Selasa, 9 Juni 2026

Tombo Tura

SAYA menghabiskan masa kecil di Kampung Necak, Desa Compang Necak, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. Sebuah kampung dengan sejuta tradisi lisan. Sangat kental. Orangtuaku seorang guru sekolah dasar yang sederhana, menghuni kampung ini tahun 1963-1975.

Tayang:

Oleh Benny Dasman

SAYA menghabiskan masa kecil di Kampung Necak, Desa Compang Necak, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. Sebuah kampung dengan sejuta tradisi lisan. Sangat kental. Orangtuaku seorang guru sekolah dasar yang sederhana, menghuni kampung ini tahun 1963-1975.

Sebagai guru kelas, pada hari tertentu, ayahku mewajibkan saya dan teman-teman sekelas untuk mengarang lisan. Ya, mendongeng (Bahasa Manggarai: tombo tura). Berdiri satu per satu di depan kelas. Topik ceritanya ditentukan sendiri.

Tak berhenti di kelas. Ayahku menjadi pendongeng di rumah. Sebagai pengantar tidur, hampir setiap malam, saya dan adik-adiku mendengarkan ayah mendongeng. Aneka topik. Dongeng sang ayah, meski saat itu saya tak mengerti maknanya, berisikan kearifan lokal. Menakutkan. Misalnya, kalau makan sambil tidur akan mati diinjak kerbau. Atau kalau keluar rumah sore-sore akan hilang ditelan poti wolo. Selain berisi ajaran hubungan manusia dengan manusia, banyak pula yang berisi ajaran hubungan manusia dengan alam atau manusia dengan Tuhan. Muatan kearifan lokal dalam tradisi lisan itulah merupakan pelajaran tersembunyi. Belum banyak dipahami masyarakat luas.

Cerita lainnya, betapa masyarakat desa masih banyak yang 'mengkeramatkan' pohon beringin. Siapa pun orangnya, kalau menebang pohon itu, pasti mati. Bagi orang kota, itu mistik, bahkan dituduh syirik. Tetapi, menurut ilmu ekologi, terbukti  pohon beringin mempunyai banyak fungsi. Akar-akarnya menyimpan air sehingga banyak sumber air yang tumbuh beringin di dekatnya. Di tajuknya yang rimbun sesungguhnya merupakan habitat berbagai fauna yang nyaman. Itu salah satunya.

Dari cerita ayahku, kearifan tradisional juga mengajarkan bahwa menjelang panen padi perlu dilakukan ritual membakar dupa dan memberikan sesajen di pematang sawah. Ini bukan mistik. Tetapi asap dupa itu berfungsi mengusir hama padi. Pun aroma yang ditimbulkan oleh berbagai macam kembang, juga berfungsi sebagai biopestisida. Sedangkan sesajen berupa berbagai makanan  memang disediakan untuk tikus dan serangga yang biasa mengganggu petani.

Sebagian petani di Necak, ayahku bercerita mempunyai kebiasaan menyediakan irisan singkong rebus di pematang sawah menjelang panen. Singkong sebagai makanan pengganti agar tikus tak memangsa padi. Tetapi yang terjadi selama ini, pestisida dan pupuk kimia yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan, telah menjadi ketergantungan bagi petani.

Kebiasaan orang dulu menggunakan pupuk kandang sudah dilupakan. Bahwa hama belalang juga mampu diusir dengan bangkai kepiting sawah. Bahwa hama wereng sekalipun sanggup diatasi dengan menyediakan petromaks dan alas plastik yang dilapisi minyak goreng (atau cukup jelantah saja), diletakkan di tepi sawah saat menjelang maghrib. Maka serangga datang dengan sendirinya, menabrak lampu, dan jatuh terjerembab dalam lembaran plastik itu. Kesemuanya itu diajarkan sebagai tradisi lisan yang kutahu dari cerita sang ayah.

Dalam cerita rakyat, khayalan manusia memperoleh kebebasan  mutlak, karena di situ ditemukan hal-hal yang tidak masuk akal, dan tidak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Contoh, dari cerita ayahku, tentang bidadari turun dari langit, selendangnya dicuri seorang perjaka; seekor kancil  mampu menipu harimau; seorang anak durhaka kepada ibunya yang dikutuk menjadi batu; dan sebagainya.
Untuk memahami kebudayaan masyarakat pemilik/pendukung cerita, fenomena tersebut tidak kemudian dinilai apakah cerita yang disampaikan nyata atau tidak, tetapi harus dilihat bagaimana mitos itu bekerja mempengaruhi perilaku masyarakat. Peran penting cerita rakyat terletak pada kemampuannya mengomunikasikan tradisi, pengetahuan, dan adat-adat istiadat etnis tertentu. Atau menguraikan pengalaman-pengalaman manusia baik dalam dimensi perseorangan maupun sosial kepada etnis lain.

Suatu ketika, pada waktu liburan sekolah, saya dengan ayah, pergi ke Pota di pantai utara Matim, untuk membeli garam. Maklum dulu, garam jarang dijual dalam jumlah banyak. Untuk memenuhi kebutuhan setahun, kami harus membeli garam dalam jumlah banyak. Dibeli dua sampai tiga sokal.

Bagi masyarakat Pota, yang akrab dengan laut itu, ternyata banyak ditemukan kearifan lokal dalam berbagai tradisi lisan mereka. Dongeng tentang Putri Duyung misalnya, menyimpan kearifan lokal bagaimana menjaga kelestarian laut dan ikan.
Ada juga kepercayaan bahwa di antara mereka adalah saudara kembar ikan-ikan tertentu di laut. Sehingga mereka tak sembarangan menangkap ikan, dan harus melakukan sesajian, berupa memberikan makanan ke laut.  Juga dipercaya bahwa jumlah daun-daun di hutan itu sama dengan jumlah ikan di lautan. Maka menjaga laut dan kelestarian hutan adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Karenanya diyakini mengasingkan tradisi lisan membuat masyarakat memangsa dirinya sendiri.


Anggapan bahwa tombo tura sekadar pengantar tidur adalah salah kaprah. Perlu diluruskan. Tombo tura, salah satu bentuk tradisi lisan, merupakan potensi budaya yang masih terabaikan. Diyakini bahwa tradisi lisan dapat menjadi kekuatan kultural dan salah satu sumber utama yang penting dalam pembentukan identitas dan membangun peradaban. Tradisi lisan merupakan salah satu deposit kekayaan untuk dapat menjadi unggul dalam ekonomi kreatif. Tetapi realitanya, kita semua belum menghargai tradisi lisan sebagaimana seharusnya? Tombo tura, tradisi lisan nusantara selain puisi, syair, pantun, dan teater, justru semakin berjarak dengan masyarakat.

Posisi tradisi lisan masih terpinggirkan. Potensinya masih terabaikan. Dan, masih banyak yang menganggap sebagai peninggalan masa lalu. Kuno. Cukup menjadi kenangan manis belaka. Tradisi lisan seolah-olah tidak relevan dengan kehidupan modern. Kemajuan teknologi ternyata tidak disikapi secara arif sehingga semakin meminggirkan kearifan tradisi lisan.

Keluarga manakah yang masih tombo tura untuk anak-anak mereka? Banyak orangtua menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak-anak kepada baby sitter. Lebih banyak lagi, dalam kesehariannya, tak dapat menghindar dari dominasi siaran televisi. Barangkali itu menjadi persoalan orang kota. Sebab, kenyataannya, di sebagian masyarakat lain, tombo tura diyakini memiliki nilai pendidikan, pesan moral atau norma bermasyarakat yang dipatuhi bersama. Misalnya, dalam tatanan tradisi lisan di Manggarai masih diceritakan tombo tura yang keutamannya berbau mistis sehingga orang enggan melakukan sesuatu yang dilarang publik.

Di daerah  pesisir, misalnya, ada dongeng tentang poti wolo (setan yang dilukiskan sebagai manusia raksasa) penjaga laut. Dongeng ini menceritakan agar siapa pun, termasuk mereka yang tinggal di pesisir, jangan berbuat aneh terhadap laut seperti membom ikan. Bagi yang melanggar diyakini dimakan poti wolo.

Dulu, dongeng ini sangat 'keramat' sehingga laut dan komunitasnya tetap lestari. Dongeng yang sama untuk menjaga hutan. Melalui dongeng itu diyakini hutan ada penjaganya, yaitu poti wolo hutan. Dampaknya, orang takut merambah hutan agar tidak ditelan poti wolo. Dan, poti wolo tampil sebagai sosok yang mengkeramatkan laut dan hutan. Sekarang dongeng-dongeng seperti ini masih diceritakan orangtua, namun tidak sesering dulu sebagai pengantar tidur.

Tombo tura mempunyai 'kekuatan' mendidik masyarakat, seperti tidak merusak alam, jika maknanya dihayati secara proporsional. Semakin banyak cerita rakyat dipatrikan sebagai awasan etika masyarakat, seseorang semakin kaya pengetahuan akan kebudayaan melampaui batas ruang dan waktu. Yang perlu dilakukan adalah upaya menegosiasikan cerita rakyat sebagai warisan lokal dengan global melalui penyesuaian-penyesuaian sehingga tradisi lisan menjadi produk budaya yang dinamis. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved