tinus Sasi (mobil nopol DH 9526 MA), saat ditemui di kantor Satpol PP, mengatakan, mereka baru satu kali membeli sirtu dari pengusaha yang bernama Jafar di Kelurahan Fatukoa.


“Kami ini pembeli, kami tidak perlu tahu apakah mereka ada ijin atau tidak. Jadi jangan hanya kami saja yang ditahan dan dimintai keterangan tetapi pengusaha dan pemilik tanah juga harus dipanggil,” ujar mereka.

Menurut mereka, anggota Satpol PP menahan mereka ketika mobil sudah jalan dan waktu menunjukan sekitar pukul 11.00 Wita.

Enam Kasus
Mengenai penambangan batu mangan di Naioni, Djami mengungkapkan bahwa sudah ada keputusan dari Walikota Kupang yang melarang aktivitas penambangan mangan sehingga kalau ada mobil yang ketahuan membawa mangan dari Naioni maka Satpol PP akan melimpahkan kasus tersebut ke Polresta Kupang Kota.


Sejak tahun 2010 hingga 2011 ini ada enam kasus mangan ilegal yang dilimpahkan dari satpol PP kepada polresta Kupang Kota yakni tiga kasus tahun 2011 dan tiga kasus tahun 2010.


Pelimpahan kasus tersebut masing-masing terjadi pada tanggal 1 April 2010, 24 Maret 2010, 2 Agustus 2010 dan tiga kasus terjadi dalam tahun 2011 yakni 2 Februari 2011, 14 Januari 2011 dan 2 Mei 211.
Namun lanjutnya, dari enam kasus tersebut, Satpol PP belum mendapatkan informasi apakah kasus tersebut sudah dinyatakan P-21 atau belum. ()
 

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
61769 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas