Kamis, 3 September 2015

Belajar Bersastra dari Seorang Umbu

Minggu, 8 Mei 2011 03:44

Oleh WillemB Berybe

SEBUT  nama Umbu, paling tidak bagi masyarakat Flobamora, langsung teringat akan sebuah pulau yang terletak di selatan wilayah Propinsi NTT yaitu Sumba. Mengapa? Etnik Sumba dengan marga (fam) Umbu berasal dari sana. Dari sekian nama Umbu salah satunya adalah Umbu Landu Paranggi, pria kelahiran Sumba 10 Agustus 1943, dan dikenal sebagai penulis puisi Indonesia.

Majalah Sastra Horison edisi Tahun XXXX 1, 2006, No: T3.3 dalam rubrik khusus ‘Kaki Langit’ mengangkat sosok Umbu Landu Paranggi dengan sederetan puisinya yang khas seperti Ni Reneng (Denpasar, Oktober-November 1984), Sajak Kecil (1) & (2), Ibunda Tercinta (1965), Solitude, Melodi, Percakapan Selat, Sabana, Sajak, Di Sebuah Gereja Gunung.
Dari sajak-sajak itu berikut ulasan Korie Layun Rampan perihal seluk beluk kepenyairan Umbu Landu Paranggi semakin memperkuat pengetahuan dan pemahaman kita bahwa ia adalah salah satu sastrawan Indonesia.
“Sebagai penyair, Umbu memang tidak seterkenal Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra, Subagio Sastra Waroyo, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Darmanto Yt, Abdul Hadi WM, atau Afrizal Malna misalnya. Akan tetapi, perannya sebagai penyair yang turut melahirkan bakat-bakat baru membuatnya tak bisa dilupakan dalam pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia mutakhir,” demikian ungkapan Korrie seorang sastrawan, kritikus dan peneliti sastra Indonesia (ibid, Horison; Kaki Langit, hal.10).

Di sinilah faktor waktu dan ruang (lingkungan, konteks) ikut membentuk dan menentukan watak individu seorang penulis puisi. Tidak heran si Umbu pun harus keluar dari sarangnya di daratan Sumba dan pergi mencari alam, ruang, dan waktu, untuk terus berpuisi di tempat lain.

Bagi seorang Ajip Rosidi mengaku Jepang memberinya waktu menulis lebih banyak ketimbang Jakarta (Kompas, 31 Mei 2003). Demikian halnya Umbu Landu Paranggi tidak memilih Jakarta untuk dijadikan tempat ia berkarier, justru Bali  adalah ‘istana’ kehidupannya sebagai seorang sastrawan. Pulau Dewata ini begitu berperan dalam eksistensi kehidupan bersastra Umbu. Atas dasar itulah kelompok seniman sastra dan akademisi Denpasar pernah memberikan penghargaan kepada beliau atas dedika-sinya di bidang sastra di TBD (Taman Budaya Den-pasar), Bali 9 Juli 2009 lalu.

Apa yang telah dikemuka-kan oleh Korrie menunjukan bahwa kontribusi Umbu dalam percaturan puisi Indonesia tidak bisa disepe-lekan. Bahkan pengakuan Korrie sendiri menyebutkan Umbu sebagai bidan yang turut melahirkan dua angkatan sastra Indonesia modern yaitu Angkatan 80 dan Angkatan 2000 (ibid Horison, hal.13). Ketika kalangan sastrawan nasional menempatkan posisi Umbu sebagai bagian dari sastra Indonesia masa kini, maka dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT pun Umbu Landu Paranggi adalah sebuah legenda. ‘Ketersembunyian,’ diam dalam pengembaraan ibarat voice of the voiceless telah memperlihatkan potensi orang NTT dalam dunia seni sastra.

Boleh jadi banyak kalangan di NTT sendiri merasa asing dan jauh, siapa sebenarnya Umbu Landu Paranggi. Umbu yang menjadi besar dan berkibar sebagai penyair di luar NTT (Yogya dan Denpasar) sama sekali tidak mengecilkan esensi bumi Flobamora. Sebuah kawasan yang telah melahirkan seorang penyair yang dapat disejajarkan dengan Taufiq Ismail, Putu Wijaya, Danarto, Budi Darma, dll. Salah satu bukti keakraban dan relasi Umbu dengan  penyair nasional ialah puisi berjudul ‘Beri Daku Sumba’ secara khusus ditulis Taufiq Ismail buat sahabatnya ini.

Cikal bakal kepenyairan Umbu Landu Paranggi bermula dari Malioboro Yogya. Di tahun 60 hingga 70-an kompleks sepanjang Jalan Malioboro Yogya ini bagaikan sebuah panggung imajinasi bagi komunitas Umbu bersama pengikut-pengikutnya dalam sebuah perkumpulan bernama PSK (Persada Studi Klub). Tak peduli siapa dan darimana asal mereka, para peminat sastra itu digembleng, ditempa dan diberi pendidikan khusus menjadi penulis ala Umbu. Dari tangan seorang Umbu  munculah  penulis-penulis terkenal di kemudian hari seperti Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadib, Agus Darmawan T, Korrie Layun Rampan, Yudhistira ANM Massardi, Frans R Passandaran, dan lain-lain.

Halaman12
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas