30 Unit MCK Bantuan Unicef Tidak Jelas
ATAMBUA, PK –– Sebanyak 30 unit proyek mandi cuci kakus (MCK) bantuan Unicef tahun 2006/2007 dari total 60 MCK untuk sekolah-sekolah di Belu saat ini tidak jelas. MCK yang jelas pengerjaan fisiknya hanya sebanyak 42 unit. Sementara 30 unit lainnya laporannya selesai 100 persen. Padahal anggaran untuk proyek MCK ini berjumlah total Rp 3.061. 903.000. Ke depan kondisi seperti ini tidak boleh terjadi karena bantuan Unicef berupa MCK untuk memperbaiki pola hidup sehat bagi para siswa dan guru-guru di sekolah.
ATAMBUA, PK –– Sebanyak 30 unit proyek mandi cuci kakus (MCK) bantuan Unicef tahun 2006/2007 dari total 60 MCK untuk sekolah-sekolah di Belu saat ini tidak jelas. MCK yang jelas pengerjaan fisiknya hanya sebanyak 42 unit. Sementara 30 unit lainnya laporannya selesai 100 persen. Padahal anggaran untuk proyek MCK ini berjumlah total Rp 3.061. 903.000. Ke depan kondisi seperti ini tidak boleh terjadi karena bantuan Unicef berupa MCK untuk memperbaiki pola hidup sehat bagi para siswa dan guru-guru di sekolah.
Demikian dikatakan Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Wash in School tingkat Kabupaten Belu, Dr. Emanuel Ulu, M.Pd, saat kegiatan road show program Wash in School di Bappeda Belu, pekan lalu.
Emanuel mengungkapkan, kehadiran program Wash in school sesungguhnya sangat positif terhadap upaya mengubah perilaku hidup sehat. Di Kabupaten Belu, dari data yang ada menunjukkan untuk jenjang TK berjumlah 27 sekolah, SMP sebanyak 60 sekolah, SMA 21 sekolah dan SMK 11 sekolah. Dari sekolah yang ada, belum diketahui seperti apa kondisi MCK-nya, apakah bersih atau tidak. Ada indikasi, MCK di sekolah-sekolah masih jauh dari perhatian.
“Program Unicef peduli dimulai di Belu sejak tahun 2006/2007. Saat itu ada bantuan MCK kepada 60 sekolah dengan total dana Rp 3.061.903.000. Dari total sekolah itu, yang benar-benar ada bukti fisiknya sebanyak 42 MCK yang berfungsi baik, sementara 30 unit MCK tidak jelas. Pelaporan penggunaan keuangan terhadap 30 unit MCK itu 100 persen. Saya tidak tahu ke mana peruntukkan dananya,” ujar Emanuel.
Emanuel menilai, Unicef peduli pola hidup sehat para siswa dan guru. Untuk itu, ke depan dia minta kondisi yang pernah terjadi sebelumnya jangan lagi diulangi.
“Peluang itu biasanya datang satu kali. Saya minta supaya kalau nanti ada bantuan MCK lagi dari Unicef supaya kepala sekolah memilih tukang yang benar-benar bisa membaca gambar. Jangan gambar sudah ada tapi karena kepala sekolah mau cari sendiri maka cari tukang yang buta baca gambar. Akibatnya proyek MCK jadi mubazir,” kata Emanuel. (yon)